,

Krisis Gol Nottingham Forest di Kandang: Akar Masalahnya


Krisis gol Nottingham Forest di kandang menjadi sorotan karena mereka belum juga mencetak gol di City Ground pada musim 2026-27. Bersama Schalke, Forest termasuk tim yang belum menghasilkan gol kandang musim ini. Paceklik ini bukan hanya soal finishing, melainkan tanda masalah yang lebih dalam pada cara mereka membangun serangan.

Forest adalah satu dari hanya lima tim dalam sejarah kompetisi teratas Inggris yang gagal mencetak gol pada empat laga kandang pertama di liga. Tiga dari empat tim sebelumnya juga kosong pada laga kandang kelima, dan itu menjadi kabar yang tidak menyenangkan bagi Oliver Glasner karena Manchester City akan datang ke City Ground pada Sabtu. City sendiri datang setelah dua kekalahan beruntun di liga dan sedang mencari kemenangan, sehingga ujian Forest dipastikan berat.

Krisis Gol Nottingham Forest di Kandang: Fakta Utama

Dalam liga, Forest sudah melepaskan 62 tembakan di kandang dengan total expected goals 3,58, tetapi belum satu pun berbuah gol. Angka itu terlihat seperti mereka seharusnya mencetak sekitar tiga gol, namun sebaran kualitas peluangnya jauh dari ideal. Opta mencatat hanya dua tembakan Forest yang masuk kategori peluang besar, hanya lima tembakan lain yang punya peluang konversi di atas 10%, dan lebih dari dua pertiga tembakan bernilai 0,06 xG atau kurang.

Satu-satunya laga ketika Forest mencapai minimal satu expected goals secara total adalah melawan Coventry, itu pun lewat 24 percobaan untuk menghasilkan 1,09 xG. Jika ditambah laga Carabao Cup melawan Leeds di kandang, mereka telah mengumpulkan 70 tembakan di semua kompetisi tanpa memberi gol untuk pendukung sendiri. Data ini menegaskan bahwa masalahnya bukan sekadar kurang beruntung, karena volume tembakan tidak berbanding lurus dengan kualitas.

Tren buruk ini juga bukan hal baru. Pada musim lalu, Forest hanya mencetak dua gol lebih banyak daripada Burnley sebagai pencetak gol kandang terendah di Premier League, dan sembilan kali gagal mencetak gol di kandang. Dengan begitu, paceklik musim ini memperlihatkan persoalan lama yang belum benar-benar diperbaiki.

Mengapa xG Tinggi Tidak Otomatis Menjadi Gol

Expected goals sering dipakai untuk menilai apakah sebuah tim layak mencetak gol, tetapi ada hal penting yang kerap terlewat: setiap tembakan berdiri sendiri. Melewatkan peluang sebelumnya tidak membuat tembakan berikutnya lebih mudah masuk, meski total xG tim terus naik. Sebuah tim bisa mengumpulkan satu expected goals dari 100 tembakan bernilai 0,01 xG dan tetap tidak punya jaminan untuk mencetak gol.

Realitas itulah yang menjelaskan paceklik Forest di kandang. Total 3,58 xG dari 62 tembakan terlihat seolah mereka semestinya sudah mencetak tiga gol, tetapi mayoritas upaya mereka bernilai rendah. Karena hanya dua peluang besar dan hanya lima tembakan lain yang punya peluang konversi lebih dari satu banding 10, kualitas ancaman Forest jauh lebih kecil daripada yang ditunjukkan angka mentah xG.

Penyebab utamanya adalah lokasi tembakan. Sebanyak 50,3% tembakan Forest di City Ground dilepaskan dari luar kotak penalti, setidaknya 6% lebih tinggi daripada tim Premier League mana pun di kandang masing-masing dalam lima musim terakhir. Semakin jauh jarak tembakan, semakin kecil peluangnya menjadi gol, sehingga total xG Forest terbentuk dari banyak upaya bernilai rendah, bukan dari peluang emas yang berulang.

Sulit Masuk Kotak dan Akurasi Tembakan yang Rendah

Forest kesulitan mengirim bola ke kotak penalti, dan masalah ini sudah ada sebelum Glasner menangani tim. Pada 2025-26, akurasi umpan mereka ke dalam kotak di kandang hanya 33,3%, di bawah rata-rata liga 36,6%, lalu turun lagi menjadi 29,6% pada musim ini. Angka tersebut menunjukkan bahwa serangan Forest sering macet sebelum mencapai area paling berbahaya.

Persoalan yang sama terlihat pada umpan silang, meski metrik ini tidak sepenuhnya menggambarkan kualitas karena umpan berbahaya bisa luput dari rekan setim yang tidak mengantisipasi. Pada musim lalu, tingkat penyelesaian umpan silang kandang Forest adalah 21,7%, di bawah rata-rata liga 26,6%, dan pada 2026-27 angkanya makin buruk menjadi 19,0%. Pola ini memperkuat gambaran bahwa bola sulit sampai ke penerima di area berbahaya.

Karena harus sering menembak dari jauh, Forest jarang mengarahkan bola ke gawang. Mereka hanya mencatat sembilan tembakan tepat sasaran di liga di City Ground, dengan akurasi tembakan 14,5%. Schalke, yang juga minim gol kandang, berada di 18,8%, sementara Parma 2025-26 menjadi tim kandang paling tidak akurat dalam 10 musim terakhir di lima liga besar Eropa dengan 23,7% tembakan tepat sasaran dari sampel 974 contoh tim-musim. Angka Forest bahkan lebih rendah, sehingga wajar jika gol kandang sulit datang.

Ujian Manchester City dan Bayangan Rekor Buruk

Laga melawan Manchester City menjadi kesempatan sekaligus ancaman bagi Forest. City datang ke City Ground pada Sabtu setelah dua kekalahan beruntun di liga dan tentu ingin segera kembali ke jalur kemenangan. Bagi Glasner, situasi ini tidak ideal karena timnya sedang mencari gol kandang pertama sementara lawan yang datang punya motivasi tinggi untuk bangkit.

Jika Forest kembali gagal mencetak gol melawan City, laga kandang berikutnya adalah menghadapi Chelsea yang belakangan memperketat pertahanan. Belum ada tim di kompetisi teratas Inggris yang gagal mencetak gol dalam enam laga kandang pertama, tetapi kemungkinan Forest membuat rekor yang tidak diinginkan itu terlihat cukup nyata. Tekanan akan semakin besar karena setiap pertandingan kandang kini bukan hanya soal poin, tetapi juga tentang menghindari catatan sejarah negatif.

Bagi pemain, rentetan tanpa gol di hadapan pendukung sendiri bisa memengaruhi kepercayaan diri. Namun data menunjukkan persoalannya lebih struktural: Forest tidak cukup sering menciptakan peluang berkualitas. Selama kualitas peluang tidak meningkat, mengandalkan keberuntungan atau tembakan jarak jauh saja tidak akan cukup untuk mengakhiri paceklik.

Konteks Eropa: Dijon, Fulham, dan Parma

Dalam skala lima liga besar Eropa modern, Dijon memegang catatan paling tidak bergengsi sebagai pencetak gol kandang paling sedikit. Pada 2020-21, mereka hanya mencetak delapan gol dalam 19 laga Ligue 1 di kandang. Fulham mencetak satu gol lebih banyak pada musim yang sama dan menjadi tim dengan catatan gol kandang terburuk di Premier League, sementara keduanya sudah mengoleksi tiga gol dalam empat laga kandang pertama. Perbandingan itu menunjukkan betapa dalamnya kemerosotan serangan Forest di City Ground.

Parma 2025-26 juga menjadi contoh bahwa masalah akurasi bisa terjadi pada level ekstrem. Mereka menempati posisi paling tidak akurat di kandang dalam 10 musim terakhir di lima liga besar Eropa, tetapi masih mencatat 23,7% tembakan tepat sasaran dari sampel 974 contoh tim-musim. Forest, dengan 14,5%, berada di bawah standar itu, sehingga persoalannya mencakup kualitas eksekusi dan cara membangun peluang.

Konteks ini penting karena paceklik Forest bukan sekadar anomali beberapa pekan. Dibandingkan tim-tim yang pernah mengalami krisis gol kandang, masalah Forest terlihat lebih akut pada musim ini. Tanpa perbaikan dalam menembus kotak penalti dan menciptakan peluang bernilai tinggi, rekor buruk bisa terus membayangi mereka.

Krisis gol Nottingham Forest di kandang adalah kombinasi dari volume tembakan yang tidak diimbangi kualitas peluang, kesulitan masuk ke kotak penalti, dan akurasi yang rendah. Data menunjukkan bahwa total xG tidak cukup untuk menjelaskan masalah, karena banyak tembakan berasal dari jarak jauh dan bernilai kecil. Perbandingan dengan Dijon, Fulham, dan Parma menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya soal keberuntungan.

Laga melawan Manchester City akan menjadi ujian langsung bagi Glasner dan para pemain. Jika gagal lagi, tekanan menuju pertandingan kandang berikutnya melawan Chelsea akan meningkat, termasuk bayangan rekor tanpa gol dalam enam laga kandang pertama. Forest perlu memperbaiki cara membangun serangan, bukan sekadar menambah jumlah tembakan, agar paceklik ini bisa segera berakhir.