Sam Gough, Kapten Para Lionesses yang Dulu Disebut ‘Hazard’
admin
Sam Gough bersiap memimpin tim nasional sepak bola buta putri Inggris, Para Lionesses, pada Kejuaraan Eropa IBSA 2026 yang bergulir di Istanbul, Turki, mulai Sabtu ini. Kapten berusia 23 tahun itu mengaku datang dengan kepercayaan diri penuh, bukan hanya karena kualitas skuadnya, tetapi juga karena hidupnya berubah sejak didampingi Helga, anjing pemandunya. Dalam wawancara eksklusif dengan buletin Moving the Goalposts, Gough menyebut kehadiran Helga sebagai momen yang membebaskannya.
Kisah Sam Gough menarik bukan sekadar karena prestasi sepak bolanya. Ia menekuni dua cabang olahraga internasional sekaligus, yakni sepak bola buta dan dayung, dan baru saja finis kedua di Home International Rowing Beach Sprints untuk Skotlandia dua hari sebelum wawancara berlangsung. Di tengah beban latihan penuh waktu dari dua disiplin berbeda itu, sosok Helga memegang peran besar dalam menjaga kemandirian dan mobilitasnya sehari-hari.
Helga, Anjing Pemandu yang Mengubah Hidup Gough
Helga adalah labrador hitam berusia tiga tahun yang bekerja sebagai anjing pemandu. Ketika ditemui di Poltonhall Sports Complex di Bonnyrigg, Skotlandia, ia sempat memperhatikan seekor merpati di dekat ruang ganti, dan telinga, lidah, serta ekornya langsung memberi isyarat bahwa ia sangat ingin mengejar burung itu. Namun ia menahan diri dan tetap menjalankan tugasnya — gambaran kecil dari disiplin yang membuatnya dipercaya mendampingi seorang atlet kapten tim nasional.
Bagi Gough, kehadiran Helga bukan sekadar alat bantu mobilitas. Ia melukiskan perubahannya dengan kiasan yang kuat: “Rasanya seperti saya seekor burung yang terkurung di dalam sangkar dan akhirnya bisa terbang serta mengepakkan sayap.” Sebelum Helga masuk ke hidupnya, ia harus bergantung pada orang tuanya untuk mengantar dan menjemputnya bepergian ke berbagai kota demi latihan. Kini, dengan Helga, ia bisa berangkat ke pemusatan latihan sendiri.
Momen ketika ia mengetahui akan mendapatkan Helga pun membekas kuat. Gough menceritakan bahwa ia sedang berada di salon kuku saat telepon itu datang, dan ia langsung menangis karena begitu emosional. Baginya, penantian akan momen yang mengubah hidup seperti itu terasa sangat panjang. “Sejak kecil saya selalu memasang target, misalnya di usia berapa saya bisa pergi ke toko sendirian dan membeli susu,” ujarnya. Ia menargetkan usia 18 tahun, tetapi saat usia itu tiba ia belum mampu melakukannya.
Setelah Helga hadir, salah satu hal pertama yang ia lakukan adalah pergi ke toko terdekat untuk membeli sebotol susu. Hal sesederhana itu membuatnya sadar betapa berharganya memiliki anjing pemandu dalam hidupnya. Keseharian ini juga menyatu dengan rutinitas olahraganya: Helga rutin berada di area bangku cadangan ketika Gough berlatih.
Dari “Hazard” di Pelajaran Olahraga ke Kapten Para Lionesses
Perjalanan Gough menuju level elite tidak berlangsung mulus. Ia tumbuh dengan kecintaan besar pada sepak bola, tetapi harus menerima kenyataan pahit ketika penglihatannya perlahan menurun sepanjang masa kecil. Ia tinggal di Edinburgh dan hidup dengan kondisi bernama cerebral vision impairment, akibat kerusakan pada jalur penghubung antara mata dan otaknya sejak ia lahir.
Di sekolah, ia justru dikeluarkan dari pelajaran pendidikan jasmani dan menjadi sasaran perundungan. “Saya sangat ingin terlibat, tetapi ketika penglihatan saya makin berkurang, saya diberi tahu bahwa saya tidak akan bisa ikut berolahraga. Saya bahkan dikeluarkan dari pelajaran olahraga karena dianggap sebagai ‘hazard’,” kenangnya. Saat itu ia mengira mimpinya berolahraga tidak akan pernah terwujud.
Titik terang datang ketika ia melanjutkan pendidikan di Royal National College for the Blind di Hereford. Di sana ia mencoba sepak bola buta untuk pertama kalinya dan menyadari bahwa pintu untuk bermain sepak bola terbuka baginya. Seiring bertambahnya usia, ia memahami bahwa apa yang dialaminya dulu adalah bentuk eksklusi dalam olahraga, dan hal itu tidak seharusnya diterima sebagai kewajaran.
Pengalaman itu pula yang menjadikannya advokat vokal bagi olahraga inklusif dan kesempatan yang lebih luas bagi kaum muda. Ia mengakui masa kecilnya yang penuh perundungan membuatnya lebih tangguh, tetapi sekaligus menjadi salah satu pengalaman terburuk dalam hidupnya. Kini ia berdiri sebagai kapten Inggris sejak 2022 dan dianggap sebagai salah satu striker terbaik dunia di cabangnya, dengan klasifikasi atlet para B1.
Bagaimana Sepak Bola Buta Dimainkan
Sepak bola buta dimainkan dengan format lima lawan lima, di mana empat pemain lapangan mengenakan penutup mata. Penonton pun dituntut tetap diam selama pertandingan berlangsung, karena pemain mengandalkan pendengaran untuk membaca arah bola dan posisi rekan maupun lawan. Sebelum merebut bola, pemain wajib meneriakkan kata “voy”.
Bola yang dipakai juga dirancang khusus, dengan lempeng logam di dalamnya yang menimbulkan bunyi gemerincing agar pemain bisa melacak keberadaannya. Konsekuensinya, bola terasa jauh lebih berat dibandingkan bola biasa. “Saat menendang bola, jempol kaki bisa sangat sakit. Kuku jari kaki saya sudah tidak ada lagi karena terus menghantam lempeng logam,” ujar Gough setengah bercanda.
Karena permainan sepenuhnya bergantung pada suara, keseimbangan tubuh menjadi faktor yang sangat krusial. Menurut Gough, stabilitas inti tubuh harus benar-benar kuat agar pemain bisa bertahan dalam duel dan menjaga posisi. Kombinasi antara pendengaran tajam, kontrol tubuh, dan keberanian itulah yang membuat pencapaian para pemain sepak bola buta terasa luar biasa.
Misi di Kejuaraan Eropa dan Peta Persaingan
Di Istanbul nanti, Inggris akan bersaing dengan tim dari Austria dan Polandia, tuan rumah Turki, serta satu tim para netral. Edisi perdana kejuaraan wanita ini digelar empat tahun lalu di Pescara, di pesisir Adriatik Italia, dan saat itu Inggris keluar sebagai runner-up di bawah Jerman. Hasil tersebut menjadi salah satu pijakan penting bagi perkembangan tim yang kini dikenal dengan nama Para Lionesses itu.
Modal terbaru Inggris justru datang dari Kejuaraan Dunia 2025 di India. Mereka finis di posisi kedua setelah menaklukkan Jepang, Polandia, dan India, sebelum akhirnya kalah dari Argentina di partai final. Gough menyebut pencapaian itu sebagai suntikan kepercayaan diri yang sangat dibutuhkan skuadnya.
Menjelang kejuaraan di Turki, ia mengakui perasaannya campur aduk. “Perjalanan ke Turki pekan ini membuat saya gugup, tetapi penampilan kami di Kejuaraan Dunia India benar-benar memberi kami kepercayaan diri yang kami butuhkan,” katanya. Menurutnya, ada beberapa tim yang kuat, sehingga Inggris akan memasuki setiap pertandingan dengan keyakinan pada kemampuan skuad dan semangat saling mendukung.
Ada satu keunikan dalam tim Inggris: Gough adalah orang Skotlandia. Ia diperbolehkan memperkuat Inggris semata-mata karena Skotlandia tidak memiliki tim sepak bola buta putri, dan hal yang sama berlaku untuk Wales. Karena itu, skuad Inggris saat ini berisi pemain dari berbagai penjuru Britania Raya. Sementara itu, di cabang dayung, Gough tetap membela Skotlandia dan baru saja meraih posisi kedua di ajang internasional.
Pengakuan, Advokasi, dan Babak Berikutnya
Pada Juni tahun ini, Gough menerima MBE dalam daftar penghargaan ulang tahun raja, atas jasanya bagi olahraga dan komunitas penyandang tunanetra. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas kerja panjangnya, tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai figur yang membuka jalan bagi orang lain. Ia telah mengajarkan sepak bola buta kepada anak-anak sekolah dan sejumlah tokoh besar dunia sepak bola.
Pengalaman mengajarnya bahkan menjangkau ikon Brasil, Kaká dan Cafu, serta sejumlah pemain tim nasional putri Inggris asuhan Sarina Wiegman yang pernah menerima demonstrasi darinya. Kegiatan semacam itu penting karena memperlihatkan bahwa sepak bola buta bukan sekadar cabang para pelengkap, melainkan olahraga kompetitif dengan aturan, taktik, dan level persaingan yang serius.
Perjalanan Para Lionesses ke Turki juga berlangsung setahun sebelum Kejuaraan Dunia berikutnya pada Oktober 2027 di São Paulo, Brasil. Artinya, kejuaraan di Istanbul menjadi tolok ukur penting bagi persiapan jangka panjang Inggris menghadapi panggung yang lebih besar. Di sisi lain, kemitraan seperti Gough dan Helga turut didukung para pemain Postcode Lottery yang membantu pendanaan Guide Dogs, lembaga yang menaungi anjing pemandu tersebut.
Penutup
Kisah Sam Gough memperlihatkan dua hal yang saling terkait: dukungan yang tepat dapat mengubah hidup seseorang, dan kesempatan yang terbuka dapat menghasilkan atlet kelas dunia. Dari anak yang dikeluarkan dari pelajaran olahraga karena dianggap berisiko, ia kini menjadi kapten Para Lionesses yang bersiap bersaing di level Eropa. Helga menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan itu, menemani langkahnya baik di lapangan maupun di luar lapangan.
Yang tersisa kini adalah pertandingan di Istanbul. Jika kepercayaan diri yang ia bangun bersama skuadnya terbukti di lapangan, gelar Eropa pertama bagi Inggris bukan lagi sekadar harapan bagi Gough dan rekan-rekannya.
Sam Gough bersiap memimpin tim nasional sepak bola buta putri Inggris, Para Lionesses, pada Kejuaraan Eropa IBSA 2026 yang bergulir di Istanbul, Turki, mulai Sabtu ini. Kapten berusia 23 tahun itu mengaku datang dengan kepercayaan diri penuh, bukan hanya karena kualitas skuadnya, tetapi juga karena hidupnya berubah sejak didampingi Helga, anjing pemandunya. Dalam wawancara eksklusif dengan buletin Moving the Goalposts, Gough menyebut kehadiran Helga sebagai momen yang membebaskannya.
Kisah Sam Gough menarik bukan sekadar karena prestasi sepak bolanya. Ia menekuni dua cabang olahraga internasional sekaligus, yakni sepak bola buta dan dayung, dan baru saja finis kedua di Home International Rowing Beach Sprints untuk Skotlandia dua hari sebelum wawancara berlangsung. Di tengah beban latihan penuh waktu dari dua disiplin berbeda itu, sosok Helga memegang peran besar dalam menjaga kemandirian dan mobilitasnya sehari-hari.
Helga, Anjing Pemandu yang Mengubah Hidup Gough
Helga adalah labrador hitam berusia tiga tahun yang bekerja sebagai anjing pemandu. Ketika ditemui di Poltonhall Sports Complex di Bonnyrigg, Skotlandia, ia sempat memperhatikan seekor merpati di dekat ruang ganti, dan telinga, lidah, serta ekornya langsung memberi isyarat bahwa ia sangat ingin mengejar burung itu. Namun ia menahan diri dan tetap menjalankan tugasnya — gambaran kecil dari disiplin yang membuatnya dipercaya mendampingi seorang atlet kapten tim nasional.
Bagi Gough, kehadiran Helga bukan sekadar alat bantu mobilitas. Ia melukiskan perubahannya dengan kiasan yang kuat: “Rasanya seperti saya seekor burung yang terkurung di dalam sangkar dan akhirnya bisa terbang serta mengepakkan sayap.” Sebelum Helga masuk ke hidupnya, ia harus bergantung pada orang tuanya untuk mengantar dan menjemputnya bepergian ke berbagai kota demi latihan. Kini, dengan Helga, ia bisa berangkat ke pemusatan latihan sendiri.
Momen ketika ia mengetahui akan mendapatkan Helga pun membekas kuat. Gough menceritakan bahwa ia sedang berada di salon kuku saat telepon itu datang, dan ia langsung menangis karena begitu emosional. Baginya, penantian akan momen yang mengubah hidup seperti itu terasa sangat panjang. “Sejak kecil saya selalu memasang target, misalnya di usia berapa saya bisa pergi ke toko sendirian dan membeli susu,” ujarnya. Ia menargetkan usia 18 tahun, tetapi saat usia itu tiba ia belum mampu melakukannya.
Setelah Helga hadir, salah satu hal pertama yang ia lakukan adalah pergi ke toko terdekat untuk membeli sebotol susu. Hal sesederhana itu membuatnya sadar betapa berharganya memiliki anjing pemandu dalam hidupnya. Keseharian ini juga menyatu dengan rutinitas olahraganya: Helga rutin berada di area bangku cadangan ketika Gough berlatih.
Dari “Hazard” di Pelajaran Olahraga ke Kapten Para Lionesses
Perjalanan Gough menuju level elite tidak berlangsung mulus. Ia tumbuh dengan kecintaan besar pada sepak bola, tetapi harus menerima kenyataan pahit ketika penglihatannya perlahan menurun sepanjang masa kecil. Ia tinggal di Edinburgh dan hidup dengan kondisi bernama cerebral vision impairment, akibat kerusakan pada jalur penghubung antara mata dan otaknya sejak ia lahir.
Di sekolah, ia justru dikeluarkan dari pelajaran pendidikan jasmani dan menjadi sasaran perundungan. “Saya sangat ingin terlibat, tetapi ketika penglihatan saya makin berkurang, saya diberi tahu bahwa saya tidak akan bisa ikut berolahraga. Saya bahkan dikeluarkan dari pelajaran olahraga karena dianggap sebagai ‘hazard’,” kenangnya. Saat itu ia mengira mimpinya berolahraga tidak akan pernah terwujud.
Titik terang datang ketika ia melanjutkan pendidikan di Royal National College for the Blind di Hereford. Di sana ia mencoba sepak bola buta untuk pertama kalinya dan menyadari bahwa pintu untuk bermain sepak bola terbuka baginya. Seiring bertambahnya usia, ia memahami bahwa apa yang dialaminya dulu adalah bentuk eksklusi dalam olahraga, dan hal itu tidak seharusnya diterima sebagai kewajaran.
Pengalaman itu pula yang menjadikannya advokat vokal bagi olahraga inklusif dan kesempatan yang lebih luas bagi kaum muda. Ia mengakui masa kecilnya yang penuh perundungan membuatnya lebih tangguh, tetapi sekaligus menjadi salah satu pengalaman terburuk dalam hidupnya. Kini ia berdiri sebagai kapten Inggris sejak 2022 dan dianggap sebagai salah satu striker terbaik dunia di cabangnya, dengan klasifikasi atlet para B1.
Bagaimana Sepak Bola Buta Dimainkan
Sepak bola buta dimainkan dengan format lima lawan lima, di mana empat pemain lapangan mengenakan penutup mata. Penonton pun dituntut tetap diam selama pertandingan berlangsung, karena pemain mengandalkan pendengaran untuk membaca arah bola dan posisi rekan maupun lawan. Sebelum merebut bola, pemain wajib meneriakkan kata “voy”.
Bola yang dipakai juga dirancang khusus, dengan lempeng logam di dalamnya yang menimbulkan bunyi gemerincing agar pemain bisa melacak keberadaannya. Konsekuensinya, bola terasa jauh lebih berat dibandingkan bola biasa. “Saat menendang bola, jempol kaki bisa sangat sakit. Kuku jari kaki saya sudah tidak ada lagi karena terus menghantam lempeng logam,” ujar Gough setengah bercanda.
Karena permainan sepenuhnya bergantung pada suara, keseimbangan tubuh menjadi faktor yang sangat krusial. Menurut Gough, stabilitas inti tubuh harus benar-benar kuat agar pemain bisa bertahan dalam duel dan menjaga posisi. Kombinasi antara pendengaran tajam, kontrol tubuh, dan keberanian itulah yang membuat pencapaian para pemain sepak bola buta terasa luar biasa.
Misi di Kejuaraan Eropa dan Peta Persaingan
Di Istanbul nanti, Inggris akan bersaing dengan tim dari Austria dan Polandia, tuan rumah Turki, serta satu tim para netral. Edisi perdana kejuaraan wanita ini digelar empat tahun lalu di Pescara, di pesisir Adriatik Italia, dan saat itu Inggris keluar sebagai runner-up di bawah Jerman. Hasil tersebut menjadi salah satu pijakan penting bagi perkembangan tim yang kini dikenal dengan nama Para Lionesses itu.
Modal terbaru Inggris justru datang dari Kejuaraan Dunia 2025 di India. Mereka finis di posisi kedua setelah menaklukkan Jepang, Polandia, dan India, sebelum akhirnya kalah dari Argentina di partai final. Gough menyebut pencapaian itu sebagai suntikan kepercayaan diri yang sangat dibutuhkan skuadnya.
Menjelang kejuaraan di Turki, ia mengakui perasaannya campur aduk. “Perjalanan ke Turki pekan ini membuat saya gugup, tetapi penampilan kami di Kejuaraan Dunia India benar-benar memberi kami kepercayaan diri yang kami butuhkan,” katanya. Menurutnya, ada beberapa tim yang kuat, sehingga Inggris akan memasuki setiap pertandingan dengan keyakinan pada kemampuan skuad dan semangat saling mendukung.
Ada satu keunikan dalam tim Inggris: Gough adalah orang Skotlandia. Ia diperbolehkan memperkuat Inggris semata-mata karena Skotlandia tidak memiliki tim sepak bola buta putri, dan hal yang sama berlaku untuk Wales. Karena itu, skuad Inggris saat ini berisi pemain dari berbagai penjuru Britania Raya. Sementara itu, di cabang dayung, Gough tetap membela Skotlandia dan baru saja meraih posisi kedua di ajang internasional.
Pengakuan, Advokasi, dan Babak Berikutnya
Pada Juni tahun ini, Gough menerima MBE dalam daftar penghargaan ulang tahun raja, atas jasanya bagi olahraga dan komunitas penyandang tunanetra. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas kerja panjangnya, tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai figur yang membuka jalan bagi orang lain. Ia telah mengajarkan sepak bola buta kepada anak-anak sekolah dan sejumlah tokoh besar dunia sepak bola.
Pengalaman mengajarnya bahkan menjangkau ikon Brasil, Kaká dan Cafu, serta sejumlah pemain tim nasional putri Inggris asuhan Sarina Wiegman yang pernah menerima demonstrasi darinya. Kegiatan semacam itu penting karena memperlihatkan bahwa sepak bola buta bukan sekadar cabang para pelengkap, melainkan olahraga kompetitif dengan aturan, taktik, dan level persaingan yang serius.
Perjalanan Para Lionesses ke Turki juga berlangsung setahun sebelum Kejuaraan Dunia berikutnya pada Oktober 2027 di São Paulo, Brasil. Artinya, kejuaraan di Istanbul menjadi tolok ukur penting bagi persiapan jangka panjang Inggris menghadapi panggung yang lebih besar. Di sisi lain, kemitraan seperti Gough dan Helga turut didukung para pemain Postcode Lottery yang membantu pendanaan Guide Dogs, lembaga yang menaungi anjing pemandu tersebut.
Penutup
Kisah Sam Gough memperlihatkan dua hal yang saling terkait: dukungan yang tepat dapat mengubah hidup seseorang, dan kesempatan yang terbuka dapat menghasilkan atlet kelas dunia. Dari anak yang dikeluarkan dari pelajaran olahraga karena dianggap berisiko, ia kini menjadi kapten Para Lionesses yang bersiap bersaing di level Eropa. Helga menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan itu, menemani langkahnya baik di lapangan maupun di luar lapangan.
Yang tersisa kini adalah pertandingan di Istanbul. Jika kepercayaan diri yang ia bangun bersama skuadnya terbukti di lapangan, gelar Eropa pertama bagi Inggris bukan lagi sekadar harapan bagi Gough dan rekan-rekannya.
AUTHOR
admin