,

Zohran Mamdani dan Sentuhan Ajaibnya di Piala Dunia Kota New York


Suasana Piala Dunia yang Hidup di New York

Matahari senja yang menawan perlahan tenggelam di balik Union City pada Rabu malam. Meski sedikit menyilaukan layar raksasa yang dipasang untuk nonton bareng Brasil vs Skotlandia di Hudson River Park, suasana Piala Dunia di New York malam itu tetap terasa sempurna. Sekelompok penggemar Brasil dengan seragam kuning kenari dan ikat kepala bertuliskan “100% Jesus” sudah bergoyang samba, apalagi tim mereka menang 3-0 dengan nyaman. Tapi lebih dari itu, inilah momen indah yang hanya bisa ditemukan saat Zohran Mamdani dan timnya sukses membawa semarak Piala Dunia ke seluruh penjuru kota.

Bagi saya yang sudah menyaksikan delapan edisi Piala Dunia, pemutaran layar lebar di tepi Sungai Hudson ini terasa istimewa. Angin sepoi-sepoi dari sungai, ditambah hiruk-pikuk Times Square yang dipenuhi suporter Jerman dan Ekuador, menciptakan pengalaman yang tak kalah magis dari Marseille, Seoul, Cape Town, atau Rio de Janeiro. New York mungkin satu-satunya kota di dunia di mana Piala Dunia bisa luput dari perhatian sebagian orang, namun bagi banyak warganya, turnamen ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan—terutama setelah parade kemenangan Knicks usai.

Warga Menyambut Antusias Piala Dunia

George Crabtree dari Brooklyn mengaku senang melihat keramaian di Times Square. “Melihat para penggemar dari berbagai negara sangat mengasyikkan,” katanya. Christian Parelli, seorang guru dari New Jersey yang sudah lama menggemari sepak bola, menikmati bangkitnya minat kota terhadap olahraga ini. “Menyenangkan melihat euforia sepak bola,” ujarnya. “Ini saat yang tepat bagi olahraga di sini, dengan Stanley Cup, kesuksesan Knicks, dan tentunya Piala Dunia.”

Namun, ketika ditanya apakah New York benar-benar terjangkit demam Piala Dunia, satu nama yang kerap disebut bukanlah Lionel Messi, melainkan Zohran Mamdani. Aditya Shetty, pekerja IT yang juga penggemar Arsenal seperti Mamdani, mengatakan, “Rasanya memang seperti itu, apalagi dengan keterlibatan Walikota Mamdani sebagai tuan rumah bagi banyak orang. Cara dia berbicara menunjukkan bahwa dia sudah lama mengikuti sepak bola dan benar-benar ingin negara ini merangkul turnamen itu serta membuat semua orang merasa diterima karena dia sendiri mencintai olahraga ini.”

Zohran Mamdani: Wajah Piala Dunia yang Inklusif

Laleh Emadi, pekerja kesehatan yang bukan penggemar berat sepak bola, mengaku sepenuhnya terlibat dalam semarak Piala Dunia kali ini. “Kebersamaan saat menonton pertandingan membuat saya makin bersemangat,” katanya. “Saya rasa kota ini sudah melakukan pekerjaan luar biasa dalam mengajak warga keluar rumah. Walikota memberikan berbagai kiat, termasuk paket makanan dan minuman dengan harga terjangkau untuk menonton Piala Dunia. Dia benar-benar merangkul acara ini atas nama kota.”

Keberhasilan Zohran Mamdani juga ditopang oleh tren olahraga yang sedang memihaknya. Dua tim favoritnya baru saja meraih gelar juara dalam beberapa pekan terakhir: Knicks merebut gelar NBA pertama mereka sejak 1973, dan Arsenal memenangkan Premier League setelah 22 tahun. Bahkan orang Eropa pun mengakui bahwa Mamdani benar-benar memahami sepak bola. Ia hadir di mana-mana—di pertandingan, membagikan peringatan cuaca, berkomentar dengan pengetahuan mendalam tentang hasil pertandingan. Namun yang paling menonjol adalah kemampuannya memanfaatkan ajang ini untuk menyampaikan pesan politik tanpa terkesan kaku. Ini mengingatkan pada pernyataan mantan perdana menteri Inggris Harold Wilson tentang Piala Dunia 1966: “Pernahkah Anda perhatikan bahwa Inggris hanya pernah menang Piala Dunia di bawah pemerintahan Partai Buruh?” Semua politisi memanfaatkan momen Piala Dunia, namun Mamdani jauh lebih terampil dibanding kebanyakan.

Kontras dengan Infantino dan Trump

Bagi pengamat luar, Mamdani tampil sebagai wajah Amerika Serikat yang idealis—versi negara yang dulu diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Ketika pemerintahan federal sibuk mengeluarkan larangan perjalanan, Mamdani mengunggah video sambutan penuh gaya untuk Kota New York, menonjolkan reputasinya sebagai kota imigran, dan diakhiri dengan kalimat: “Selamat datang di rumah!”

Sementara Presiden FIFA Gianni Infantino berargumen bahwa wajar jika penggemar membayar mahal untuk tiket di pasar AS, Mamdani berhasil mengamankan tiket seharga $50 untuk warga New York. Ketika FIFA memutuskan botol air tidak boleh dibawa masuk ke stadion—sebuah langkah untuk memaksimalkan keuntungan dari minuman stadion yang mahal—Mamdani-lah yang angkat bicara, bukan Donald Trump, hingga aturan itu diubah. Dan ketika New Jersey Transit awalnya mengumumkan tiket kereta seharga $150 menuju Stadion MetLife, Mamdani bersama Gubernur New York Kathy Hochul menyediakan bus antar-jemput seharga $20.

Biaya Mahal Jadi Keluhan Utama

Soal biaya memang menjadi keluhan terbesar di acara nonton bareng. Crabtree berkata, “Itu satu-satunya masalah, kami berharap harganya lebih murah.” Parelli menambahkan, “Terlalu mahal, terutama bagi warga lokal. Jika saya menang undian tiket mungkin saya bisa pergi, tapi praktis kami sudah tersingkirkan.” Jika para profesional muda di New York saja sudah merasa tersisih, maka ada yang busuk di kerajaan FIFA. Hal ini justru mempertegas kontras antara Mamdani dan Infantino dalam upaya menjadikan Piala Dunia sebagai ajang untuk semua orang. (FIFA mengklaim keuntungan Piala Dunia akan disalurkan ke akar rumput sepak bola.)

Meskipun intervensi-intervensi ini mungkin belum membuat perbedaan besar, keuntungan PR bagi Mamdani sudah jelas. Ketika pemerintahan Trump mengancam akan membanjiri New York dengan petugas Imigrasi dan Bea Cukai, Mamdani mengartikulasikan semangat Piala Dunia dengan tegas dan tulus.

“Piala Dunia seharusnya menjadi perayaan dunia secara keseluruhan,” kata Mamdani. “Dan beberapa keputusan yang diambil pemerintah federal sangat bertentangan dengan apa yang seharusnya menjadi turnamen ini. Kami ingin turnamen ini mencerminkan komitmen kami bahwa kami adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kami sendiri, yaitu pertandingan dunia yang harus diikuti oleh semua orang.”

Jules Rimet, tokoh idealis Perancis yang mendirikan Piala Dunia sebagai sarana mempersatukan bangsa, tidak akan bisa mengatakannya dengan lebih baik. Namun kini, tugas mengungkapkan makna terbaik Piala Dunia jatuh ke tangan seorang warga New York.

Kepiawaian Orasi Mamdani

Sejujurnya, tak banyak yang bisa menyaingi Mamdani dalam hal pidato, termasuk Infantino. Gaya bicaranya seolah kryptonite milenial melawan sterilitas Generasi X. Bagi yang tidak terbiasa dengan retorikanya, melihat irama dan ritme bicaranya di parade Knicks sungguh menakjubkan. Bukan hanya karena ia pandai mengartikulasikan momen dan menyatukan warga New York, tetapi juga kemampuannya menyelipkan tema-tema progresif tanpa terlihat memaksakan diri.

Sejauh ini, Piala Dunia hampir tanpa kehadiran Trump—kontras sekali dengan Mamdani yang hadir di mana-mana. Memang presiden memiliki lebih banyak urusan, namun ia sempat hadir di pertandingan Knicks saat final NBA, di mana ia mendapat cemoohan. Risiko itu mungkin akan diambilnya lagi di final, di mana Infantino mengumumkan bahwa ia dan Trump akan bersama-sama menyerahkan trofi.

Intervensi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk memastikan ibu penjaga gawang Cape Verde, Vozinha, mendapat visa menonton putranya, serta pelonggaran pembatasan perjalanan bagi Iran, tampaknya menandakan bahwa beberapa orang di pemerintahan Trump sadar mereka tertinggal tiga gol dari Mamdani di Piala Dunia ini. Namun, mungkin pelatih USMNT Mauricio Pochettino dan Folarin Balogun masih bisa menyelamatkan hari bagi Trump: seorang pekerja migran Latino dan seorang Inggris-Nigeria yang klaim paspor AS-nya berasal dari hak kewarganegaraan berdasarkan kelahiran.

Kesimpulan: Mamdani, Simbol Piala Dunia yang Merakyat

Dari tiket murah hingga transportasi terjangkau, dari sambutan hangat bagi imigran hingga kritik terhadap kebijakan FIFA, Zohran Mamdani telah membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar walikota biasa. Ia berhasil memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk menyatukan warganya, memperjuangkan aksesibilitas, dan menunjukkan bahwa turnamen global ini bisa menjadi milik semua orang. Di tengah komersialisasi dan politik kekuasaan, Mamdani muncul sebagai sosok yang membawa kembali semangat asli Piala Dunia: persatuan, kegembiraan, dan keterbukaan. New York mungkin tidak akan melupakan perannya dalam Piala Dunia ini, dan begitu pula dunia.