,

Sportswashing di Piala Dunia: Kisah Sponsorship Aramco yang Mencemari Sepak Bola


Ketika Raksasa Minyak Menguasai Sepak Bola Dunia

Jika Anda menonton Piala Dunia, pasti melihat papan besar bertuliskan “Aramco – energy partner” di pinggir lapangan. Perusahaan minyak asal Arab Saudi ini ternyata adalah pencemar korporasi terbesar di dunia. Sementara itu, negaranya sendiri selama puluhan tahun menjadi penghambat utama dalam negosiasi perubahan iklim internasional. Sportswashing di Piala Dunia lewat sponsorship Aramco menjadi salah satu wajah baru FIFA yang membuat banyak penggemar geram.

Hubungan erat antara sepak bola modern dan industri polutif sebenarnya bukan hal baru. Sejarah panjang ini bisa dibagi ke dalam tiga periode besar yang membentuk wajah sepak bola seperti sekarang.

Periode Pertama: Sepak Bola sebagai Alat Industri Kolonial

Pada abad ke-19, sepak bola tumbuh di masyarakat Inggris sebagai alat untuk mengatur dan mendisiplinkan buruh. Undang-Undang Pabrik 1850 memberikan hak kepada pekerja untuk libur Sabtu sore mulai pukul 14.00 – inilah asal muasal kick-off tradisional pukul 15.00. Industrialisme, militerisme, dan kolonialisme Eropa kemudian mengekspor sepak bola ke seluruh dunia. Permainan ini menyebar dari Inggris dan Skotlandia ke kawasan industri Perancis timur laut, Jerman barat laut, serta pelabuhan-pelabuhan di Italia, Portugal, Spanyol, Argentina, Uruguay, dan Brasil.

Pada masa itu, sepak bola menjadi budaya ekspor Kekaisaran Inggris dan kapitalisme. Kompetisi terstruktur lahir berkat kebutuhan akan ketertiban dan disiplin yang dibawa oleh industrialisasi.

President Donald Trump and Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman tour the King Abdulaziz International Conference Center, in Riyadh, Saudi Arabia, Tuesday, May 13, 2025. (AP Photo/Alex Brandon)

Periode Kedua: Era Profesionalisme dan Keterkaitan dengan Industri Mobil

Memasuki pascaperang, sepak bola diprofesionalkan dan didominasi klub-klub dari kota industri. Juventus, misalnya, memiliki ikatan erat dengan Fiat, sementara Wolfsburg terhubung langsung dengan Volkswagen. Regulasi ekonomi saat itu membuat sepak bola elit pria lebih merata dibanding sekarang. Di Eropa, setelah dominasi awal Real Madrid, Milan, Inter, dan Benfica, muncul masa “Eurosclerosis” – penurunan standar permainan dan final Piala Eropa diikuti klub kecil dari kota kecil seperti Malmö.

Ketimpangan ini menantang klub-klub besar. Mereka mulai mendorong perubahan kompetisi dan menginginkan kekuasaan lebih besar di liga masing-masing, terutama di Inggris, Italia, dan Spanyol.

Periode Ketiga: Globalisasi dan Masuknya Investasi Minyak

Dengan berdirinya Liga Champions dan Premier League pada awal 1990-an, sepak bola semakin mengglobal. Era ini membuka peluang bagi investasi fossil capital, yang cenderung menguntungkan klub-klub besar di kota-kota paling menarik. Tahun 1990-an melahirkan sembilan juara klub Eropa dari sembilan kota berbeda. Namun setelah itu, hanya tiga klub yang mampu menembus level elit tanpa menjadi bagian dari 14 klub elite yang mendorong ekspansi Liga Champions di akhir 1990-an. Ketiga klub itu adalah Chelsea (Roman Abramovich), Manchester City (Sheikh Mansour dari keluarga kerajaan Uni Emirat Arab), dan Paris Saint-Germain (Qatar Sports Investments, anak perusahaan pemerintah Qatar).

Saat ini, satu-satunya cara klub masuk ke level elite sepak bola pria Eropa adalah melalui investasi dari negara petro-dollar. Hal ini semakin mengunci intensitas karbon olahraga ini dan menanamkan bahan bakar fosil sebagai bagian krusial dari budaya terbesar di dunia. Sportswashing di Piala Dunia menjadi alat untuk membenarkan penundaan transisi hijau.

Mengapa Sportswashing Begitu Efektif?

Fosil capital tetap kuat meski sebagian besar orang kini paham bahwa bahan bakar fosil mendorong perubahan iklim dan mengancam peradaban. Agar bisa menunda transisi hijau, perusahaan minyak perlu membuat produknya menjadi “kejahatan yang diperlukan” – begitu tertanam sehingga kita tidak bisa membayangkan hidup, apalagi hidup yang menyenangkan, tanpa mereka. Di sinilah peran FIFA dan sepak bola menjadi sangat penting.

Setiap petrostate atau raja minyak yang membeli klub, setiap acara atau klub yang disponsori perusahaan fosil, setiap logo maskapai penerbangan di jersey pemain favorit kita – semuanya membuat dominasi fossil capital semakin mengakar. Semakin sulit membayangkan sepak bola tanpa mereka.

Kesimpulan: Jangan Percaya Narasi “Tak Ada Pilihan Lain”

Aramco membeli hak sponsor Piala Dunia untuk menjual gagasan bahwa kita tidak punya pilihan selain terus membakar bahan bakar fosil. Padahal, kita punya pilihan. Sportswashing di Piala Dunia hanya topeng untuk mempertahankan status quo. Saat kita mencintai sepak bola, kita diajak menerima “kejahatan yang diperlukan” ini agar pertandingan tetap berlangsung meriah. Tapi jangan beli narasi itu. Sepak bola bisa tetap indah tanpa harus dikotori oleh industri yang merusak planet kita.