,

Pertahanan Inggris Rapuh, Tuchel Coba Alexander-Arnold


Pertahanan Inggris menjadi pekerjaan rumah paling mendesak bagi Thomas Tuchel jelang laga melawan Ceko di Praha, Selasa malam. Sepanjang tahun 2026, tim berjuluk Tiga Singa itu hanya mencatat empat clean sheet dari 13 pertandingan, sebuah angka yang jauh dari memadai untuk tim yang tengah membangun fondasi menuju turnamen besar. Situasi ini membuat saran Tuchel agar timnya “merangkul kekacauan” sebagai cara mengatasi hilangnya kontrol permainan mulai terasa perlu ditinjau ulang.

Laga kontra Ceko adalah pertandingan kedua dari empat jadwal yang harus dilalui Inggris pada jeda internasional kali ini. Kemenangan menjadi harga mati bila Inggris ingin menjaga peluang lolos ke perempat final pada Maret nanti. Setelah Ceko, Kroasia sudah menanti di Rijeka pada Sabtu, dan lawan itu diprediksi jauh lebih berat daripada Ceko yang gagal lolos dari fase grup yang tergolong lemah di Piala Dunia.

Lini Belakang Inggris Jadi PR Terbesar Tuchel

Kekhawatiran terhadap pertahanan Inggris bukan sekadar soal jumlah kebobolan. Saat kalah 3-2 dari Spanyol pada laga pembuka Liga Nations, Sabtu lalu, Inggris sebenarnya tampil menyerang dan sempat memimpin lewat gelombang serangan yang memukau. Namun keunggulan itu tidak bertahan lama, dan untuk kesekian kalinya Inggris menyia-nyiakan posisi unggul melawan tim kelas atas.

Data menunjukkan betapa rapuhnya lini belakang Inggris dalam laga tersebut. Spanyol menciptakan expected goals sebesar 3,08 dari permainan terbuka, dan Inggris beruntung tidak tertinggal 4-0 sebelum Anthony Gordon menyamakan kedudukan setelah gol cepat Lamine Yamal. Dua dari tiga gol Spanyol lahir dari kesalahan individu, dengan Marc Guéhi dan Nico O’Reilly menjadi pihak yang dihukum.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Jordan Pickford sempat tampil kurang meyakinkan di bawah mistar selama Piala Dunia, sementara Ezri Konsa belum menunjukkan konsistensi sebagai partner Guéhi di jantung pertahanan. Tuchel menginginkan garis pertahanan yang agresif dan lebih memilih pasangan mobile Konsa-Guéhi pada tujuh dari 13 laga terakhir. Alternatif seperti Jarrad Branthwaite, Trevoh Chalobah, dan Levi Colwill masih minim jam terbang di level ini, dan sosok pengganti sepadan untuk John Stones pun belum muncul.

Clean Sheet di Kualifikasi Ternyata Menyesatkan

Rekor clean sheet Inggris sepanjang 2025 sempat memberi kesan pertahanan yang kokoh. Inggris melewati kualifikasi Piala Dunia tanpa kebobolan satu gol pun, lalu menutup laga uji coba melawan Wales dengan nol kebobolan. Namun perlindungan itu ternyata lebih banyak ditopang kualitas lawan yang jauh di bawah Inggris, bukan oleh kekuatan lini belakang itu sendiri.

Membendung Albania, Andorra, Latvia, dan Serbia di kualifikasi praktis tidak memberi gambaran apa pun tentang kesiapan Inggris menghadapi tim sekelas elite. Clean sheet di laga pemanasan Piala Dunia melawan Selandia Baru dan Kosta Rika pun nyaris tanpa ujian berarti. Inggris bahkan beruntung tidak kebobolan saat melawan Ghana dan Panama di fase grup.

Sejak saat itu, gawang Inggris sudah dibobol oleh Uruguay, Jepang, Kroasia, Republik Demokratik Kongo, Meksiko, Norwegia, Argentina, Prancis, dan Spanyol. Daftar itu memperlihatkan pola yang jelas: begitu berhadapan dengan lawan yang mampu menekan dan memanfaatkan ruang dengan cepat, Inggris kehilangan kendali.

Menarik untuk dibandingkan dengan era Gareth Southgate, yang juga beberapa kali kebobolan dari umpan silang dan bola mati di laga-laga besar melawan Kroasia, Italia, dan Spanyol. Harry Maguire, yang kuat dalam duel udara, tampil di dua dari laga tersebut. Tuchel memilih menyingkirkannya demi pendekatan yang lebih progresif daripada sekadar menahan gempuran.

Pola Kebobolan yang Berulang dari Berbagai Celah

Ada anggapan keliru bahwa Inggris adalah spesialis bertahan total di bawah tekanan. Kenyataannya, ketika bermain dengan sepuluh pemain saat mengalahkan Meksiko di babak 16 besar, Inggris memang tampil heroik, tetapi mereka juga memberi banyak peluang dari umpan silang ketika jumlah pemain masih seimbang di Stadion Azteca. Tekanan lawan pada akhirnya selalu membuahkan hasil.

Argentina menjadi contoh paling pahit. Melihat Inggris mundur, mereka berulang kali menyerang dari area sayap dan memastikan kemenangan lewat umpan silang Lionel Messi yang disundul Lautaro Martínez. Cara Inggris kebobolan pun sangat beragam: Uruguay mendapat penalti penyama kedudukan dari umpan silang dalam, Jepang menusuk lewat lini tengah dalam serangan balik, Meksiko memanfaatkan bola mati, Kroasia dan RD Kongo merepotkan dengan pergantian arah permainan, sementara Spanyol membelah lini tengah untuk mencetak gol kemenangan.

Terlalu mudah menyalahkan bek yang keluar dari posisi ketika semua ini terjadi. Yang perlu diingat, Inggris bukan tim yang sama ketika Declan Rice absen di lini tengah. Rice memberi intersepsi, disiplin posisi, serta kemampuan menutup lubang yang tidak dimiliki pemain lain di skuad saat ini.

Rice, Sisi Sayap, dan Badai Cedera

Absennya Rice terlihat jelas dalam satu momen melawan Spanyol. Konsa salah membaca intersepsi setelah meninggalkan posisinya untuk mengejar bola buangan Unai Simón, dan James Trafford harus menyelamatkan gawang setelah Ferran Torres menerobos celah besar di pertahanan Inggris. Risiko yang diambil terlalu ekstrem: Inggris mencoba bertahan satu lawan satu, tetapi bek tengah mereka tidak berada di tempat, dan Jarell Quansah berada sepuluh yard lebih dalam dibanding O’Reilly di sisi lain.

Sebagian persoalan ini bisa dikaitkan dengan minimnya pengalaman. O’Reilly dan Quansah masih muda dan lebih nyaman bermain sebagai bek tengah. Southgate dulu punya semacam “kode curang” bernama Kyle Walker dalam performa puncaknya, yang kecepatan pemulihannya memungkinkan Inggris bermain tinggi. Reece James kini jadi pilihan utama Tuchel, tetapi tidak memiliki ketahanan fisik Walker. James absen dari pemusatan latihan kali ini akibat cedera lagi, dan di Chelsea ia sering dimainkan sebagai gelandang karena klub menilai sang kapten belum sanggup menjalankan peran bek sayap modern secara penuh.

Karena itu, tidak ideal bahwa Tuchel harus terus mengubah komposisi. Southgate tahu empat bek terbaiknya: Walker, Stones, Maguire, dan Luke Shaw. Tuchel masih mencari kuartet yang stabil. Tino Livramento menarik diri pekan lalu, sementara Stones, Djed Spence, dan Dan Burn juga tidak tersedia. O’Reilly dan Konsa bahkan menjalani program latihan individu sebelum Inggris terbang ke Praha pada Senin. Lewis Hall, yang baru mengoleksi empat penampilan, berpeluang menggantikan O’Reilly di posisi bek kiri.

Alexander-Arnold, Solusi yang Selama Ini Diabaikan

Di tengah semua kekacauan itu, Trent Alexander-Arnold berpeluang kembali memperkuat Inggris untuk pertama kalinya sejak tampil singkat melawan Andorra pada Juni 2025. Tuchel telah mencoba delapan bek kanan berbeda sejak terakhir memberi kesempatan kepada pemain Real Madrid tersebut. Ia tidak membawanya ke Piala Dunia dan diyakini masih meragukan kemampuan bertahan Alexander-Arnold.

Argumen tandingannya sederhana: pertahanan Inggris tidak sedang dalam kondisi kokoh meski tanpa Alexander-Arnold, jadi apa yang sebenarnya dipertaruhkan bila Tuchel mencoba memanfaatkan ancaman kreatifnya? Dengan lini belakang yang masih berjuang menemukan bentuk terbaik dan jadwal berat melawan Ceko serta Kroasia, opsi menambah daya gedor dari sisi kanan bisa jadi lebih berguna daripada mempertahankan status quo.

Pada akhirnya, persoalan pertahanan Inggris bukan sekadar soal siapa yang berdiri di empat posisi belakang. Ada ketergantungan pada Rice, minimnya pengalaman pemain muda, dan badai cedera yang memaksa Tuchel terus bereksperimen. Laga melawan Ceko dan Kroasia akan menjadi ujian nyata apakah pendekatan agresif yang diusung pelatih asal Jerman itu bisa berjalan tanpa mengorbankan kestabilan.

Satu clean sheet yang meyakinkan akan sangat berarti untuk memulihkan kepercayaan diri skuad sebelum pertarungan memperebutkan tiket perempat final pada Maret. Jika pertahanan tetap bocor, pertanyaan tentang Alexander-Arnold dan pilihan personel lainnya hanya akan semakin keras menggema.