,

Arsenal Tanpa Kemenangan WSL, Slegers di Ujung Tanduk


Arsenal kembali gagal meraih kemenangan di Women’s Super League setelah hanya bermain imbang melawan Birmingham di Emirates Stadium. Gol penyama kedudukan dari Olivia Smith memang menyelamatkan tim dari kekalahan, tetapi hasil ini memperpanjang tren buruk Arsenal tanpa kemenangan WSL dalam lima pertandingan beruntun. Peluit akhir bahkan disambut suara boo dari sebagian pendukung di tribun, sebuah sinyal jelas bahwa kesabaran mulai menipis.

Hasil imbang ini terasa jauh lebih berat daripada sekadar kehilangan dua poin. Arsenal kini baru mengumpulkan enam poin dari enam laga dan terpuruk di posisi kedelapan, sembilan poin di belakang pemuncak klasemen Manchester City yang bahkan masih menyimpan satu pertandingan. Kombinasi antara catatan buruk di atas kertas dan tekanan langsung dari tribun membuat posisi Renée Slegers sebagai pelatih Gunners menjadi sorotan utama.

Jalannya Laga: Hurtré Membuka, Smith Menyelamatkan Arsenal

Birmingham membuka keunggulan tepat di awal babak kedua lewat aksi Océane Hurtré. Pemain itu berlari dari garis tengah tanpa mendapat pengawalan berarti, lalu dengan tenang menyelesaikan peluang menjadi gol. Kelengahan lini belakang Arsenal dalam mengantisipasi serangan balik cepat menjadi awal dari masalah yang harus mereka kejar sepanjang sisa pertandingan.

Sebelum itu, Arsenal sebenarnya mendominasi jalannya pertandingan. Alessia Russo nyaris mencetak gol melalui sundulan menyelam yang membentur kerangka gawang, salah satu dari sekian banyak peluang yang mereka ciptakan. Kiper Birmingham, Sophie Baggaley, menjadi penjaga gawang yang paling sibuk sepanjang laga karena harus berulang kali mementahkan ancaman tuan rumah.

Harapan Arsenal akhirnya hidup pada menit ke-66 melalui tembakan spektakuler Smith yang melengkung dari luar kotak penalti. Sayangnya, gol tersebut tidak berbuah kemenangan karena upaya tuan rumah untuk menambah gol terus gagal. Kombinasi antara penampilan apik Baggaley dan penyelesaian akhir yang kurang tajam membuat Birmingham pulang dengan satu poin yang mereka perjuangkan sejak awal.

Rekor Terburuk Arsenal di Sepanjang Sejarah WSL

Hasil imbang melawan Birmingham bukan sekadar catatan minor, melainkan rekor kelam bagi klub. Arsenal kini menjalani lima pertandingan WSL tanpa kemenangan, yang merupakan rentetan terpanjang sepanjang sejarah mereka berkompetisi di liga tersebut. Padahal, klub dengan tradisi sebesar Arsenal biasanya selalu berada di papan atas dan bersaing ketat dalam perburuan gelar.

Dengan enam poin dari enam pertandingan, posisi mereka di klasemen saat ini sangat jauh dari ekspektasi. Mereka menempati peringkat kedelapan, tertinggal sembilan poin dari Manchester City yang memimpin klasemen dan masih memiliki satu pertandingan lebih sedikit. Selisih sebesar itu di awal musim memaksa Arsenal untuk segera bangkit jika tidak ingin ambisi mereka di kompetisi domestik sirna terlalu cepat.

Tekanan untuk Renée Slegers dan Suara Boo di Emirates

Hasil ini disebut tidak banyak meredakan kekhawatiran terhadap masa depan Slegers sebagai pelatih Arsenal. Suara boo yang mengiringi peluit akhir menjadi gambaran nyata bahwa sebagian pendukung mulai mempertanyakan arah tim. Slegers sendiri mengakui bahwa situasi yang dihadapi timnya bukan hal baru dan sudah terlalu sering terjadi musim ini.

Pelatih asal Belanda itu menyoroti kurangnya kreativitas tim di babak pertama sebagai akar masalah. Ia menilai babak kedua berjalan berbeda, tetapi menegaskan bahwa ada satu pemain yang seharusnya dihentikan, yaitu Hurtré, yang justru lolos melalui serangan balik cepat dan tidak mampu diantisipasi lini belakang dengan baik. Pernyataan tersebut secara tidak langsung menjadi kritik terhadap disiplin taktik dan ketenangan pemainnya saat kehilangan bola.

Meski begitu, Slegers tetap mencoba mengambil sisi positif dari penampilan timnya. Ia memuji urgensi, kemauan, dan hasrat yang ditunjukkan para pemain di babak kedua. Menurutnya, tim selalu berusaha bangkit setelah kemunduran, tetapi ia juga sadar bahwa kebiasaan mengejar ketertinggalan menguras energi dan seharusnya tidak terjadi terus-menerus.

Kegagalan Penyelesaian Akhir yang Berulang

Persoalan Arsenal bukan hanya soal mental, tetapi juga efektivitas di depan gawang. Sejumlah peluang emas yang tercipta, termasuk peluang Russo di babak pertama, tidak berbuah gol. Statistik peluang memang berpihak pada tuan rumah, tetapi dalam sepak bola modern dominasi tanpa penyelesaian yang klinis tidak berarti apa pun di papan skor.

Di sisi lain, Birmingham menunjukkan bahwa bertahan dengan disiplin dan memanfaatkan momen transisi bisa menjadi senjata ampuh. Baggaley tampil sebagai pemimpin di lini belakang dan berulang kali menggagalkan upaya Arsenal. Pola permainan seperti ini memperlihatkan bahwa tim-tim di WSL kini semakin siap menahan tekanan dan menghukum tim besar yang lengah.

Bagi Arsenal, catatan ini menjadi peringatan bahwa kualitas individu saja tidak cukup. Tim perlu menemukan cara untuk lebih efisien dalam memanfaatkan peluang, sekaligus lebih rapat saat kehilangan penguasaan bola. Tanpa perbaikan di kedua sisi tersebut, tren tanpa kemenangan berpotensi terus berlanjut.

Derby London Utara Jadi Ujian Berikutnya

Pekan depan, Arsenal akan menghadapi Tottenham dalam derby London utara, salah satu laga paling bergengsi bagi pendukung kedua klub. Tottenham sendiri akan lebih dulu bertandang ke Chelsea pada Minggu dalam posisi keempat di klasemen. Konteks ini membuat derby nanti kian menarik karena kedua tim sama-sama tengah mencari konsistensi.

Slegers memilih tidak larut dalam tekanan dan menyebut pertandingan berikutnya sebagai peluang baru. Ia menekankan bahwa timnya akan terus melangkah dan berusaha bangkit dari setiap kemunduran. Namun, ia juga mengingatkan bahwa Arsenal harus bisa menempatkan diri di posisi yang lebih baik sejak awal agar tidak terus-menerus memainkan skenario mengejar ketertinggalan.

Dukungan suporter menjadi faktor yang tetap dipegang para pemain. Smith menegaskan bahwa para pendukung selalu memberikan sokongan besar dan kehadiran mereka di stadion sangat berarti bagi tim. Ia mengakui bahwa hasil buruk pasti membuat fans kecewa, tetapi ia menilai loyalitas mereka tidak berubah dan tetap bertahan bersama tim.

Penutup

Arsenal tanpa kemenangan WSL dalam lima laga beruntun dan hanya mengumpulkan enam poin dari enam pertandingan. Gol Olivia Smith memang menyelamatkan mereka dari kekalahan atas Birmingham, tetapi tidak menghapus suara boo di Emirates maupun pertanyaan besar soal masa depan Renée Slegers. Kegagalan penyelesaian akhir dan lemahnya antisipasi terhadap serangan balik menjadi dua persoalan utama yang harus segera dibenahi.

Derby London utara melawan Tottenham pekan depan akan menjadi ujian sekaligus peluang untuk mengubah arah musim. Jika tren buruk ini berlanjut, tekanan terhadap tim dan pelatih hanya akan semakin besar. Sebaliknya, satu kemenangan di laga sebesar derby bisa menjadi titik balik yang dibutuhkan Arsenal untuk kembali menapaki jalur yang seharusnya.