Kieran Trippier: Championship Lebih Berat dari Premier League
admin
Kieran Trippier angkat bicara dan meluruskan semua kabar yang beredar soal kepindahannya ke Wolves. Baru selesai latihan dengan mengenakan perlengkapan klub dari ujung kepala hingga kaki, ia mengaku tidak menduga Rob Edwards dipecat hanya tiga hari setelah kontraknya ditandatangani. Padahal, Edwards adalah manajer yang disebutnya sebagai salah satu alasan utama bersedia turun kasta ke Championship.
Momen itu tentu mengejutkan banyak pihak, apalagi klub saat itu sedang mempercepat proses negosiasi dengan pengganti Edwards, César Peixoto. Namun pengalaman panjang Trippier di sepak bola Inggris dan Eropa membuatnya mampu bersikap tenang. Ia pernah memperkuat Burnley, Tottenham, Atlético Madrid, dan Newcastle United, serta menjadi langganan timnas Inggris di empat turnamen besar.
Kejutan Rob Edwards di Hari-Hari Awal Trippier di Wolves
Wawancara ini merupakan wawancara eksternal pertama Trippier sejak resmi bergabung dengan Wolves. Kontraknya berlaku dua tahun dengan opsi perpanjangan satu musim. Sebelum memutuskan pindah, ia sempat menggali informasi dari Tommy Doyle, Conor Coady, John Ruddy, dan Sam Johnstone, rekan-rekan yang dikenalnya dan sempat berlibur bersama di Turki.
Namun tak ada satu pun yang bisa memprediksi pemecatan Edwards. Kabar itu muncul sebulan setelah André memperpanjang komitmennya di klub, dan hanya 48 jam setelah Raúl Jiménez kembali memperkuat skuad. Suasana positif yang sempat terbangun ikut terusik, tetapi Trippier memilih tetap fokus.
“Saya tidak akan berbohong, saya tidak menduganya,” ujarnya. “Tetapi itu keputusan klub, dan saya di sini untuk bermain untuk Wolves.” Saat rumor menyebutnya ingin merobek kontrak, Trippier menegaskan kabar itu tidak benar dan tidak berasal darinya. Ia justru menantikan hari pertama pramusim setelah berlibur dan berlatih di Mallorca bersama anak-anaknya.
Perjalanan Karier Kieran Trippier Sebelum ke Molineux
Karier Trippier nyaris tak pernah lepas dari sorotan dan trofi. Di Newcastle United, ia menjadi bagian penting kebangkitan tim di bawah Eddie Howe hingga mengangkat Piala Carabao musim lalu. Sebelumnya, ia sempat menjuarai La Liga bersama Atlético Madrid asuhan Diego Simeone dan menembus final Liga Champions bersama Tottenham era Mauricio Pochettino.
Juara Carabao Cup bersama Newcastle United
Juara La Liga bersama Atlético Madrid
Finalis Liga Champions bersama Tottenham Hotspur
Tampil di empat turnamen besar bersama timnas Inggris, termasuk final Euro 2024
Kepindahan ke Wolves tentu bukan kelanjutan yang natural. Alih-alih menjamu Barcelona di St James’ Park seperti tahun lalu, Oktober nanti ia akan menghadapi Bolton di Molineux. Meski begitu, Trippier tidak merasa malu: “Saya tidak malu pergi ke Championship karena saya sudah bermain di liga ini bertahun-tahun.”
Keputusan ini diambilnya setelah berbicara panjang dengan Eddie Howe dan direktur olahraga Newcastle, Ross Wilson. Ada beberapa klub yang berminat, tetapi faktor kedekatan dengan anak-anak menjadi pertimbangan utama. Trippier sendiri berdomisili di Manchester dan menegaskan bahwa ia ingin mencoba tantangan baru.
Championship Itu Tanpa Ampun, Sangat Berbeda dengan Premier League
Trippier bukan pemain yang asing dengan kerasnya Championship. Ia pernah menjadi bagian Burnley yang menang 2-1 atas Wolves pada laga kedua terakhir musim 2012-13, hasil yang memastikan Burnley selamat dari degradasi dan nyaris membuat Wolves jatuh ke League One. Pengalaman itu kini ia bagikan kepada rekan setimnya yang belum pernah merasakan kompetisi ini.
“Saya sudah bicara dengan rekan-rekan setim karena mayoritas dari mereka belum pernah bermain di Championship,” ungkap Trippier. Menurutnya, penting bagi para pemain yang sudah berpengalaman untuk membantu mereka memahami kerasnya liga ini. Ia menegaskan bahwa Championship itu tanpa ampun (relentless) dan sepenuhnya berbeda dengan Premier League.
Ia memberi contoh laga tandang ke Lincoln yang akan menjadi ujian berat. Meski begitu, Trippier optimistis rekan-rekannya seperti Tommy Doyle dan Adam Armstrong mau mendengarkan nasihatnya. “Mereka pemain yang bagus dan sudah mendengarkan saya. Kami akan siap,” katanya.
César Peixoto dan Target Besar Wolves Musim Ini
César Peixoto mungkin masih asing di mata penggemar, tetapi Trippier mengaku sudah memahami reputasi pelatih asal Portugal itu. Musim lalu Peixoto menangani Gil Vicente dan kini dipercaya meneruskan pekerjaan Edwards. Fasihnya bahasa Inggris Peixoto membuat Trippier tak perlu memakai bahasa Spanyol untuk berkomunikasi.
Apa kesan Trippier tentang Peixoto? “Sangat menuntut, jujur, dan di lapangan latihan kecepatannya 100mph. Gilanya dalam arti positif, tetapi dia benar-benar menuntut dan itu yang kami butuhkan jika ingin sukses,” ujarnya. Trippier menyebut gaya Peixoto mirip Pochettino dan Simeone yang sama-sama keras. “Dia punya aturan sendiri: jangan ingkar kepercayaan, jangan datang terlambat. Saya tidak ingin berada di sisi buruknya,” katanya.
Trippier, yang akan berusia 36 tahun pada September nanti, mengaku masih berada dalam kondisi terbaik. Kecepatannya memang sudah menurun, tetapi ia mengandalkan kecerdasan membaca permainan. “Saya merasa masih punya banyak tahun tersisa di karier saya,” ujar pemain yang kini masuk dalam kelompok kepemimpinan Peixoto itu.
Ia juga sempat memuji Mateus Mané, bakat muda yang pernah ia jaga saat Newcastle bersua Wolves musim lalu. Kehadiran Kieran Trippier sendiri disebutnya mirip dengan kepindahannya ke Newcastle dari Atlético Madrid: banyak yang mengangkat alis, tetapi ia tak pernah menyesal. “Sepanjang karier saya, saya tidak pernah menyesali keputusan apa pun,” tegasnya.
Legasi Eddie Howe, Keajaiban Messi, dan Mentalitas Trippier
Di luar urusan Wolves, Trippier turut memberi penghormatan kepada Eddie Howe yang meninggalkan Newcastle setelah empat setengah tahun. Menurutnya, Howe berhasil menjaga Newcastle di Premier League, dua kali membawa tim ke Liga Champions, dan memenangi trofi. Namun yang terpenting, Howe menyambungkan kembali hubungan suporter dengan tim, persis seperti yang dilakukan Gareth Southgate bersama Inggris.
Saat ditanya apakah Howe layak mendapat patung, Trippier tersenyum. “Dia sudah memenangi trofi, bukan? Tetapi itu bukan untuk saya putuskan. Parade juara dan spanduk besar bergambar manajer menunjukkan besarnya cinta suporter kepadanya.” Ia mengaku sedih melihat kepergian Howe dan yakin mantan manajernya itu akan tercatat dalam sejarah Newcastle.
Trippier juga angkat bicara soal kekalahan Inggris dari Argentina di semifinal Piala Dunia, ketika lini belakang jebol di menit akhir. Ia mengaku pernah mengalami situasi serupa berkali-kali bersama Simeone di Atlético, yang menurutnya adalah master dari seni bertahan dan mengunci pertandingan. Dia juga membela Thomas Tuchel, yang sudah terbukti memenangi Liga Champions bersama Chelsea dan sukses di Bayern Munich.
Soal Lionel Messi, Trippier mengaku sering menghadapinya dan tahu betul keajaibannya. “Dia bisa berjalan santai selama 60 menit, tetapi kemudian mencetak hat-trick. Itulah keajaibannya,” ujarnya. Ia menyebut Messi sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa yang bisa mengubah jalannya pertandingan kapan saja.
Kembali ke Wolves, Trippier sadar timnya akan menjadi sasaran semua lawan karena statusnya sebagai tim yang baru terdegradasi dari Premier League. “Semua mata akan tertuju pada kami di laga melawan Blackburn. Musim lalu berat, tetapi ini musim baru, seperti reset,” ujarnya. Ia mengajak rekan-rekannya melupakan masa lalu dan fokus ke depan.
Target Wolves musim ini jelas: langsung kembali ke Premier League. Dengan pengalaman dan kepemimpinan Kieran Trippier, harapan itu bukan sesuatu yang mustahil. Kini tinggal bagaimana Peixoto meramu strategi dan para pemain menjawab tantangan di kompetisi yang tanpa ampun.
Kieran Trippier angkat bicara dan meluruskan semua kabar yang beredar soal kepindahannya ke Wolves. Baru selesai latihan dengan mengenakan perlengkapan klub dari ujung kepala hingga kaki, ia mengaku tidak menduga Rob Edwards dipecat hanya tiga hari setelah kontraknya ditandatangani. Padahal, Edwards adalah manajer yang disebutnya sebagai salah satu alasan utama bersedia turun kasta ke Championship.
Momen itu tentu mengejutkan banyak pihak, apalagi klub saat itu sedang mempercepat proses negosiasi dengan pengganti Edwards, César Peixoto. Namun pengalaman panjang Trippier di sepak bola Inggris dan Eropa membuatnya mampu bersikap tenang. Ia pernah memperkuat Burnley, Tottenham, Atlético Madrid, dan Newcastle United, serta menjadi langganan timnas Inggris di empat turnamen besar.
Kejutan Rob Edwards di Hari-Hari Awal Trippier di Wolves
Wawancara ini merupakan wawancara eksternal pertama Trippier sejak resmi bergabung dengan Wolves. Kontraknya berlaku dua tahun dengan opsi perpanjangan satu musim. Sebelum memutuskan pindah, ia sempat menggali informasi dari Tommy Doyle, Conor Coady, John Ruddy, dan Sam Johnstone, rekan-rekan yang dikenalnya dan sempat berlibur bersama di Turki.
Namun tak ada satu pun yang bisa memprediksi pemecatan Edwards. Kabar itu muncul sebulan setelah André memperpanjang komitmennya di klub, dan hanya 48 jam setelah Raúl Jiménez kembali memperkuat skuad. Suasana positif yang sempat terbangun ikut terusik, tetapi Trippier memilih tetap fokus.
“Saya tidak akan berbohong, saya tidak menduganya,” ujarnya. “Tetapi itu keputusan klub, dan saya di sini untuk bermain untuk Wolves.” Saat rumor menyebutnya ingin merobek kontrak, Trippier menegaskan kabar itu tidak benar dan tidak berasal darinya. Ia justru menantikan hari pertama pramusim setelah berlibur dan berlatih di Mallorca bersama anak-anaknya.
Perjalanan Karier Kieran Trippier Sebelum ke Molineux
Karier Trippier nyaris tak pernah lepas dari sorotan dan trofi. Di Newcastle United, ia menjadi bagian penting kebangkitan tim di bawah Eddie Howe hingga mengangkat Piala Carabao musim lalu. Sebelumnya, ia sempat menjuarai La Liga bersama Atlético Madrid asuhan Diego Simeone dan menembus final Liga Champions bersama Tottenham era Mauricio Pochettino.
Kepindahan ke Wolves tentu bukan kelanjutan yang natural. Alih-alih menjamu Barcelona di St James’ Park seperti tahun lalu, Oktober nanti ia akan menghadapi Bolton di Molineux. Meski begitu, Trippier tidak merasa malu: “Saya tidak malu pergi ke Championship karena saya sudah bermain di liga ini bertahun-tahun.”
Keputusan ini diambilnya setelah berbicara panjang dengan Eddie Howe dan direktur olahraga Newcastle, Ross Wilson. Ada beberapa klub yang berminat, tetapi faktor kedekatan dengan anak-anak menjadi pertimbangan utama. Trippier sendiri berdomisili di Manchester dan menegaskan bahwa ia ingin mencoba tantangan baru.
Championship Itu Tanpa Ampun, Sangat Berbeda dengan Premier League
Trippier bukan pemain yang asing dengan kerasnya Championship. Ia pernah menjadi bagian Burnley yang menang 2-1 atas Wolves pada laga kedua terakhir musim 2012-13, hasil yang memastikan Burnley selamat dari degradasi dan nyaris membuat Wolves jatuh ke League One. Pengalaman itu kini ia bagikan kepada rekan setimnya yang belum pernah merasakan kompetisi ini.
“Saya sudah bicara dengan rekan-rekan setim karena mayoritas dari mereka belum pernah bermain di Championship,” ungkap Trippier. Menurutnya, penting bagi para pemain yang sudah berpengalaman untuk membantu mereka memahami kerasnya liga ini. Ia menegaskan bahwa Championship itu tanpa ampun (relentless) dan sepenuhnya berbeda dengan Premier League.
Ia memberi contoh laga tandang ke Lincoln yang akan menjadi ujian berat. Meski begitu, Trippier optimistis rekan-rekannya seperti Tommy Doyle dan Adam Armstrong mau mendengarkan nasihatnya. “Mereka pemain yang bagus dan sudah mendengarkan saya. Kami akan siap,” katanya.
César Peixoto dan Target Besar Wolves Musim Ini
César Peixoto mungkin masih asing di mata penggemar, tetapi Trippier mengaku sudah memahami reputasi pelatih asal Portugal itu. Musim lalu Peixoto menangani Gil Vicente dan kini dipercaya meneruskan pekerjaan Edwards. Fasihnya bahasa Inggris Peixoto membuat Trippier tak perlu memakai bahasa Spanyol untuk berkomunikasi.
Apa kesan Trippier tentang Peixoto? “Sangat menuntut, jujur, dan di lapangan latihan kecepatannya 100mph. Gilanya dalam arti positif, tetapi dia benar-benar menuntut dan itu yang kami butuhkan jika ingin sukses,” ujarnya. Trippier menyebut gaya Peixoto mirip Pochettino dan Simeone yang sama-sama keras. “Dia punya aturan sendiri: jangan ingkar kepercayaan, jangan datang terlambat. Saya tidak ingin berada di sisi buruknya,” katanya.
Trippier, yang akan berusia 36 tahun pada September nanti, mengaku masih berada dalam kondisi terbaik. Kecepatannya memang sudah menurun, tetapi ia mengandalkan kecerdasan membaca permainan. “Saya merasa masih punya banyak tahun tersisa di karier saya,” ujar pemain yang kini masuk dalam kelompok kepemimpinan Peixoto itu.
Ia juga sempat memuji Mateus Mané, bakat muda yang pernah ia jaga saat Newcastle bersua Wolves musim lalu. Kehadiran Kieran Trippier sendiri disebutnya mirip dengan kepindahannya ke Newcastle dari Atlético Madrid: banyak yang mengangkat alis, tetapi ia tak pernah menyesal. “Sepanjang karier saya, saya tidak pernah menyesali keputusan apa pun,” tegasnya.
Legasi Eddie Howe, Keajaiban Messi, dan Mentalitas Trippier
Di luar urusan Wolves, Trippier turut memberi penghormatan kepada Eddie Howe yang meninggalkan Newcastle setelah empat setengah tahun. Menurutnya, Howe berhasil menjaga Newcastle di Premier League, dua kali membawa tim ke Liga Champions, dan memenangi trofi. Namun yang terpenting, Howe menyambungkan kembali hubungan suporter dengan tim, persis seperti yang dilakukan Gareth Southgate bersama Inggris.
Saat ditanya apakah Howe layak mendapat patung, Trippier tersenyum. “Dia sudah memenangi trofi, bukan? Tetapi itu bukan untuk saya putuskan. Parade juara dan spanduk besar bergambar manajer menunjukkan besarnya cinta suporter kepadanya.” Ia mengaku sedih melihat kepergian Howe dan yakin mantan manajernya itu akan tercatat dalam sejarah Newcastle.
Trippier juga angkat bicara soal kekalahan Inggris dari Argentina di semifinal Piala Dunia, ketika lini belakang jebol di menit akhir. Ia mengaku pernah mengalami situasi serupa berkali-kali bersama Simeone di Atlético, yang menurutnya adalah master dari seni bertahan dan mengunci pertandingan. Dia juga membela Thomas Tuchel, yang sudah terbukti memenangi Liga Champions bersama Chelsea dan sukses di Bayern Munich.
Soal Lionel Messi, Trippier mengaku sering menghadapinya dan tahu betul keajaibannya. “Dia bisa berjalan santai selama 60 menit, tetapi kemudian mencetak hat-trick. Itulah keajaibannya,” ujarnya. Ia menyebut Messi sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa yang bisa mengubah jalannya pertandingan kapan saja.
Kembali ke Wolves, Trippier sadar timnya akan menjadi sasaran semua lawan karena statusnya sebagai tim yang baru terdegradasi dari Premier League. “Semua mata akan tertuju pada kami di laga melawan Blackburn. Musim lalu berat, tetapi ini musim baru, seperti reset,” ujarnya. Ia mengajak rekan-rekannya melupakan masa lalu dan fokus ke depan.
Target Wolves musim ini jelas: langsung kembali ke Premier League. Dengan pengalaman dan kepemimpinan Kieran Trippier, harapan itu bukan sesuatu yang mustahil. Kini tinggal bagaimana Peixoto meramu strategi dan para pemain menjawab tantangan di kompetisi yang tanpa ampun.
AUTHOR
admin