,

Thomas Tuchel dan Timnas Inggris: Siap Melangkah Jauh di Piala Dunia, Namun Ancaman Kegagalan Menanti


Dari Mimpi Buruk Islandia ke Harapan Baru

Sepuluh tahun lalu, tepatnya pada Juni 2016, Thomas Tuchel mungkin masih menonton dari kejauhan saat timnas Inggris menelan kekalahan memalukan dari Islandia di Euro 2016. Gol Kolbeinn Sigthórsson yang meluncur di bawah celah tangan Joe Hart, Wayne Rooney yang gigih di lini tengah, Harry Kane yang mengambil tendangan sudut, dan konferensi pers muram Roy Hodgson menjadi potret nyata betapa rendahnya posisi Inggris saat itu. Kini, dengan Tuchel di pucuk pimpinan, atmosfernya benar-benar berbeda.

Sebelum Gareth Southgate datang, ekspektasi memang sangat minim. Inggris harus bangkit perlahan, langkah demi langkah, sampai akhirnya bisa kembali menjadi penantang serius. Kemenangan adu penalti atas Kolombia di babak 16 besar Piala Dunia 2018 dianggap sebagai pencapaian besar karena itu adalah kemenangan pertama dalam babak gugur dalam 12 tahun. Kini, dengan Tuchel yang dikenal sebagai spesialis turnamen, tantangannya jauh lebih berat.

Ekspektasi Tinggi di Pundak Tuchel

Ketika Southgate mundur setelah kalah di final Euro 2024, FA langsung mencari pelatih elite. Dua perusahaan data eksternal membantu pencarian, dan salah satu faktor yang membuat Thomas Tuchel terpilih adalah bukti statistik bahwa ia akan memberikan Inggris keunggulan di pertandingan knockout. Targetnya jelas: menempatkan bintang kedua di seragam Inggris di Piala Dunia.

Namun, perjalanan tak semulus yang dibayangkan. Meski Jude Bellingham dan Harry Kane tampil tajam di lini depan, masih banyak titik lemah yang harus diperbaiki. Bek kanan Tuchel dilanda krisis cedera: Reece James bermasalah dengan paha, Jarell Quansah mengalami keseleo pergelangan kaki. Ada juga dilema apakah harus menyimpan Bukayo Saka (cedera Achilles) atau memainkannya langsung melawan Republik Demokratik Kongo (RDC) di babak 32 besar.

Ujian Berat Melawan RDC

Pertandingan melawan RDC di Atlanta, Rabu sore, menjadi ujian nyata bagi Tuchel. Tim besutan Sébastien Desabre dikenal tangguh dan suka memainkan blok rendah. Mereka sukses menahan imbang Portugal di fase grup. Jika Inggris terpeleset, Tuchel bisa menghadapi aib yang tak ingin diingat siapa pun. Padahal, Inggris belum pernah kalah dari tim Afrika di Piala Dunia, tapi hasil imbang atau kekalahan akan dianggap bencana.

Tuchel sendiri sadar bahwa kemenangan 2-0 atas Panama pekan lalu tidak membuat publik bergairah. “Saya justru menyambut ekspektasi yang meningkat,” ujarnya. “Ini saat yang tepat bagi saya untuk menunjukkan kemampuan.”

Pelajaran dari Masa Lalu: Kegagalan Itu Wajar

Tuchel mengingatkan bahwa setiap atlet besar pasti pernah mengalami kekalahan berat. Ia menyebut tayangan dokumenter Netflix tentang Rafael Nadal: “Saya pikir dia selalu menang setiap tahun. Tapi ternyata ada cedera, kekalahan besar, keraguan, malam tanpa tidur. Bekas luka itu adalah bagian dari perjalanan.”

Bahkan laga uji coba melawan Selandia Baru sebulan lalu yang berakhir 1-0 membuat Tuchel bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah saya cukup baik? Apakah saya sudah benar?” Kegigihan semacam inilah yang membedakan yang terbaik dari yang lain.

Rekor Knockout Tuchel yang Mengesankan

Rekor Tuchel di babak gugur level klub sungguh impresif: rasio kemenangan 74%. Ia membawa Chelsea juara Liga Champions 2021, tiga final piala domestik, serta trofi Piala Dunia Antarklub. Dengan Borussia Dortmund dan PSG, ia juga meraih piala domestik. “Saya sangat suka momen-momen seperti ini,” kata Tuchel. Tapi ia juga memberikan peringatan: melawan RDC, kesabaran adalah kuncinya. Inggris harus siap menghadapi pertahanan rapat dan serangan balik cepat.

Persiapan Adu Penalti: Dari Mimpi Buruk ke Program Khusus

Salah satu aspek yang paling dipersiapkan Tuchel adalah adu penalti. Ia menceritakan pengalaman pahit di final Piala Jerman pertamanya bersama Dortmund melawan Bayern Munich. Saat itu ia lupa menyiapkan adu penalti. “Kami akhirnya bertanya ke pemain: ‘Kamu mau menendang? Kamu mau?’ Mereka siap, tapi kami tidak. Kami kalah. Itu adalah luka yang sangat dalam.”

Sejak saat itu, Tuchel membangun program penalti sendiri. Kini, dengan dukungan FA, ia memiliki program tingkat tinggi. “Kami sudah latihan, ada proses yang jelas, kami siap. Tapi itu bukan jaminan menang. Saya pernah mengalami adu penalti gila. Ini contoh bahwa terkadang Anda harus mengalami pengalaman menyakitkan untuk jadi lebih baik.”

Kesimpulan: Harapan Tanpa Pararel dengan Islandia

Sepuluh tahun setelah kehancuran melawan Islandia, Inggris kini menatap Piala Dunia dengan optimisme yang lebih realistis. Thomas Tuchel membawa pendekatan analitis, mentalitas pemenang, dan pengalaman di panggung terbesar. Tapi satu langkah salah — melawan RDC misalnya — bisa mengingatkan semua orang pada aib masa lalu. Tuchel dan timnya harus memastikan bahwa tidak ada who will draw parallels with Iceland again.

Dengan kombinasi bakat muda seperti Bellingham, Saka, dan Gordon, serta kejelian taktik Tuchel, Inggris punya modal besar. Tapi keyakinan dan eksekusi di lapangan adalah segalanya. Kini, kita tunggu apakah Inggris bisa benar-benar melaju jauh atau justru kembali menuai kekecewaan.