Kozo Tashima Tantang Infantino di Pemilihan Presiden FIFA
admin
Kozo Tashima tantang Infantino dalam pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung Maret mendatang. Pengumuman itu disampaikan Presiden Kehormatan Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) tersebut, sehingga bursa kepemimpinan FIFA kini memiliki pesaing yang serius. Langkah ini menjadikan Tashima salah satu nama yang akan diuji dukungannya di antara 211 asosiasi anggota FIFA.
Pencalonan Tashima bukan tanpa bekal. Ia dikenal luas di dunia sepak bola, merupakan mantan pemain internasional Jepang, dan memiliki banyak sekutu di Eropa. Ia juga disebut bertindak dengan restu UEFA, federasi yang selama ini memimpin oposisi terhadap Infantino setelah gagalnya upaya menjual 20% saham hak komersial FIFA pada musim panas.
Siapa Kozo Tashima dan Mengapa Ia Maju?
Tashima bukan nama baru dalam sepak bola Jepang. Ia menjabat Presiden Kehormatan JFA dan pernah memperkuat tim nasional Jepang. Di lingkungan sepak bola, ia dipandang sebagai figur yang dihormati. Pencalonannya membawa pesan bahwa FIFA membutuhkan nilai-nilai yang menurutnya telah lama dijaga sepak bola Jepang.
Kepada Sports Nippon, ia mengatakan bersyukur dapat menyampaikan pengumuman ini dengan dukungan penuh Asosiasi Sepak Bola Jepang. Menurutnya, pencalonan ini bukan sekadar soal menang atau kalah. Ia ingin membawa ke dunia sikap jujur, sehat, dan lurus yang telah dibangun sepak bola Jepang.
Dalam pandangan Tashima, nilai-nilai itulah yang kini dibutuhkan FIFA. Karena itu, ia memutuskan masuk ke kontestasi untuk menyuarakan gagasan tersebut secara langsung. Pernyataan ini memberi warna berbeda pada pemilihan presiden FIFA, karena menempatkan identitas dan etika kepemimpinan sebagai bagian dari kampanye.
Dukungan UEFA dan Sinyal Perpecahan di AFC
Tashima diperkirakan tidak akan kesulitan memenuhi syarat nominasi. Ia pun disebut telah bertindak dengan restu UEFA, yang berbulan-bulan mencari penantang bagi Infantino. Restu itu penting karena UEFA menjadi salah satu kekuatan utama yang menentang kepemimpinan Infantino.
Oposisi UEFA menguat setelah upaya menjual 20% saham hak komersial FIFA pada musim panas gagal. Tashima memiliki banyak sekutu di Eropa dan sempat berbicara dengan pejabat UEFA di kongres Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) di Tokyo bulan lalu. Pertemuan itu menjadi salah satu sinyal bahwa pencalonannya tidak berjalan sendiri.
Namun, dinamika di AFC berpotensi rumit. Kongres AFC berakhir dengan Presiden Sheikh Salman bin Ibrahim al-Khalifa secara publik mendukung Infantino, berbalik dari sikap sebelumnya yang berpihak pada UEFA dan Concacaf dalam upaya menyingkirkan Infantino. Pencalonan Tashima karena itu bisa membelah suara AFC, terutama karena ia diprediksi tetap mendapat dukungan dari Eropa dan Concacaf.
Kozo Tashima Tantang Infantino: Peluang dan Arti Pencalonan
Infantino tetap berada di posisi kuat. Ia mendapat dukungan dari sejumlah negara besar di AFC seperti Qatar dan Arab Saudi, serta dari Afrika dan Amerika Selatan. Dengan dukungan itu, ia diperkirakan melaju menuju 106 suara yang dibutuhkan untuk kembali terpilih pada masa jabatan keempat.
Meski demikian, kehadiran Tashima membuat kontestasi tidak sepenuhnya sepihak. Ia diprediksi mampu menarik suara dari Eropa dan Concacaf, dua kubu yang selama ini memberi tekanan kepada Infantino. Pencalonan Tashima juga menguji seberapa solid oposisi terhadap presiden FIFA petahana.
UEFA telah menghabiskan berbulan-bulan mencari kandidat untuk melawan Infantino. Namun, mereka mungkin menilai penantang non-Eropa bisa lebih diterima karena adanya keresahan luas terhadap dominasi Eropa dalam sepak bola. Dalam konteks itu, Tashima menjadi pilihan yang menarik: ia berasal dari Asia, tetapi memiliki jaringan kuat di Eropa.
Kronologi Pencalonan dan Aturan Menuju Bursa Suara
Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan pada Maret, dengan batas pendaftaran 18 November. Tashima menjadi penantang kedua yang menyatakan diri setelah mantan bek Tottenham Hotspur, Ramon Vega. Namun, belum jelas apakah Vega memiliki dukungan dari lima asosiasi anggota FIFA yang diperlukan untuk masuk dalam surat suara di Rabat.
Aturan lima nominasi itu penting karena FIFA memiliki 211 asosiasi anggota. Bagi Tashima, syarat tersebut diperkirakan bukan hambatan besar. Sebaliknya, bagi kandidat lain, dukungan awal akan menjadi ujian pertama sebelum suara sah benar-benar dihitung.
Masih ada kemungkinan kandidat lain muncul sebelum tenggat. Dengan demikian, peta persaingan bisa berubah setelah nominasi resmi dikunci. Sampai saat itu, pencalonan Tashima sudah cukup untuk menunjukkan bahwa oposisi terhadap Infantino belum sepenuhnya padam.
Secara keseluruhan, Kozo Tashima tantang Infantino dengan membawa modal reputasi, dukungan Jepang, dan jaringan Eropa. Ia tidak hanya menawarkan alternatif elektoral, tetapi juga pesan tentang nilai kepemimpinan yang ingin ia bawa ke FIFA. Namun, jalan menuju kursi presiden tetap berat karena Infantino memiliki basis dukungan yang luas.
Jika nominasi berjalan lancar, pemilihan Maret bisa menjadi ujian tentang seberapa besar keinginan perubahan di dalam FIFA. Bagi Tashima, kemenangan bukan satu-satunya tujuan; ia ingin gagasannya terdengar di panggung dunia. Bagi FIFA, pencalonan ini memperlihatkan bahwa perdebatan tentang arah organisasi masih berlangsung.
Kozo Tashima tantang Infantino dalam pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung Maret mendatang. Pengumuman itu disampaikan Presiden Kehormatan Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) tersebut, sehingga bursa kepemimpinan FIFA kini memiliki pesaing yang serius. Langkah ini menjadikan Tashima salah satu nama yang akan diuji dukungannya di antara 211 asosiasi anggota FIFA.
Pencalonan Tashima bukan tanpa bekal. Ia dikenal luas di dunia sepak bola, merupakan mantan pemain internasional Jepang, dan memiliki banyak sekutu di Eropa. Ia juga disebut bertindak dengan restu UEFA, federasi yang selama ini memimpin oposisi terhadap Infantino setelah gagalnya upaya menjual 20% saham hak komersial FIFA pada musim panas.
Siapa Kozo Tashima dan Mengapa Ia Maju?
Tashima bukan nama baru dalam sepak bola Jepang. Ia menjabat Presiden Kehormatan JFA dan pernah memperkuat tim nasional Jepang. Di lingkungan sepak bola, ia dipandang sebagai figur yang dihormati. Pencalonannya membawa pesan bahwa FIFA membutuhkan nilai-nilai yang menurutnya telah lama dijaga sepak bola Jepang.
Kepada Sports Nippon, ia mengatakan bersyukur dapat menyampaikan pengumuman ini dengan dukungan penuh Asosiasi Sepak Bola Jepang. Menurutnya, pencalonan ini bukan sekadar soal menang atau kalah. Ia ingin membawa ke dunia sikap jujur, sehat, dan lurus yang telah dibangun sepak bola Jepang.
Dalam pandangan Tashima, nilai-nilai itulah yang kini dibutuhkan FIFA. Karena itu, ia memutuskan masuk ke kontestasi untuk menyuarakan gagasan tersebut secara langsung. Pernyataan ini memberi warna berbeda pada pemilihan presiden FIFA, karena menempatkan identitas dan etika kepemimpinan sebagai bagian dari kampanye.
Dukungan UEFA dan Sinyal Perpecahan di AFC
Tashima diperkirakan tidak akan kesulitan memenuhi syarat nominasi. Ia pun disebut telah bertindak dengan restu UEFA, yang berbulan-bulan mencari penantang bagi Infantino. Restu itu penting karena UEFA menjadi salah satu kekuatan utama yang menentang kepemimpinan Infantino.
Oposisi UEFA menguat setelah upaya menjual 20% saham hak komersial FIFA pada musim panas gagal. Tashima memiliki banyak sekutu di Eropa dan sempat berbicara dengan pejabat UEFA di kongres Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) di Tokyo bulan lalu. Pertemuan itu menjadi salah satu sinyal bahwa pencalonannya tidak berjalan sendiri.
Namun, dinamika di AFC berpotensi rumit. Kongres AFC berakhir dengan Presiden Sheikh Salman bin Ibrahim al-Khalifa secara publik mendukung Infantino, berbalik dari sikap sebelumnya yang berpihak pada UEFA dan Concacaf dalam upaya menyingkirkan Infantino. Pencalonan Tashima karena itu bisa membelah suara AFC, terutama karena ia diprediksi tetap mendapat dukungan dari Eropa dan Concacaf.
Kozo Tashima Tantang Infantino: Peluang dan Arti Pencalonan
Infantino tetap berada di posisi kuat. Ia mendapat dukungan dari sejumlah negara besar di AFC seperti Qatar dan Arab Saudi, serta dari Afrika dan Amerika Selatan. Dengan dukungan itu, ia diperkirakan melaju menuju 106 suara yang dibutuhkan untuk kembali terpilih pada masa jabatan keempat.
Meski demikian, kehadiran Tashima membuat kontestasi tidak sepenuhnya sepihak. Ia diprediksi mampu menarik suara dari Eropa dan Concacaf, dua kubu yang selama ini memberi tekanan kepada Infantino. Pencalonan Tashima juga menguji seberapa solid oposisi terhadap presiden FIFA petahana.
UEFA telah menghabiskan berbulan-bulan mencari kandidat untuk melawan Infantino. Namun, mereka mungkin menilai penantang non-Eropa bisa lebih diterima karena adanya keresahan luas terhadap dominasi Eropa dalam sepak bola. Dalam konteks itu, Tashima menjadi pilihan yang menarik: ia berasal dari Asia, tetapi memiliki jaringan kuat di Eropa.
Kronologi Pencalonan dan Aturan Menuju Bursa Suara
Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan pada Maret, dengan batas pendaftaran 18 November. Tashima menjadi penantang kedua yang menyatakan diri setelah mantan bek Tottenham Hotspur, Ramon Vega. Namun, belum jelas apakah Vega memiliki dukungan dari lima asosiasi anggota FIFA yang diperlukan untuk masuk dalam surat suara di Rabat.
Aturan lima nominasi itu penting karena FIFA memiliki 211 asosiasi anggota. Bagi Tashima, syarat tersebut diperkirakan bukan hambatan besar. Sebaliknya, bagi kandidat lain, dukungan awal akan menjadi ujian pertama sebelum suara sah benar-benar dihitung.
Masih ada kemungkinan kandidat lain muncul sebelum tenggat. Dengan demikian, peta persaingan bisa berubah setelah nominasi resmi dikunci. Sampai saat itu, pencalonan Tashima sudah cukup untuk menunjukkan bahwa oposisi terhadap Infantino belum sepenuhnya padam.
Secara keseluruhan, Kozo Tashima tantang Infantino dengan membawa modal reputasi, dukungan Jepang, dan jaringan Eropa. Ia tidak hanya menawarkan alternatif elektoral, tetapi juga pesan tentang nilai kepemimpinan yang ingin ia bawa ke FIFA. Namun, jalan menuju kursi presiden tetap berat karena Infantino memiliki basis dukungan yang luas.
Jika nominasi berjalan lancar, pemilihan Maret bisa menjadi ujian tentang seberapa besar keinginan perubahan di dalam FIFA. Bagi Tashima, kemenangan bukan satu-satunya tujuan; ia ingin gagasannya terdengar di panggung dunia. Bagi FIFA, pencalonan ini memperlihatkan bahwa perdebatan tentang arah organisasi masih berlangsung.
AUTHOR
admin