,

Tebas vs Real Madrid Memanas Gara-Gara Goebbels


Real Madrid kembali menuntut Javier Tebas mundur dari kursi presiden La Liga. Permintaan itu muncul setelah Tebas menyamakan upaya klub membangun opini negatif terhadap wasit dengan teknik propaganda Nazi Jerman, sehingga perseteruan Tebas vs Real Madrid kembali memanas dan menjadi sorotan publik sepak bola Spanyol. Desakan tersebut disampaikan klub melalui pernyataan resmi yang menilai Tebas tidak layak lagi memimpin kompetisi.

Ketegangan ini bukan yang pertama terjadi. Tebas dan Presiden Real Madrid, Florentino Pérez, sudah beberapa kali berselisih selama bertahun-tahun, dan isu yang paling sering muncul adalah soal perlakuan wasit terhadap Madrid. Bagi Madrid, ini menyangkut integritas kompetisi, sedangkan bagi Tebas, persoalannya adalah narasi yang dibangun klub terhadap institusi yang ia pimpin.

Kritik Tebas dan Perbandingan dengan Goebbels

Tebas melontarkan serangan itu melalui unggahan panjang di media sosial pada Jumat. Ia mengkritik cara saluran televisi milik Madrid menyebut wasit telah merugikan peluang klub untuk meraih kemenangan. Kanal tersebut secara rutin menayangkan kumpulan rekaman yang menurut penilaiannya merupakan kesalahan besar dari para pengadil lapangan yang akan memimpin pertandingan Madrid berikutnya, klub yang telah 15 kali menjuarai Eropa itu.

Dalam unggahannya, Tebas menyandingkan taktik tersebut dengan metode yang digunakan Joseph Goebbels, menteri propaganda Nazi Jerman pada masa Perang Dunia II. Menurutnya, ada pola yang selalu berulang dalam narasi yang dibangun Madrid. Ia menulis bahwa jajaran eksekutif Real Madrid memiliki “orkestra corong” dan klub itu berada di barisan paling depan.

“Naskahnya selalu sama: memilih momen yang menguntungkan mereka, mengulang dugaan tindakan yang merugikan, meningkatkan kecurigaan, dan menyebut siapa musuhnya. Ini mengingatkan pada teknik propaganda yang dipakai Goebbels,” kata Tebas dalam unggahan tersebut. Ia lantas menegaskan bahwa yang ia bandingkan adalah tekniknya, bukan ideologinya, dan sama sekali bukan para pendukung Madrid. Klarifikasi itu tampaknya diberikan untuk menepis tafsir bahwa ia menyamakan klub dengan Nazi Jerman, meski pernyataannya tetap memicu reaksi keras.

Latar Belakang Perseteruan Tebas vs Real Madrid

Madrid merespons melalui pernyataan resmi yang menilai Tebas tidak layak memegang jabatan sebagai perwakilan klub-klub elite Spanyol. Klub juga menuntut yang bersangkutan segera mengundurkan diri dari posisinya. Menurut Madrid, rekam jejak Tebas menunjukkan sikap yang jauh dari netral dan tidak menghormati pihak lain.

“Perilaku Javier Tebas yang berulang menunjukkan minimnya netralitas, rasa hormat, dan imparsialitas yang tidak kompatibel dengan tanggung jawab institusionalnya,” demikian bunyi pernyataan klub. Madrid menambahkan bahwa serangan terus-menerus terhadap Real Madrid serta terhadap pihak-pihak yang menuntut transparansi dan regenerasi merupakan “momok nyata bagi sepak bola Spanyol”.

Ini bukan pertama kalinya Madrid meminta Tebas mundur. Pada September lalu, klub melayangkan tuntutan serupa setelah Tebas mengkritik Madrid karena menyerang tim wasit dalam kekalahan 2-1 di markas Atlético Madrid. Pelatih José Mourinho juga menyuarakan keluhan bahwa Madrid, pemegang rekor 36 gelar juara Liga Spanyol, kerap dirugikan oleh keputusan wasit.

Dalam pernyataan Jumat tersebut, Madrid kembali mengangkat keluhan bahwa Tebas dinilai belum berbuat cukup terkait penyelidikan yudisial yang masih berjalan atas dugaan pembayaran Barcelona kepada seorang pejabat di komite wasit federasi sepak bola Spanyol. Isu ini menjadi salah satu titik gesekan paling sensitif antara klub dan penyelenggara liga. Madrid menjadikannya bagian dari alasan mengapa mereka menilai Tebas tidak layak melanjutkan jabatannya.

Dampak dan Arti Perseteruan bagi Sepak Bola Spanyol

Perseteruan terbuka seperti ini memberi tekanan langsung pada posisi Tebas sebagai orang nomor satu di La Liga. Setiap pernyataannya kini dibaca bukan hanya sebagai pandangan pribadi, tetapi juga sebagai sikap lembaga yang ia pimpin. Ketika klub sebesar Madrid secara terbuka menyebutnya tidak netral, pertanyaan soal independensi pengelola liga otomatis menguat.

Yang paling terdampak dalam jangka pendek adalah kepercayaan terhadap wasit. Kritik yang disalurkan lewat kanal resmi klub membuat isu kepemimpinan pertandingan berpindah dari ranah teknis ke ranah opini publik. Akibatnya, keputusan wasit tidak lagi dinilai semata berdasarkan aturan permainan, tetapi juga dikaitkan dengan dugaan keberpihakan yang sulit dibuktikan.

Bagi klub-klub lain di Liga Spanyol, langkah Madrid ini bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, tuntutan transparansi mendapat dukungan karena banyak pihak juga menginginkan tata kelola liga yang lebih bersih. Di sisi lain, konflik yang berlarut-larut berpotensi memecah hubungan antara klub dan penyelenggara kompetisi yang setiap pekan harus bekerja sama.

Konteks Lebih Luas: Sanksi FIFA dan Langkah Federasi ke CAS

Di luar polemik tersebut, federasi sepak bola Spanyol (RFEF) tengah bersiap membawa perkaranya ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Langkah itu diambil setelah FIFA menolak banding mereka atas sanksi yang dijatuhkan terkait nyanyian bernuansa islamofobia oleh sebagian pendukung. Penolakan banding tersebut membuat federasi harus mencari jalur hukum lain di luar mekanisme banding FIFA.

FIFA menjatuhkan denda 20.000 dolar AS (sekitar 15.000 poundsterling) dan memerintahkan penutupan sedikitnya 15 persen dari kapasitas kursi yang tersedia pada laga persahabatan kandang Spanyol berikutnya. Insiden itu terjadi di RCDE Stadium, markas klub La Liga Espanyol di kawasan Barcelona. Dalam laga pemanasan menuju Piala Dunia yang berakhir 0-0 melawan Mesir pada Maret lalu, sebagian pendukung meneriakkan nyanyian “kalau kamu tidak melompat, kamu Muslim”.

RFEF berargumen bahwa kata “Muslim” dalam konteks tersebut tidak bersifat menghina maupun merendahkan. Federasi menilai perilaku pendukung seharusnya dinilai menggunakan Pasal 17 statuta FIFA, yang mengatur pesan-pesan bersifat politis, ideologis, religius, atau ofensif, bukan Pasal 15 yang menangani diskriminasi dan pelecehan rasial. Perbedaan dasar hukum inilah yang menjadi inti dari upaya banding mereka.

Namun komite disiplin FIFA menolak argumen itu. Menurut komite, Pasal 15 tidak mensyaratkan adanya penghinaan yang diucapkan secara eksplisit. Sebuah istilah dapat dinilai diskriminatif ketika dipakai dalam konteks tertentu sebagai penghinaan, ejekan, atau penanda rendahnya status seseorang. Karena itu, banding federasi Spanyol akhirnya dinyatakan tidak dapat diterima.

Tekanan yang Belum Berakhir

Tekanan terhadap Tebas kini datang dari beberapa arah sekaligus: klub yang menuntut mundurnya, sorotan atas gaya komunikasinya di media sosial, serta isu penanganan kasus Barcelona yang terus dibawa Madrid. Bagi Madrid, permintaan mundur ini hanyalah babak terbaru dari rangkaian panjang ketidaksepahaman dengan pengelola liga. Sementara itu, di ranah federasi, upaya membawa perkara ke CAS menunjukkan bahwa sengketa dengan FIFA juga belum menemukan titik akhir.

Yang jelas, perseteruan Tebas vs Real Madrid menyisakan pertanyaan besar soal bagaimana lembaga pengelola liga seharusnya bersikap terhadap klub anggotanya. Selama kedua pihak bertahan pada posisinya masing-masing, isu ini kemungkinan masih akan menjadi bahan pembicaraan hangat di sepak bola Spanyol dalam waktu dekat. Publik pun menanti apakah gelombang desakan kali ini akan berujung pada perubahan di kursi kepemimpinan La Liga atau justru mereda seperti periode-periode sebelumnya.