Atlético Madrid Kalahkan Real Madrid 2-1 di Derby Panas
admin
Atletico Madrid kalahkan Real Madrid 2-1 dalam derby Madrid yang berlangsung keras dan penuh ketegangan di Metropolitano. Dua gol tuan rumah lahir dari Alex Grimaldo lewat titik penalti dan Jonathan David, sementara Real Madrid yang bermain dengan sepuluh orang sejak pertengahan babak kedua hanya mampu memperkecil kedudukan melalui sundulan Antonio Rudiger di menit ke-89. Kemenangan ini terasa istimewa bagi Diego Simeone, yang menyebut pekan di Madrid dipenuhi energi luar biasa dan berakhir persis seperti yang ia inginkan.
Bagi Jose Mourinho, derby pertamanya sejak kembali menangani Real Madrid berakhir dengan kekalahan dan sederet protes. Ia datang ke konferensi pers sambil membawa gambar dua momen yang menurutnya seharusnya berbuah kartu merah untuk pemain Atletico, Lee Kang-in dan Cristian Romero, dan bersikeras bahwa inti cerita laga ini ada di situ. Namun pertanyaan lain tetap mengambang, terutama soal cara Dean Huijsen memberikan hadiah penalti sekaligus kartu merah yang membalikkan arah pertandingan, serta penampilan Real Madrid yang nyaris tidak menghasilkan apa pun hingga laga memasuki menit-menit akhir.
Real Madrid’s German defender #22 Antonio Ruediger (L) heads to scores his team’s first goal during the Spanish league football match between Club Atletico de Madrid and Real Madrid CF at the Metropolitano stadium in Madrid on September 20, 2026. (Photo by Thomas COEX / AFP)
Jalannya Laga: Tanpa Tembakan, Lalu Drama Penalti
Pertandingan ini butuh waktu lama untuk benar-benar hidup sebagai sebuah laga sepak bola. Dua puluh menit berlalu sebelum tembakan pertama lahir, ketika Aurelien Tchouameni melepaskan upaya dari jarak 25 yard yang melayang di atas gawang. Tembakan tepat sasaran baru datang pada menit ke-39, dan seperti pola yang terbentuk sepanjang babak pertama, upaya itu lahir dari luar kotak penalti: Arda Guler mencoba peruntungannya dan Jan Oblak menepis bola menjauh.
Di luar permainan bola, suhu pertandingan justru naik hampir sejak awal. Guler menjadi pemain pertama yang berhadapan dengan wasit setelah dilanggar Alex Baena, lalu membalasnya dengan melanggar Baena pula. Dari bangku cadangan terdengar sesuatu yang membuat Simeone mendapat kartu kuning, dan sejak saat itu atmosfer pertarungan terbentuk, bukan hanya di lapangan tetapi juga di pinggir lapangan.
Peluang terbaik tuan rumah sebelum jeda lahir dari umpan silang Lee Kang-in yang diarahkan ke tiang belakang untuk mencari David. Real Madrid langsung membalas lewat sisi kanan, dan sorakan keras yang menyambut tekel Marc Pubill untuk menghentikan Kylian Mbappe menunjukkan betapa besar kekhawatiran Atletico akan serangan balik. Real Madrid memang tampak menunggu momen itu, dengan penguasaan bola dan wilayah yang lebih banyak namun cenderung berhati-hati karena barisan kaus putih di depan mereka tidak memberi ruang untuk berlari.
Momen paling penting di babak pertama justru bukan soal permainan. Jude Bellingham melakukan tekel terhadap Romero dan awalnya diberi kartu merah, memicu kemarahan pemain serta bangku cadangan Real Madrid. Wasit Miguel Angel Ortiz yang kesulitan mengendalikan laga dipanggil ke layar VAR, dan di sana terlihat bahwa sepakan Romero mengenai lutut Bellingham. Kartu itu dibatalkan, meski kubu Atletico merasa seharusnya tetap merah, dan ketika sepakan Lee mengenai Federico Valverde, Real Madrid pun menuntut hal serupa. Ketegangan itu berlanjut hingga turun minum, ketika pelatih kiper Atletico dan asisten pelatih Real Madrid sama-sama diusir.
Penalti, Kartu Merah Huijsen, dan Gol Pembuka Grimaldo
Babak kedua berjalan sebagai pertandingan yang sama sekali berbeda, dimulai dengan masuknya Koke dan langsung memaksa kiper Real Madrid melakukan penyelamatan atas upaya Baena. Itu menjadi tembakan tepat sasaran pertama Atletico, dan tidak lama setelahnya tuan rumah benar-benar memimpin. Bola panjang yang dilepaskan David Hancko jatuh dari udara ke arah lari Giuliano Simeone, dan ketika ia berusaha mengendalikan bola menuju kotak penalti, Huijsen menariknya hingga jatuh.
Ortiz menunjuk titik putih dan kembali dipanggil ke layar VAR, bukan untuk membatalkan penalti yang sangat jelas, melainkan untuk mengubah warna kartu. Huijsen pun harus meninggalkan lapangan, Grimaldo menuntaskan penalti dengan tenang, dan Metropolitano meledak. Real Madrid harus menyelesaikan laga dengan sepuluh pemain, dan keunggulan Atletico menjadi lebih besar dari sekadar satu gol.
Mourinho merespons dengan menarik Guler dan Vinicius Junior untuk memasukkan Yan Diomande dan Rudiger. Vinicius tercatat hanya menyentuh bola sebanyak 22 kali, sehingga penyesuaian memang dibutuhkan, tetapi keputusan semacam itu pernah menimbulkan perpecahan di ruang ganti Real Madrid, termasuk saat ia ditarik keluar di akhir laga Clasico musim lalu. Dampak perubahan itu nyatanya tidak terasa, karena Atletico justru menggandakan keunggulan.
Jonathan David Menutup Laga, Mbappe Nyaris Tak Terlihat
Gol kedua Atletico kembali lahir dari sisi kanan, tempat Lee tampil luar biasa sepanjang laga. Ia mengalirkan bola kepada Giuliano Simeone, yang melepaskan umpan silang rendah melengkung melewati barisan bek Real Madrid dengan sempurna. Dari jarak enam yard, Jonathan David menyelesaikannya menjadi gol, dan tak lama kemudian ia ditarik keluar untuk digantikan Julian Alvarez, sebuah keputusan yang disambut siulan sebagian pendukung tuan rumah.
Atletico tidak berhenti menyerang. Alvarez hampir mencetak gol ketiga, tetapi Thibaut Courtois melakukan penyelamatan luar biasa atas upaya Romero, dan ketika bola jatuh, Konate dua kali menyelamatkan Real Madrid, termasuk membersihkan bola dari garis gawang setelah ancaman Alvarez. Simeone juga memasukkan Ademola Lookman karena mencium peluang menambah gol, sementara Real Madrid tampak tidak bisa berbuat apa-apa.
Oblak nyaris tidak melihat aktivitas berarti di depannya, dan dalam satu periode di babak kedua Real Madrid bahkan tidak sekali pun menyentuh bola di area kiper Atletico. Mbappe hampir tidak menyentuh bola di mana pun, sementara seekor merpati sempat mematuk rumput di area Atletico tanpa terusik serangan balik, gambaran betapa sepinya wilayah pertahanan tuan rumah. Diomande akhirnya lolos dengan 15 menit tersisa, tetapi tembakannya mengarah tepat ke Oblak sehingga peluang membuat laga kembali terbuka terbuang.
Rudiger tetap memberi harapan kecil bagi Real Madrid lewat sundulan dari bola mati pada menit ke-89, memicu beberapa menit perlawanan yang singkat dan tidak utuh. Gol itu memperkecil kedudukan, menghidupkan kembali bayangan buruk bagi Atletico, tetapi tidak cukup untuk mengubah hasil akhir.
Latar Belakang: Duel Lama Simeone dan Mourinho
Laga ini mempertemukan dua pelatih yang sudah 13 tahun tidak bertemu dalam derby ini, sejak hari Atletico akhirnya mematahkan kutukan dan menjuarai Copa del Rey di Santiago Bernabeu. Malam itu Mourinho diusir dari lapangan dan tidak datang mengambil medali runner-up dari raja, sementara Atletico meraih kemenangan derby pertama mereka dalam 13 tahun. Kembalinya Mourinho ke Real Madrid sebagian didorong nostalgia, dan berbagai hal di ruang pers terasa seperti masa-masa lama yang kembali hadir, termasuk ketegangan yang tidak selalu berbuah baik.
Keduanya memang pernah disebut Mourinho sebagai rekan seperjuangan dalam perang, dan pertandingan ini membuktikan bahwa hubungan itu tidak banyak berubah. Real Madrid datang dengan rencana menunggu momen dan mengancam lewat transisi, sementara Atletico berusaha menutup ruang dan memaksimalkan setiap peluang dari sisi sayap. Perbedaan pendekatan itu membuat babak pertama berjalan ketat dan keras, dengan lebih banyak benturan serta protes kepada wasit daripada peluang bersih.
Dampak dan Implikasi bagi Kedua Tim
Bagi Atletico, hasil ini menutup pekan yang oleh Simeone digambarkan penuh energi istimewa di kota Madrid, dan sekaligus menegaskan kemampuan mereka memenangi laga besar tanpa harus mendominasi penguasaan bola. Oblak menyebut laga inilah satu-satunya hal yang penting, baik bagi pelatih maupun dirinya, di tengah banyak peristiwa lain yang terjadi di kota itu sepanjang pekan. Kemenangan atas rival sekota dengan sepuluh pemain di kubu lawan akan memperkuat keyakinan skuad terhadap cara bermain yang sudah lama diterapkan Simeone.
Bagi Real Madrid, pertanyaan yang muncul lebih besar dari sekadar kekalahan. Keputusan menarik Vinicius dan Guler berdampak kecil terhadap jalannya pertandingan, tetapi bisa memicu perdebatan internal, sebagaimana keputusan serupa di masa lalu pernah memecah ruang ganti. Kondisi Huijsen yang memberikan penalti sekaligus kartu merah juga menjadi sorotan, karena momen itu menjadi titik balik yang mengubah pertandingan secara permanen.
Tekanan publik terhadap Mourinho diperkirakan meningkat, terutama karena ia memilih menyoroti keputusan wasit dalam konferensi pers, dengan menampilkan gambar dua momen yang ia anggap seharusnya berbuah kartu merah untuk pemain Atletico. Pendekatan semacam itu khas dirinya, tetapi tidak menghapus kenyataan bahwa timnya nyaris tidak menciptakan ancaman berarti selama hampir sepanjang laga. Yang belum terlihat adalah bagaimana reaksi ruang ganti dan manajemen klub terhadap kekalahan di derby pertama ini.
Konteks Lebih Luas: Derby yang Tidak Pernah Tenang
Derby Madrid memang jarang berjalan tanpa gesekan, dan laga ini mengulang pola klasik antara kedua manajer yang dikenal sama-sama keras. Babak pertama yang hanya menghasilkan tembakan dari luar kotak penalti, dua kartu merah di ruang teknis saat turun minum, dan keputusan VAR yang berulang kali mengubah arah pertandingan menunjukkan bahwa tensi emosional menjadi bagian tak terpisahkan dari pertemuan ini. VAR sekali lagi menjadi penentu, mulai dari pembatalan kartu merah Bellingham sampai perubahan jenis kartu untuk Huijsen yang menentukan bahwa Real Madrid harus bermain dengan sepuluh pemain.
Ke depan, pertanyaan utamanya adalah bagaimana Mourinho menyusun ulang timnya, khususnya lini serang yang nyaris tidak memberi kontribusi di laga ini. Real Madrid masih punya waktu untuk memulihkan posisi, tetapi derby ini memperlihatkan celah yang harus segera diperbaiki bila mereka ingin bersaing di jalur juara. Atletico sementara itu akan mencoba menjaga momentum, karena kemenangan atas rival sekota biasanya berdampak panjang pada kepercayaan diri sebuah tim sepanjang musim.
Secara keseluruhan, laga ini menjadi malam milik Atletico Madrid: penalti Grimaldo, penyelesaian Jonathan David dari jarak dekat, dan pertahanan rapat yang membuat Real Madrid tak berkutik hingga menit-menit akhir. Kontroversi wasit serta protes Mourinho akan terus dibahas, tetapi papan skor tetap mencatat kemenangan 2-1 untuk tuan rumah. Bagi Simeone, pekan istimewa di Madrid berakhir dengan cara yang paling ia inginkan, sementara bagi Mourinho, derby pertamanya sepulang ke Real Madrid menjadi pengingat bahwa laga ini tidak pernah memberi ruang bagi nostalgia.
Atletico Madrid kalahkan Real Madrid 2-1 dalam derby Madrid yang berlangsung keras dan penuh ketegangan di Metropolitano. Dua gol tuan rumah lahir dari Alex Grimaldo lewat titik penalti dan Jonathan David, sementara Real Madrid yang bermain dengan sepuluh orang sejak pertengahan babak kedua hanya mampu memperkecil kedudukan melalui sundulan Antonio Rudiger di menit ke-89. Kemenangan ini terasa istimewa bagi Diego Simeone, yang menyebut pekan di Madrid dipenuhi energi luar biasa dan berakhir persis seperti yang ia inginkan.
Bagi Jose Mourinho, derby pertamanya sejak kembali menangani Real Madrid berakhir dengan kekalahan dan sederet protes. Ia datang ke konferensi pers sambil membawa gambar dua momen yang menurutnya seharusnya berbuah kartu merah untuk pemain Atletico, Lee Kang-in dan Cristian Romero, dan bersikeras bahwa inti cerita laga ini ada di situ. Namun pertanyaan lain tetap mengambang, terutama soal cara Dean Huijsen memberikan hadiah penalti sekaligus kartu merah yang membalikkan arah pertandingan, serta penampilan Real Madrid yang nyaris tidak menghasilkan apa pun hingga laga memasuki menit-menit akhir.
Jalannya Laga: Tanpa Tembakan, Lalu Drama Penalti
Pertandingan ini butuh waktu lama untuk benar-benar hidup sebagai sebuah laga sepak bola. Dua puluh menit berlalu sebelum tembakan pertama lahir, ketika Aurelien Tchouameni melepaskan upaya dari jarak 25 yard yang melayang di atas gawang. Tembakan tepat sasaran baru datang pada menit ke-39, dan seperti pola yang terbentuk sepanjang babak pertama, upaya itu lahir dari luar kotak penalti: Arda Guler mencoba peruntungannya dan Jan Oblak menepis bola menjauh.
Di luar permainan bola, suhu pertandingan justru naik hampir sejak awal. Guler menjadi pemain pertama yang berhadapan dengan wasit setelah dilanggar Alex Baena, lalu membalasnya dengan melanggar Baena pula. Dari bangku cadangan terdengar sesuatu yang membuat Simeone mendapat kartu kuning, dan sejak saat itu atmosfer pertarungan terbentuk, bukan hanya di lapangan tetapi juga di pinggir lapangan.
Peluang terbaik tuan rumah sebelum jeda lahir dari umpan silang Lee Kang-in yang diarahkan ke tiang belakang untuk mencari David. Real Madrid langsung membalas lewat sisi kanan, dan sorakan keras yang menyambut tekel Marc Pubill untuk menghentikan Kylian Mbappe menunjukkan betapa besar kekhawatiran Atletico akan serangan balik. Real Madrid memang tampak menunggu momen itu, dengan penguasaan bola dan wilayah yang lebih banyak namun cenderung berhati-hati karena barisan kaus putih di depan mereka tidak memberi ruang untuk berlari.
Momen paling penting di babak pertama justru bukan soal permainan. Jude Bellingham melakukan tekel terhadap Romero dan awalnya diberi kartu merah, memicu kemarahan pemain serta bangku cadangan Real Madrid. Wasit Miguel Angel Ortiz yang kesulitan mengendalikan laga dipanggil ke layar VAR, dan di sana terlihat bahwa sepakan Romero mengenai lutut Bellingham. Kartu itu dibatalkan, meski kubu Atletico merasa seharusnya tetap merah, dan ketika sepakan Lee mengenai Federico Valverde, Real Madrid pun menuntut hal serupa. Ketegangan itu berlanjut hingga turun minum, ketika pelatih kiper Atletico dan asisten pelatih Real Madrid sama-sama diusir.
Penalti, Kartu Merah Huijsen, dan Gol Pembuka Grimaldo
Babak kedua berjalan sebagai pertandingan yang sama sekali berbeda, dimulai dengan masuknya Koke dan langsung memaksa kiper Real Madrid melakukan penyelamatan atas upaya Baena. Itu menjadi tembakan tepat sasaran pertama Atletico, dan tidak lama setelahnya tuan rumah benar-benar memimpin. Bola panjang yang dilepaskan David Hancko jatuh dari udara ke arah lari Giuliano Simeone, dan ketika ia berusaha mengendalikan bola menuju kotak penalti, Huijsen menariknya hingga jatuh.
Ortiz menunjuk titik putih dan kembali dipanggil ke layar VAR, bukan untuk membatalkan penalti yang sangat jelas, melainkan untuk mengubah warna kartu. Huijsen pun harus meninggalkan lapangan, Grimaldo menuntaskan penalti dengan tenang, dan Metropolitano meledak. Real Madrid harus menyelesaikan laga dengan sepuluh pemain, dan keunggulan Atletico menjadi lebih besar dari sekadar satu gol.
Mourinho merespons dengan menarik Guler dan Vinicius Junior untuk memasukkan Yan Diomande dan Rudiger. Vinicius tercatat hanya menyentuh bola sebanyak 22 kali, sehingga penyesuaian memang dibutuhkan, tetapi keputusan semacam itu pernah menimbulkan perpecahan di ruang ganti Real Madrid, termasuk saat ia ditarik keluar di akhir laga Clasico musim lalu. Dampak perubahan itu nyatanya tidak terasa, karena Atletico justru menggandakan keunggulan.
Jonathan David Menutup Laga, Mbappe Nyaris Tak Terlihat
Gol kedua Atletico kembali lahir dari sisi kanan, tempat Lee tampil luar biasa sepanjang laga. Ia mengalirkan bola kepada Giuliano Simeone, yang melepaskan umpan silang rendah melengkung melewati barisan bek Real Madrid dengan sempurna. Dari jarak enam yard, Jonathan David menyelesaikannya menjadi gol, dan tak lama kemudian ia ditarik keluar untuk digantikan Julian Alvarez, sebuah keputusan yang disambut siulan sebagian pendukung tuan rumah.
Atletico tidak berhenti menyerang. Alvarez hampir mencetak gol ketiga, tetapi Thibaut Courtois melakukan penyelamatan luar biasa atas upaya Romero, dan ketika bola jatuh, Konate dua kali menyelamatkan Real Madrid, termasuk membersihkan bola dari garis gawang setelah ancaman Alvarez. Simeone juga memasukkan Ademola Lookman karena mencium peluang menambah gol, sementara Real Madrid tampak tidak bisa berbuat apa-apa.
Oblak nyaris tidak melihat aktivitas berarti di depannya, dan dalam satu periode di babak kedua Real Madrid bahkan tidak sekali pun menyentuh bola di area kiper Atletico. Mbappe hampir tidak menyentuh bola di mana pun, sementara seekor merpati sempat mematuk rumput di area Atletico tanpa terusik serangan balik, gambaran betapa sepinya wilayah pertahanan tuan rumah. Diomande akhirnya lolos dengan 15 menit tersisa, tetapi tembakannya mengarah tepat ke Oblak sehingga peluang membuat laga kembali terbuka terbuang.
Rudiger tetap memberi harapan kecil bagi Real Madrid lewat sundulan dari bola mati pada menit ke-89, memicu beberapa menit perlawanan yang singkat dan tidak utuh. Gol itu memperkecil kedudukan, menghidupkan kembali bayangan buruk bagi Atletico, tetapi tidak cukup untuk mengubah hasil akhir.
Latar Belakang: Duel Lama Simeone dan Mourinho
Laga ini mempertemukan dua pelatih yang sudah 13 tahun tidak bertemu dalam derby ini, sejak hari Atletico akhirnya mematahkan kutukan dan menjuarai Copa del Rey di Santiago Bernabeu. Malam itu Mourinho diusir dari lapangan dan tidak datang mengambil medali runner-up dari raja, sementara Atletico meraih kemenangan derby pertama mereka dalam 13 tahun. Kembalinya Mourinho ke Real Madrid sebagian didorong nostalgia, dan berbagai hal di ruang pers terasa seperti masa-masa lama yang kembali hadir, termasuk ketegangan yang tidak selalu berbuah baik.
Keduanya memang pernah disebut Mourinho sebagai rekan seperjuangan dalam perang, dan pertandingan ini membuktikan bahwa hubungan itu tidak banyak berubah. Real Madrid datang dengan rencana menunggu momen dan mengancam lewat transisi, sementara Atletico berusaha menutup ruang dan memaksimalkan setiap peluang dari sisi sayap. Perbedaan pendekatan itu membuat babak pertama berjalan ketat dan keras, dengan lebih banyak benturan serta protes kepada wasit daripada peluang bersih.
Dampak dan Implikasi bagi Kedua Tim
Bagi Atletico, hasil ini menutup pekan yang oleh Simeone digambarkan penuh energi istimewa di kota Madrid, dan sekaligus menegaskan kemampuan mereka memenangi laga besar tanpa harus mendominasi penguasaan bola. Oblak menyebut laga inilah satu-satunya hal yang penting, baik bagi pelatih maupun dirinya, di tengah banyak peristiwa lain yang terjadi di kota itu sepanjang pekan. Kemenangan atas rival sekota dengan sepuluh pemain di kubu lawan akan memperkuat keyakinan skuad terhadap cara bermain yang sudah lama diterapkan Simeone.
Bagi Real Madrid, pertanyaan yang muncul lebih besar dari sekadar kekalahan. Keputusan menarik Vinicius dan Guler berdampak kecil terhadap jalannya pertandingan, tetapi bisa memicu perdebatan internal, sebagaimana keputusan serupa di masa lalu pernah memecah ruang ganti. Kondisi Huijsen yang memberikan penalti sekaligus kartu merah juga menjadi sorotan, karena momen itu menjadi titik balik yang mengubah pertandingan secara permanen.
Tekanan publik terhadap Mourinho diperkirakan meningkat, terutama karena ia memilih menyoroti keputusan wasit dalam konferensi pers, dengan menampilkan gambar dua momen yang ia anggap seharusnya berbuah kartu merah untuk pemain Atletico. Pendekatan semacam itu khas dirinya, tetapi tidak menghapus kenyataan bahwa timnya nyaris tidak menciptakan ancaman berarti selama hampir sepanjang laga. Yang belum terlihat adalah bagaimana reaksi ruang ganti dan manajemen klub terhadap kekalahan di derby pertama ini.
Konteks Lebih Luas: Derby yang Tidak Pernah Tenang
Derby Madrid memang jarang berjalan tanpa gesekan, dan laga ini mengulang pola klasik antara kedua manajer yang dikenal sama-sama keras. Babak pertama yang hanya menghasilkan tembakan dari luar kotak penalti, dua kartu merah di ruang teknis saat turun minum, dan keputusan VAR yang berulang kali mengubah arah pertandingan menunjukkan bahwa tensi emosional menjadi bagian tak terpisahkan dari pertemuan ini. VAR sekali lagi menjadi penentu, mulai dari pembatalan kartu merah Bellingham sampai perubahan jenis kartu untuk Huijsen yang menentukan bahwa Real Madrid harus bermain dengan sepuluh pemain.
Ke depan, pertanyaan utamanya adalah bagaimana Mourinho menyusun ulang timnya, khususnya lini serang yang nyaris tidak memberi kontribusi di laga ini. Real Madrid masih punya waktu untuk memulihkan posisi, tetapi derby ini memperlihatkan celah yang harus segera diperbaiki bila mereka ingin bersaing di jalur juara. Atletico sementara itu akan mencoba menjaga momentum, karena kemenangan atas rival sekota biasanya berdampak panjang pada kepercayaan diri sebuah tim sepanjang musim.
Secara keseluruhan, laga ini menjadi malam milik Atletico Madrid: penalti Grimaldo, penyelesaian Jonathan David dari jarak dekat, dan pertahanan rapat yang membuat Real Madrid tak berkutik hingga menit-menit akhir. Kontroversi wasit serta protes Mourinho akan terus dibahas, tetapi papan skor tetap mencatat kemenangan 2-1 untuk tuan rumah. Bagi Simeone, pekan istimewa di Madrid berakhir dengan cara yang paling ia inginkan, sementara bagi Mourinho, derby pertamanya sepulang ke Real Madrid menjadi pengingat bahwa laga ini tidak pernah memberi ruang bagi nostalgia.
AUTHOR
admin