,

Polanski Dipecat, Korban Pertama Bundesliga Musim Ini


Eugen Polanski resmi menjadi korban pertama perombakan pelatih di Bundesliga musim ini. Ia meninggalkan kursi kepelatihan Borussia Mönchengladbach hanya tiga pertandingan setelah kompetisi bergulir, menyusul kekalahan telak 0-5 dari Freiburg pada akhir pekan lalu.

Keputusan itu diambil pada Minggu pagi, kurang dari sehari setelah laga di Freiburg berakhir. Menariknya, ini bukan kali pertama Gladbach melakukan hal serupa: musim lalu mereka juga berpisah dengan pelatih Gerardo Seoane tepat setelah tiga pertandingan pertama. Pola berulang ini menegaskan bahwa persoalan Gladbach bukan sekadar soal sosok yang duduk di bangku cadangan, melainkan masalah yang jauh lebih dalam di level manajemen klub.

Kekalahan 5-0 di Freiburg Menjadi Sebab Polanski Dipecat

Kekalahan di Freiburg jelas bukan sekadar hari buruk di kantor. Tim tuan rumah melesat unggul 2-0 hanya dalam setengah jam pertama, sebelum kapten Gladbach, Tim Kleindienst, diusir wasit akibat kartu kuning kedua — yang pertama ia dapat dari pelanggaran yang sebenarnya bisa dihindari. Setelah kehilangan kaptennya, pertandingan berubah menjadi mimpi buruk yang tak terbendung.

Dua nama yang pernah berseragam Gladbach justru menjadi algojo di laga ini. Yannik Engelhardt mencetak dua gol, sementara Matthias Ginter menyumbang dua assist. Laga berakhir 5-0, dan jika bukan karena sedikit keberuntungan, skor akhirnya bisa jauh lebih buruk bagi tim tamu.

Freiburg datang ke laga tersebut dengan catatan 100 persen kemenangan. Tim yang mereka bangun tampil dengan ketenangan dan tujuan yang jelas, hasil dari pengelolaan dana penjualan Johan Manzambi secara bijak. Kontras antara kedua klub begitu mencolok: satu tim tengah menanjak dengan percaya diri, satu tim lain sedang runtuh dari dalam.

Ikatan Panjang Polanski dengan Gladbach

Bagi Polanski, pemecatan ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kehilangan pekerjaan. Ia pertama kali menginjak Gladbach pada usia delapan tahun, menempuh seluruh jalur akademi klub, lalu menjalani debut profesional pada 2004. Sebelum akhirnya dipercaya menangani tim utama, ia menghabiskan tiga tahun sebagai pelatih tim U-23.

Polanski dipromosikan ke kursi tim utama kurang dari setahun lalu, tepat setelah Seoane diberhentikan. Saat itu ia datang untuk membereskan kekacauan yang ditinggalkan pendahulunya, dan ia berhasil membawa Gladbach menghindari degradasi. Sayangnya, keberhasilan menyelamatkan tim itu tidak cukup untuk membangun fondasi yang lebih kokoh pada musim berikutnya.

“Borussia Mönchengladbach selalu menjadi klub saya, dan akan selalu begitu,” ujar Polanski saat mengomentari kepergiannya pada Minggu. “Itulah mengapa ini sangat menyakitkan ketika semuanya berakhir seperti ini.” Ia juga menyebut bahwa setelah menyelamatkan tim dari degradasi, klub melakukan sejumlah perubahan untuk musim ini, tetapi harapan tinggi yang dibangun tidak terwujud. “Saya minta maaf untuk itu. Saya sungguh berharap Borussia segera kembali ke jalur yang benar,” tambahnya.

Skuad Melemah dan Manajemen yang Dipertanyakan

Ketulusan Polanski tentu tidak perlu diragukan, tetapi ia pasti sadar bahwa harapannya kini lebih besar daripada peluangnya. Ia sebenarnya tak pernah mendapat kesempatan yang adil: seorang pelatih minim pengalaman yang mewarisi situasi buruk sekaligus skuad dengan sumber daya terbatas. Kombinasi itu membuat pekerjaannya nyaris mustahil sejak awal.

Terakhir kali Gladbach tampil di kompetisi Eropa, sekitar lima setengah tahun lalu, mereka berhasil menembus 16 besar Liga Champions sebelum disingkirkan Manchester City yang akhirnya melaju hingga final. Tim asuhan Marco Rose saat itu diperkuat sederet nama berkualitas seperti Yann Sommer, Ginter, Denis Zakaria, Ramy Bensebaini, Jonas Hofmann, dan Marcus Thuram.

Skuad Gladbach saat ini jauh dari level tersebut. Bertahun-tahun berlalu tanpa kebijakan yang berpihak, dan kepergian pemain seperti Thuram serta Bensebaini secara gratis setelah kontrak mereka habis menunjukkan betapa buruknya pengelolaan regenerasi. Roland Virkus, yang mundur sebagai direktur olahraga pada September lalu namun masih terlibat di departemen pemanduan bakat, menerima banyak kritik atas pengurasan talenta ini — meski sejumlah persoalan kontrak sebenarnya sudah ada sebelum ia menjabat.

Kini giliran Rouven Schröder, direktur olahraga yang sedang menjabat, yang masuk dalam sorotan. Ia dikritik karena terlalu lama mempertahankan Polanski dengan harapan lebih daripada alasan kuat, serta karena kampanye rekrutmen besar-besaran yang sejauh ini tidak berjalan sesuai rencana.

Kritik Kleindienst dan Tekanan pada Schröder

Kleindienst seolah menjadi cerminan arah perjalanan klub saat ini. Usai kekalahan kandang dari Elversberg pekan sebelumnya — di mana Gladbach membuang keunggulan 3-1 dan kalah di masa tambahan waktu — ia meluapkan kemarahan kepada sebagian rekan setimnya. Dalam wawancara dengan ZDF, ia menyarankan agar mereka “kurang menonton TikTok, atau apa pun itu”.

Namun di Freiburg, Kleindienst justru meninggalkan timnya dalam kesulitan setelah kartu merahnya. Kompetisi kasta kedua sudah cukup penuh dengan klub-klub raksasa yang jatuh dari puncak. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa perbaikan, tak mustahil Gladbach segera menyusul mereka ke divisi bawah.

Kane dan Dortmund Bersinar di Pekan Ketiga

Di sisi lain, Harry Kane akhirnya menyumbang gol Bundesliga pertamanya musim ini. Golnya di babak kedua membawa Bayern meraih kemenangan sulit atas Elversberg. Tuan rumah kehilangan rekor 100 persen mereka, tetapi mendapat banyak pujian, terutama lewat gol penyama kedudukan spektakuler dari Maurice Krattenmacher, pemain yang dibeli dari Bayern. “Kami bermain dengan berani dari belakang. Kami bisa bangga dengan penampilan kami hari ini,” ujar kiper Elversberg, Nicolas Kristof.

Borussia Dortmund menjadi satu-satunya tim selain Freiburg yang mengumpulkan poin penuh setelah melibas Paderborn. Meski banyak dibicarakan bahwa Fábio Silva ingin merebut posisi Serhou Guirassy, keduanya justru tampil solid saat bermain bersama — Guirassy menyiapkan gol pembuka untuk Silva, dan keduanya berusaha menunjukkan bahwa hubungan mereka baik. Pemain pengganti Felix Nmecha memastikan kemenangan dengan dua gol di akhir laga, salah satunya lewat tendangan salto yang spektakuler. Kabar terbaik bagi Niko Kovac justru soal kebugaran, karena Nico Schlotterbeck tampil lebih cepat dari perkiraan setelah cedera.

Leipzig dan Martin Demichelis sangat membutuhkan hasil positif setelah kekalahan menyeluruh di Liga Champions dari Como, menyusul kekalahan mengejutkan di Werder Bremen di kompetisi domestik. Hamburg datang sebagai tamu yang bersahabat, dan kemenangan itu ditutup dengan gol pertama Christopher Nkunku yang kembali ke klub. Meski demikian, HSV bisa menghadapi musim yang panjang, walau perpanjangan kontrak pelatih Merlin Polzin tidak diperkirakan terancam oleh hasil ini.

Leverkusen, Schalke, dan Kebangkitan Füllkrug

Leverkusen berhasil menghindari kekalahan tandang kedua secara beruntun, kali ini di kandang Augsburg yang sedang menanjak. Patrik Schick, spesialis tendangan rabona, menyelamatkan satu poin bagi Carles Martínez lewat sentuhan khasnya di menit-menit akhir waktu normal. Direktur olahraga Simon Rolfes mengingatkan dengan tegas namun adil bahwa menjaga “konsentrasi dan semangat juang di setiap situasi” adalah tugas pelatih, terutama setelah Leverkusen membuang keunggulan di awal babak kedua. Sementara itu, dua gol Michael Gregoritsch menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa Augsburg di Bundesliga.

Setelah aksi bertahan heroik melawan Bayern pekan sebelumnya, Schalke akhirnya bisa bernapas lega dengan kemenangan Bundesliga pertama mereka dalam hampir tiga setengah tahun saat bertandang ke Union. Gol voli hebat Robin Gosens di babak pertama menjadi gol pertama mereka di kasta tertinggi setelah 1.203 hari. Pelatih Miron Muslic memang tidak bercanda ketika menyebut laga ini “bukan kontes kecantikan”; pertahanan yang disiplin dan penampilan apik Loris Karius mengamankan poin, sementara pelatih Union, Mauro Lustrinelli, punya banyak hal untuk direnungkan.

Kebangkitan Niclas Füllkrug terus berlanjut. Striker pinjaman dari West Ham itu mencetak gol keduanya dalam dua laga untuk menyelamatkan satu poin bagi Bremen setelah tertinggal di Köln. “Anda bisa melihat bahwa ia memimpin lewat contoh sebagai pemain. Itulah yang selama ini hilang dari kami. Keterikatannya dengan klub sangat kuat,” ujar pelatih Bremen, Daniel Thioune.

Klasemen Sementara Bundesliga

PosKlubPSGPoin
1Freiburg399
2Borussia Dortmund369
3Augsburg367
4Bayern Munich357
5RB Leipzig366
6Elversberg316
7Bayer Leverkusen334
8Mainz334
9Eintracht Frankfurt3-14
10Werder Bremen3-14
11Schalke 043-14
12Cologne3-24
13Hoffenheim3-13
14Stuttgart3-23
15Paderborn3-41
16Union Berlin3-61
17Borussia M’gladbach3-90
18Hamburg3-120

Pemecatan Polanski menutup pekan yang getir bagi Gladbach dan menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Klub yang dulu bersaing di 16 besar Liga Champions kini terpuruk di dasar klasemen tanpa satu pun poin, dengan selisih gol terburuk kedua di kompetisi. Persoalannya jelas bukan hanya soal siapa yang mengisi kursi pelatih, melainkan soal arah dan pengelolaan klub secara menyeluruh.

Selagi Gladbach mencari pengganti dan berupaya menata ulang strateginya, kesan yang tertinggal dari kepergian Polanski adalah sebuah kesedihan yang mendalam. Ia tumbuh besar di klub ini, dan kini harus meninggalkannya justru saat keadaan tengah memburuk. Yang masih harus dibuktikan adalah apakah pergantian pelatih kali ini mampu memutus siklus kegagalan, atau sekadar mengulang pola yang sama seperti musim lalu.