,

Suporter Muslim Manchester United Desak Jim Ratcliffe Mundur


Suporter Muslim Manchester United yang tergabung dalam Manchester United Muslim Supporters’ Club (MUMSC) menuntut salah satu pemilik klub, Sir Jim Ratcliffe, mundur dari jabatannya. Desakan itu muncul setelah Ratcliffe melontarkan pernyataan yang dinilai “sama sekali tidak dapat diterima” dalam sebuah wawancara dengan BBC. Dalam wawancara tersebut, taipan asal Inggris itu menggambarkan negaranya tengah mengalami kemunduran dibandingkan masa ketika Inggris disebut memiliki “imperium terbesar di dunia”.

Seruan mundur itu disampaikan MUMSC melalui unggahan di platform X yang mereka sebut sebagai “pernyataan tidak percaya” terhadap struktur kepemilikan klub saat ini. Sikap tersebut menandai babak baru ketegangan antara kelompok suporter dan pemilik Manchester United, yang sepanjang tahun ini memang berulang kali berselisih soal kebijakan klub maupun pernyataan publik para petingginya. Karena itu, langkah MUMSC terbaca bukan sebagai reaksi spontan semata, melainkan puncak dari kekecewaan yang sudah lama menumpuk.

Suporter Muslim Manchester United Keluarkan Pernyataan Tidak Percaya

Dalam pernyataannya, MUMSC menegaskan bahwa Manchester United dibangun oleh orang-orang dari latar belakang yang sangat beragam. Mereka menyoroti bahwa pemain, staf, steward, tim keamanan, hingga suporter klub berasal dari berbagai negara, budaya, etnis, agama, dan latar belakang yang berbeda. Menurut kelompok itu, tanpa keberagaman tersebut, Manchester United tidak akan pernah menjadi Manchester United seperti yang dikenal sekarang.

MUMSC juga menyentuh soal siapa sebenarnya yang berhak merasa memiliki klub secara emosional. Mereka menyatakan bahwa Manchester United tidak dimiliki secara emosional oleh dana investasi, pemegang saham, maupun miliarder mana pun. Pernyataan ini secara tidak langsung menyoroti jarak antara pemilik klub yang berorientasi bisnis dan basis pendukung yang mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai klub.

Lebih jauh, MUMSC menyinggung rekam jejak kepemilikan saat ini yang mereka nilai gagal memenuhi janji. Setelah bertahun-tahun kemunduran, janji yang tidak ditepati, dan kegagalan yang berulang, kelompok itu menyatakan telah kehilangan kepercayaan pada struktur kepemilikan Manchester United Football Club. Mereka menutup pernyataan dengan kalimat tegas: sudah cukup, saatnya berubah, dan keluarga Glazer bersama Sir Jim Ratcliffe harus pergi.

Isi Komentar Ratcliffe dalam Wawancara dengan BBC

Kontroversi ini bermula dari wawancara Ratcliffe dalam program Big Boss Interview milik BBC News. Dalam kesempatan itu, ia menilai Inggris sedang mengalami kemunduran. Ia mengenang masa ketika negaranya disebut sebagai imperium terbesar di dunia, memiliki bangsa yang hebat, memenangi dua perang dunia, dan dikenal sebagai masyarakat yang baik serta jujur. Namun menurutnya, kondisi saat ini berbeda karena Inggris sedang “tergelincir” dan sulit melihat bagaimana situasi itu bisa diperbaiki.

Ratcliffe menyebut tingginya pajak dan imigrasi sebagai penyebab kemunduran Inggris. Ia juga mengklaim bahwa saat ini ada semacam kecemburuan terhadap kekayaan, yang membuat orang-orang terkaya terdorong untuk pindah ke luar negeri. Ia membandingkan hal itu dengan Amerika Serikat yang menurutnya mengapresiasi mereka yang menciptakan kekayaan, lalu membelanjakan kekayaan tersebut di negara tempat mereka tinggal. Menurut Ratcliffe, kebijakan yang ada justru mendorong para pencipta kekayaan meninggalkan Inggris karena alasan pajak atau hal lain yang membuat mereka tidak nyaman.

Perlu dicatat, beban pajak Inggris memang naik ke level tertinggi sejak Perang Dunia II, yakni sekitar 35,3 persen dari produk domestik bruto. Meski demikian, Office for Budget Responsibility menilai angka itu masih jauh di bawah rata-rata 14 negara Eropa Barat. Ratcliffe sendiri dikenal sebagai pendiri raksasa petrokimia Ineos dan telah berdomisili di Monaco, negara dengan rezim pajak yang lebih longgar, sejak 2020.

Bukan Kali Pertama: Jejak Kritik dan Kekecewaan Suporter

Pernyataan terbaru ini bukan yang pertama bagi Ratcliffe. Sekitar tujuh bulan sebelumnya, ia pernah mengatakan kepada Sky News bahwa Inggris sedang “dijajah oleh imigran”. Setelah menuai kecaman, ia menyampaikan permintaan maaf bila ucapannya dianggap menyinggung sebagian orang. Pernyataan itu sempat menjadi sorotan luas karena datang dari figur yang memiliki pengaruh besar di dunia usaha sekaligus di sepak bola Inggris.

MUMSC mengungkapkan bahwa mereka sudah menyoroti ucapan tersebut pada awal tahun ini. Saat itu mereka berharap ada pelajaran yang dipetik dari kontroversi sebelumnya, namun harapan itu dinilai tidak terwujud. Menurut kelompok itu, pekan ini Ratcliffe kembali menempatkan persoalan imigrasi dan penerima bantuan sosial sebagai inti penjelasan atas masalah-masalah Inggris, dengan argumen bahwa tidak ada pihak yang cukup tegas untuk menanganinya. MUMSC menyebut komentar tersebut sangat mengecewakan dan sama sekali tidak dapat diterima.

Ketegangan dengan suporter sebenarnya sudah memuncak sejak musim panas. Klub melakukan langkah besar dalam memberantas praktik calo tiket, yang berujung pada pencabutan 685 tiket musiman. Kebijakan itu memicu protes dari berbagai kelompok pendukung Manchester United, termasuk kelompok yang menyebut diri mereka the 1958. Ratcliffe sendiri sudah lama tidak populer di kalangan pendukung Old Trafford, terutama setelah ia memutuskan menaikkan harga tiket dan memberhentikan 450 karyawan klub.

Dampak bagi Manchester United dan Hubungan dengan Suporter

Bagi Manchester United, pernyataan MUMSC memperlihatkan bahwa kritik terhadap pemilik klub kini tidak lagi hanya soal harga tiket atau hasil di lapangan. Isu identitas dan nilai menjadi bagian penting dari keluhan pendukung, terutama karena klub ini memiliki basis suporter yang tersebar di berbagai benua dan berasal dari beragam latar belakang. Ketika seorang pemilik menyampaikan pandangan yang dianggap merendahkan keberagaman, gesekan dengan suporter menjadi hampir tidak terhindarkan.

Tekanan seperti ini juga berpotensi merembet ke ranah komersial. Manchester United adalah salah satu merek sepak bola paling global, dan citra klub sangat bergantung pada hubungan baik dengan komunitas penggemar internasional. Kritik terbuka dari kelompok suporter, apalagi yang bersifat resmi dan terorganisir, bisa menjadi perhatian mitra sponsor maupun pemangku kepentingan lain. Dalam jangka panjang, reputasi pemilik dapat memengaruhi cara klub dipandang di pasar global.

Meski demikian, pengalaman klub-klub besar menunjukkan bahwa protes suporter jarang langsung mengubah komposisi kepemilikan. Yang lebih mungkin terjadi adalah perubahan bertahap pada cara klub berkomunikasi, kebijakan tiket, dan dialog dengan perwakilan pendukung. Karena itu, desakan MUMSC bisa dibaca sebagai tekanan jangka panjang yang menuntut respons, bukan sekadar seruan yang berhenti di media sosial.

Sorotan pada Kebijakan Energi dan Respons Pemerintah

Dalam wawancara yang sama, Ratcliffe juga melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan energi Inggris. Ia menyoroti keputusan pemerintah yang tidak lagi berinvestasi pada sumber daya Laut Utara melalui pemberian lisensi untuk ladang minyak dan gas Jackdaw serta Rosebank, kebijakan yang ia sebut sebagai “kegilaan”. Ia memperingatkan bahwa ketergantungan Inggris pada impor energi membuat negara rentan, terutama jika musim dingin tahun ini menghadirkan gelombang cuaca dingin yang tajam.

Menurut Ratcliffe, risiko yang dihadapi pada musim dingin adalah kehabisan gas. Ia menyatakan bahwa jika terjadi periode dingin yang ekstrem, ada kemungkinan Inggris harus mematikan operasi industri karena pasokan gas tidak mencukupi. Pernyataan itu menjadi bagian dari kritiknya yang lebih luas terhadap arah kebijakan ekonomi dan energi pemerintah.

Pemerintah merespons kritik tersebut dengan menyatakan sedang berupaya mendorong pertumbuhan dan mencatat bahwa investasi bisnis meningkat dalam dua tahun terakhir. Juru bicara pemerintah juga mengatakan kepada BBC bahwa mereka tidak memperkirakan adanya masalah pasokan gas. Alasannya, Inggris disebut memiliki bauran energi yang beragam dan pemerintah yakin terhadap keamanan pasokan energi nasional.

Konteks Lebih Luas dan Kemungkinan ke Depannya

Kasus ini menggambarkan ketegangan yang makin sering muncul di sepak bola Inggris modern, ketika pemilik klub dari kalangan investor global menyuarakan pandangan pribadi yang berseberangan dengan nilai komunitas pendukungnya. Pendukung klub besar umumnya melihat klub sebagai institusi budaya, sementara pemilik melihatnya sebagai aset bisnis. Ketika dua cara pandang itu bertabrakan, konflik seperti yang terjadi di Manchester United hampir sulit dihindari.

Posisi Ratcliffe juga unik karena ia berada di dua dunia sekaligus: sebagai pengusaha dengan pandangan politik dan ekonomi yang vokal, serta sebagai salah satu pemilik klub sepak bola paling populer di dunia. Pernyataan di luar lapangan kini tidak lagi bisa dipisahkan dari respons suporter di dalam stadion. Apa yang ia sampaikan dalam wawancara bisnis berdampak langsung pada suasana hubungannya dengan basis pendukung klub.

Menariknya, ketika ditanya apakah ia berencana kembali ke Inggris, Ratcliffe menjawab belum dan tidak melihat adanya upaya serius untuk menangani pertumbuhan. Ia menegaskan perlunya politisi yang cukup tegas menghadapi masalah-masalah sulit, serta politisi yang mengambil keputusan untuk kepentingan negara, bukan untuk diri sendiri atau partai. Menurutnya, negara sudah lama tidak memiliki pemimpin seperti itu, sehingga posisinya seakan menegaskan bahwa ia belum akan mengubah sikapnya.

Kesimpulan

Desakan mundur dari suporter Muslim Manchester United menjadi babak terbaru dari ketegangan panjang antara pendukung dan pemilik klub. MUMSC menilai komentar Ratcliffe soal imigrasi, pajak, dan kemunduran Inggris melukai nilai keberagaman yang menjadi fondasi klub, sekaligus memperkuat kekecewaan atas kebijakan internal seperti kenaikan harga tiket dan pemutusan hubungan kerja. Pernyataan itu dirangkum dalam seruan tegas agar keluarga Glazer dan Ratcliffe meninggalkan klub.

Sementara itu, Ratcliffe belum menunjukkan tanda-tanda akan mengubah pandangannya maupun kembali ke Inggris. Ia menilai persoalan utama negaranya adalah kurangnya pemimpin tegas, sedangkan pemerintah membantah soal risiko pasokan energi dan menekankan bahwa investasi bisnis justru meningkat. Dengan sikap kedua pihak yang masih berjarak, polemik ini tampaknya belum akan selesai dalam waktu dekat.