,

Gol Menit 90, Ipswich Kalahkan Crystal Palace 3-2


Ipswich Town kalahkan Crystal Palace dengan skor dramatis 3-2 di Selhurst Park, Sabtu sore, lewat gol kemenangan Zian Flemming pada menit ke-90. Gol tersebut lahir dari bola muntahan setelah sundulan melengkung Leif Davis membentur mistar gawang, dan Flemming bergerak lebih sigap dibanding kiper Walter Benítez untuk menyelesaikan peluang. Laga yang berjalan bolak-balik ini menyuguhkan lima gol, satu kartu merah, serta sejumlah peluang emas yang gagal dimaksimalkan kedua pihak.

Kemenangan ini punya makna tersendiri bagi manajer Ipswich, Gary O’Neil. Pria asal Beckenham yang mengaku sebagai pendukung Millwall dan memiliki anak yang menimba ilmu di akademi Crystal Palace itu sebelumnya hanya mengumpulkan satu poin dari lima kunjungannya ke Selhurst Park sebagai manajer. Karena itulah ia merayakan gol Flemming dengan antusiasme yang tidak berbeda dari para suporter Ipswich yang menempuh perjalanan jauh ke London selatan.

Jalannya Laga: Ipswich Kalahkan Crystal Palace Lewat Drama Lima Gol

Crystal Palace sebenarnya lebih dulu memegang kendali. Kiper Ipswich, Kjell Scherpen, sangat beruntung karena umpan salahnya langsung mengarah ke Adam Wharton, kapten pengganti Palace, namun tembakan Wharton justru melenceng meski gawang sudah nyaris kosong. Tiga menit setelah peluang terbuang itu, tuan rumah memetik keunggulan lewat Anan Khalaili yang mencetak gol pertamanya untuk Palace, memanfaatkan situasi ketika Ipswich kehilangan bola secara ceroboh di lini tengah dan Daichi Kamada mengirim umpan yang diselesaikan Khalaili lewat tembakan yang membentur Davis.

Ipswich tidak butuh waktu lama untuk membalas. O’Neil kembali mendapat harapan ketika Davis melepaskan umpan silang yang disambut Emersonn untuk menyamakan kedudukan. Pada proses terjadinya gol tersebut, para bek Palace sempat berhenti sepersekian detik karena menilai Davis sudah berada dalam posisi offside sebelum bola dikirim.

Petaka kemudian menimpa tuan rumah. Axel Disasi menerjang Jack Clarke secara sembarangan dan stud-nya mengenai bagian tepat di bawah lutut lawan, sehingga wasit Chris Kavanagh tidak punya pilihan selain mengusirnya dari lapangan. Bermain dengan sepuluh orang, Pierre Sage menarik gelandang kreatif utamanya, Yéremy Pino, dan memasukkan bek tambahan Takehiro Tomiyasu. Keputusan itu justru mendorong Ipswich semakin menekan, dan gol kedua mereka menjelang turun minum lahir dari keberuntungan: umpan silang Dara O’Shea mengenai bahu Emersonn, lalu bola mengarah tepat ke Davis yang menyundulnya masuk.

Kartu Merah Disasi dan Keputusan Kontroversial Pierre Sage

Kartu merah Disasi menjadi titik balik yang mengubah arah pertandingan. Sebelum insiden itu, Palace masih mengendalikan permainan, tetapi kehilangan satu pemain membuat struktur pertahanan mereka goyah dan memberi ruang lebih luas bagi Ipswich untuk mendikte tempo. Hukuman tersebut juga memperlihatkan bahwa disiplin menjadi persoalan serius bagi Palace di laga ini.

Palace juga sangat merindukan kapten mereka, Dean Henderson, yang absen karena cedera. Tanpa kehadirannya, lini belakang tuan rumah tampak kurang tenang menghadapi tekanan, dan penggantinya, Benítez, berada dalam sorotan akibat kesalahan yang berujung pada gol kemenangan Flemming. Situasi ini menambah daftar persoalan yang harus segera dibenahi Sage jika ingin Palace keluar dari tekanan.

Sage bahkan kemungkinan menyesali sikap tegasnya sebelum laga. Ia mencoret Jaydee Canvot dari skuad pertandingan karena apa yang disebutnya sebagai “keputusan sportif”, setelah tidak puas dengan performa bek muda itu selama sesi latihan. Di sisi lain, ada kabar baik bagi Palace dalam bentuk penampilan menjanjikan Honest Ahanor, pemain berusia 18 tahun yang menjalani debutnya dan tampil cukup baik di tengah situasi sulit.

Babak Kedua: Kebangkitan Sepuluh Pemain Palace

Sage terlihat tidak senang saat kembali muncul untuk babak kedua. Meski demikian, sepuluh pemain Palace yang tersisa mampu membangkitkan diri, dan Quinten Timber dua kali nyaris mencetak gol dalam upaya membawa tuan rumah kembali ke pertandingan. Tekanan yang mereka bangun akhirnya membuahkan hasil ketika laga menyisakan sekitar lima belas menit.

Jørgen Strand Larsen menjadi pencetak gol penyama kedudukan tersebut. Kamada kembali berperan sebagai arsitek dengan umpan cerdik yang memungkinkan penyerang asal Norwegia itu menahan gempuran Issa Diop sebelum melewati Scherpen. Gol itu sejenak mengembalikan harapan Palace untuk setidaknya mengamankan satu poin di kandang sendiri.

Namun harapan itu buyar beberapa menit berselang. Khalaili membuang peluang emas untuk mencetak gol kedua sekaligus membawa Palace kembali unggul, dan ia sempat menutup wajah dengan kedua tangan setelah gagal memaksimalkan gawang yang sudah terbuka. Kelalaian itulah yang terbukti menentukan, karena Flemming, pemain yang masuk dari bangku cadangan, kemudian memastikan poin penuh bagi Ipswich.

Reaksi O’Neil dan Sage Usai Laga

O’Neil menegaskan bahwa lokasi kemenangan bukan hal penting baginya. “Saya tidak peduli di mana saya menang, yang penting saya menang,” ujarnya merujuk pada akhir rentetan hasil buruknya di Selhurst Park. Ia juga menyebut periode terakhir sebagai masa terbaik dalam kariernya, baik ketika masih bermain maupun saat menangani tim. “Ini empat bulan terbaik dalam karier saya, bermain atau melatih. Saya menyukainya, setiap menitnya. Para pemain memberikan segalanya,” katanya.

Pelatih itu juga mengakui bahwa timnya tidak selalu akan meraih kemenangan. “Kami akan kalah di beberapa laga, tetapi kami akan memberikan segalanya saat kalah,” tambah O’Neil. Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatannya yang menuntut totalitas dari skuad, apa pun hasil akhirnya.

Dari kubu Palace, Sage berbicara soal keputusannya mencoret Canvot. “Saya butuh lebih banyak darinya dan saya yakin dia mampu memberikannya,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa otoritas pribadinya bukan hal yang ia khawatirkan. “Saya tidak peduli dengan otoritas saya. Saya ingin para pemain tampil 100 persen dari kemampuan mereka. Dan ketika mereka memberi kurang dari itu, saya harus mengguncang mereka,” tegasnya.

Dampak dan Konteks Lebih Luas di Papan Klasemen

Kemenangan ini memperkuat kesan bahwa Ipswich jauh lebih siap bertahan di Premier League dibanding dua tahun lalu, ketika mereka hanya mampu mengumpulkan 22 poin. Kedalaman skuad menjadi salah satu alasan utama, karena Flemming merupakan pemain terakhir dari 14 rekrutan musim panas dalam belanja rekor senilai £190 juta untuk ukuran tim promosi. Investasi besar itu tampak mulai berbuah pada momen-momen krusial seperti gol menit ke-90 ini.

Sebaliknya, masalah pertahanan menjadi momok bagi kedua tim. Palace belum pernah mencatatkan satu pun clean sheet di Premier League sejak April, sementara Ipswich sudah kebobolan 58 gol dalam 23 pertandingan sejak terakhir kali mencatatkan clean sheet pada Desember 2024. Kedua tim juga sama-sama kebobolan delapan gol dari tiga laga pembuka, sehingga wajar jika laga ini berjalan terbuka dan rawan gol.

Bagi Palace, kekalahan ini menorehkan catatan yang tidak menyenangkan. Mereka kalah pada dua laga kandang pembuka Premier League untuk pertama kalinya sejak 2018, sekaligus menjadi tim dengan jumlah kebobolan terbanyak di kompetisi musim ini. Tekanan terhadap Sage pun diprediksi meningkat, terlebih keputusan-keputusan personalnya mulai disorot publik.

Di sisi lain, perjalanan Ipswich masih akan diuji oleh lawan-lawan yang lebih berat. Namun modal berupa kemenangan dramatis di kandang tim yang sedang terpuruk bisa menjadi suntikan moral penting, terutama bagi pemain seperti Flemming yang membuktikan diri mampu menjadi penentu dari bangku cadangan.

Kesimpulan

Laga di Selhurst Park berakhir dengan kemenangan 3-2 Ipswich berkat gol Zian Flemming pada menit ke-90, setelah Crystal Palace harus bermain dengan sepuluh orang menyusul kartu merah Axel Disasi. Kombinasi keberuntungan, ketenangan di momen krusial, dan kedalaman skuad membuat Ipswich kalahkan Crystal Palace, sekaligus mengakhiri catatan buruk Gary O’Neil di stadion tersebut. Sementara bagi Palace, kekalahan ini menambah panjang daftar pekerjaan rumah di lini pertahanan dan memperbesar tekanan pada Pierre Sage.