,

Boikot Piala Dunia Wanita U20: Momentum Mengguncang FIFA


Boikot Piala Dunia Wanita U20 yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang memang berisiko menyakitkan dalam jangka pendek, tetapi langkah berani ini bisa menjadi momentum untuk mengguncang FIFA sekaligus mengirim pesan vital ke federasi sepak bola dunia tersebut. Para pemain muda yang menjadi korban politik sepak bola global sejatinya tidak bersalah, tetapi justru keberanian mereka untuk mundur dari turnamen dapat memaksa FIFA melakukan introspeksi besar-besaran. Inilah mengapa wacana boikot yang mengemuka belakangan ini tidak boleh dianggap remeh.

Kekuatan untuk mendorong perubahan besar yang hanya terjadi sekali dalam satu generasi di FIFA kini berada di tangan tim-tim putri. Ancaman boikot membayangi Piala Dunia Wanita U20, Piala Dunia Wanita U17 yang bergulir pada Oktober, serta laga play-off Piala Dunia senior pada bulan yang sama menuju Piala Dunia Wanita di Brasil musim panas mendatang. Situasi ini muncul di tengah masa depan Gianni Infantino yang menggantung, setelah ia kembali terpilih sebagai presiden FIFA pada Maret 2023 tetapi kini menghadapi tekanan yang semakin besar dari berbagai arah.

The FIFA logo is seen at its Africa regional office in Sale on August 5, 2026. President Gianni Infantino held emergency talks with other FIFA directors in Morocco on August 5, a source told AFP, amid a wave of criticism over his now shelved plan to open the World Cup to private investment. (Photo by Abdel Majid BZIOUAT / AFP)

Ancaman Boikot Piala Dunia Wanita U20 dan Sikap Lisa Nandy

Pekan ini, Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy mengatakan kepada BBC bahwa Infantino “harus pergi”. Secara keseluruhan, pernyataan Nandy tentang kepemimpinan FIFA dinilai cukup baik, tetapi ia menegaskan tidak akan mendukung boikot Piala Dunia Wanita U20. Nandy beralasan ia “secara umum tidak mendukung boikot olahraga sama sekali” karena langkah tersebut dinilai secara tidak adil menghukum para atlet yang tidak bertanggung jawab atas alasan di balik boikot.

Namun, pada titik inilah penting untuk berbeda pendapat secara sopan dengan Nandy dan banyak pihak lain yang memiliki pandangan serupa. Memang terasa sangat tidak adil jika gejolak politik sepak bola berdampak negatif pada perkembangan pesepak bola wanita muda terbaik dunia tanpa kesalahan mereka sedikit pun. Akan tetapi, justru karena ketidakadilan itulah boikot yang dilakukan oleh negara-negara peserta akan mengirim pesan yang begitu kuat dan sulit diabaikan FIFA.

Kontroversi Infantino: Pidato Merendahkan hingga Ketimpangan Gender

Kontroversi seputar Infantino sebenarnya sudah berlangsung lama. Tiga tahun lalu, dalam pidato yang tidak peka dan merendahkan di Sydney, ia mengatakan kepada para perempuan untuk “memilih pertempuran yang tepat” dan “mendorong pintu yang sudah terbuka”. Pidato yang disampaikan sehari menjelang final Piala Dunia Wanita itu membuat para pendengarnya, termasuk sejumlah tokoh perempuan paling senior di sepak bola dunia, merasa sangat frustrasi.

Yang lebih memprihatinkan, monolog yang merendahkan itu kini nyaris tidak masuk dalam 10 besar momen paling kontroversial sejak Infantino terpilih kembali. Catatan kepemimpinannya dipenuhi berbagai persoalan, mulai dari rencana penjualan saham turnamen FIFA melalui anak usaha bernama FIFA Forward Enterprise yang akhirnya dibatalkan, hingga ketimpangan gender yang mencolok di berbagai lini. Padahal, jika skema FIFA Forward Enterprise itu sempat direalisasikan, seluruh turnamen wanita FIFA juga akan ikut terdampak.

Data ketimpangan gender di tubuh FIFA memang sulit dibantah. Hanya ada dua perempuan di antara 18 anggota Komite Disiplin FIFA, yakni Paola López dari Meksiko dan Thi My Dung Nguyen dari Vietnam. Sementara itu, seluruh 10 anggota Komite Future of Football FIFA adalah laki-laki.

Di Dewan FIFA, badan strategis sekaligus pengawas organisasi, hanya delapan dari 37 anggotanya adalah perempuan, dan tujuh dari delapan wakil presiden juga laki-laki. Ketimpangan ini makin terlihat jelas jika membandingkan total hadiah uang: Piala Dunia Wanita 2023 tercatat sebesar 110 juta dolar AS, sementara Piala Dunia putra musim panas ini mencapai rekor 871 juta dolar AS, atau sekitar delapan kali lebih besar. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa persoalan di FIFA bukan sekadar gaya kepemimpinan, tetapi juga struktur yang masih sangat didominasi laki-laki.

Mengapa Boikot Diperlukan demi Masa Depan Sepak Bola Wanita

Memang menggoda untuk mengikuti sikap diam-diam yang diambil banyak pihak yang berkecimpung di sepak bola wanita, bahwa akan menjadi tragedi bila olahraga yang telah diabaikan dan dikecewakan oleh otoritas selama bergenerasi kembali dirugikan oleh gangguan terhadap turnamen sebesar ini. Namun, kenyataan pahitnya adalah generasi muda bintang sepak bola wanita justru menjadi pihak yang paling terdampak oleh keputusan yang diambil badan pengelola dalam beberapa hari, minggu, dan bulan ke depan. Merekalah yang kelak akan merasakan langsung konsekuensi dari kebijakan yang diambil saat ini.

Tidak adil memang jika tim-tim wanita, terutama tim muda, harus memikul tanggung jawab untuk mengambil sikap menentang rencana penjualan saham turnamen FIFA yang kini telah dibatalkan tersebut. Akan tetapi, masa depan mereka serta penyelenggaraan final Piala Dunia yang akan menentukan karier mereka justru sedang dipertaruhkan. Perdebatan tentang tata kelola olahraga dan keputusan siapa yang menjalankan sepak bola seharusnya melibatkan suara yang jauh lebih lantang dari para pemain, pelatih, dan penggemar sepak bola wanita, terutama dalam persoalan ketidakadilan yang jauh lebih mengakar daripada sekadar berita yang mendominasi pekan-pekan terakhir.

Perbaikan yang Ada Belum Cukup

Tentu tidak adil pula jika dikatakan tidak ada kemajuan sama sekali dalam sepak bola wanita sejak Infantino menjabat pada 2016. Satu dekade terakhir mencatat peningkatan yang memang sudah lama tertunda dalam hal fasilitas bagi pemain dan pelatih di turnamen wanita, pertumbuhan investasi finansial yang cukup besar, serta kenaikan hadiah uang yang signifikan meskipun dimulai dari dasar yang sangat rendah. Sejumlah tokoh kunci di sepak bola wanita dari berbagai benua juga diketahui mendukung Infantino dan mengapresiasi perbaikan bertahap yang terjadi, sambil tetap mengakui bahwa perjalanan masih sangat panjang.

Namun, semua pihak yang terkait dengan sepak bola wanita seharusnya merasa khawatir karena dokumen penawaran setebal 25 halaman berjudul FIFA Forward Enterprise Member Materials hanya memuat satu referensi simbolis tentang sepak bola wanita. Ini membuktikan bahwa perhatian terhadap sepak bola wanita masih sekadar pelengkap, bukan prioritas utama. Karena itulah, sikap bek Inggris Lucy Bronze yang menyatakan dukungannya terhadap boikot “demi kebaikan sepak bola” merupakan langkah yang tepat dan layak didukung.

Dukungan untuk Infantino Mulai Retak

Jumat pagi lalu, babak terbaru dari ketidakpastian masa depan Infantino membawa kabar positif sekaligus negatif. Di satu sisi, Konfederasi Sepak Bola Oseania menyatakan dukungannya kepada Infantino. Namun di sisi lain, anggota terbesar konfederasi itu, Selandia Baru, justru menarik dukungannya terhadap presiden FIFA tersebut.

Selandia Baru, yang menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia Wanita terakhir dengan reputasi yang nyaris sempurna, tentu memiliki banyak alasan untuk mendukung Infantino. Akan tetapi, mereka justru memilih menggunakan platformnya untuk menuntut “tata kelola yang lebih kuat, akuntabilitas, dan transparansi”. Sikap ini menjadi sinyal kuat bahwa bahkan negara yang selama ini dianggap dekat dengan FIFA mulai mengambil jarak.

Menariknya, pada Kamis, situs resmi FIFA memuat artikel berjudul “Europe’s Finest Hours at the Under-20 Women’s World Cup” yang mengenang penampilan gemilang bintang-bintang muda seperti Salma Paralluelo dari Spanyol pada 2022 dan penyerang Jerman Alexandra Popp pada 2010. Bulan depan, enam tim Eropa, termasuk tuan rumah Polandia, dijadwalkan unjuk gigi di pentas Piala Dunia Wanita U20. Apakah kemunculan artikel itu murni kebetulan, bernuansa politis, atau justru ironis, satu hal yang pasti: momen terbaik tim-tim wanita U20 Eropa mungkin saja belum tiba.

Kesimpulan

Pada akhirnya, boikot Piala Dunia Wanita U20 memang bukan keputusan mudah dan akan terasa tidak adil bagi para pemain muda yang telah bekerja keras untuk tampil di panggung dunia. Namun, jika tidak ada yang berani mengambil sikap, pesan tentang ketidakadilan struktural di FIFA hanya akan menjadi wacana tanpa tindakan nyata. Sejarah perubahan besar sering kali lahir dari keputusan sulit yang diambil oleh mereka yang paling terdampak.

Ancaman boikot ini mengingatkan FIFA bahwa sepak bola wanita tidak bisa terus dijadikan komoditas atau sekadar pelengkap turnamen. Masa depan Infantino memang masih menggantung, tetapi yang jauh lebih penting adalah masa depan ribuan perempuan yang bermimpi berkarier di sepak bola. Keputusan yang diambil dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan apakah FIFA benar-benar siap mendengarkan, atau justru semakin tenggelam dalam kontroversinya sendiri.