,

Bradford City Kehilangan Alexander di Tengah Puncak Klasemen


Bradford City kehilangan Graham Alexander di momen paling krusial musim ini. Sang manajer memutuskan mundur dari jabatannya pekan ini, tepat ketika The Bantams berada di puncak klasemen League One. Keputusan tersebut menjadi pukulan mendadak bagi skuad yang mulai membayangkan kembalinya klub ke kasta kedua Inggris untuk pertama kalinya dalam 23 tahun.

Yang membuat situasi ini rumit, kepergian Alexander terjadi kurang dari dua bulan setelah kompetisi bergulir. Klub sudah menghabiskan musim panas untuk merekrut pemain yang cocok dengan gaya sepak bola agresif, langsung, dan menekan tinggi ala Alexander. Kini Bradford harus mencari sosok baru yang mampu meneruskan fondasi itu tanpa kehilangan momentum promosi, sementara dua pelatih tim, Mark Trueman dan Colin Doyle, mengambil alih sementara.

Kepergian di Tengah Puncak Klasemen

Kabar kepergian Alexander sampai ke ruang ganti ketika para pemain sedang menyiapkan diri untuk pekan pertandingan. Trueman dan Doyle langsung menggelar pertemuan dengan skuad pada Senin lalu agar semua pemain jelas siapa yang akan memimpin tim. Menurut Trueman, sebagian pemain sempat gelisah karena tidak memahami apa yang sedang terjadi di dalam klub.

“Beberapa pemain agak tidak tenang, mereka tidak tahu apa yang terjadi atau siapa yang menangani tim,” kata Trueman. “Tapi para pemain langsung mengerjakan tugasnya dan itu yang paling penting. Ini menunjukkan mentalitas tim ini. Situasi seperti ini bisa dengan mudah membuat kami keluar jalur, tetapi mereka terus melakukan hal yang benar.”

Bagi Trueman, ini bukan tugas darurat pertama. Ia sudah lima kali mengambil alih tim secara sementara sejak bergabung sebagai pelatih U-18 enam tahun lalu. Namun kali ini konteksnya berbeda: jika sebelumnya ia ditugaskan membangkitkan tim dari masa sulit, sekarang tugasnya justru menjaga laju positif yang dimulai sejak Alexander datang pada 2023.

Jejak Alexander: Kebangkitan Bradford City dari Kasta Terbawah

Perubahan yang dibawa Alexander terbilang drastis. Saat ia tiba, Bradford masih terpuruk di kasta terbawah EFL dan hanya berada di posisi ke-16. Pada musim pertamanya tim finis di urutan kesembilan, lalu naik ke peringkat ketiga pada musim kedua sekaligus meraih promosi otomatis ke League One.

Musim berikutnya, Bradford tampil mengejutkan dengan finis keempat di League One, meski akhirnya tersingkir di semifinal play-off pada Mei lalu. Perjalanan itu terasa istimewa bagi para pendukung yang sudah lama tidak menikmati kompetisi di papan atas. Sejumlah capaian Alexander bersama Bradford antara lain:

  • Dua kali mencapai semifinal EFL Trophy pada musim yang berurutan.
  • Sepuluh kemenangan kandang beruntun, memecahkan rekor klub yang bertahan sejak 1953.
  • Rekor kandang terbaik di antara seluruh klub di lima liga top Eropa pada tahun lalu.
  • 79 kemenangan dari 158 pertandingan, rasio kemenangan terbaik di antara manajer Bradford yang menangani minimal 65 laga.

Chief executive Bradford, Ryan Sparks, menyebut Alexander dan asisten manajer Chris Lucketti — yang mengikutinya ke Preston — telah menghadirkan “beberapa momen paling luar biasa dalam sejarah terbaru klub”. Pernyataan itu menegaskan betapa besar pengaruh keduanya terhadap kebangkitan Bradford dalam beberapa tahun terakhir.

Preston, Klub Lama yang Sulit Ditolak

Alexander dikabarkan menyampaikan kepada manajemen Bradford bahwa ia memiliki ambisi melatih di Championship. Peluang dari Preston datang tiba-tiba, dan daya tarik klub itu memang sulit diabaikan. Preston merupakan klub yang pernah ia kapteni dan bela dalam 400 pertandingan selama delapan tahun, dari 1999 hingga 2007.

Kota itu juga tempat anak-anaknya dibesarkan, sehingga kepulangan ke Preston terasa sebagai langkah yang emosional sekaligus masuk akal bagi kariernya. Ada pula anggapan bahwa jika ia bertahan, Alexander berpeluang mengantar Bradford promosi sekali lagi. Namun ia mungkin menilai dua promosi beruntun justru berisiko membuat timnya menjadi lumbung poin di Championship, sementara Preston menawarkan pijakan yang lebih stabil.

Reaksi Fans dan Kekhawatiran di Kursi Direksi

Respons pendukung terbelah antara sedih, marah, dan cemas. Di forum maupun media sosial, mayoritas mengakui Alexander meninggalkan klub dalam kondisi lebih kuat dibanding saat ia datang. Meski begitu, cukup banyak yang kecewa pada timingnya karena klub baru menjalani dua bulan kompetisi setelah belanja pemain di musim panas.

Kekecewaan itu terlihat langsung di tribun. Setelah Jake Beesley mencetak gol pada menit keempat saat Bradford bertandang ke Reading, 1.118 pendukung yang menempuh perjalanan pulang-pergi 400 mil menyanyikan lagu tentang posisi puncak klasemen. Namun tidak sekali pun mereka menyanyikan nama manajer yang sudah pergi.

Bradford kini berada di wilayah yang tidak biasa. Untuk pertama kalinya dalam 43 tahun, klub kehilangan manajer di tengah musim, dan sebagian fans meragukan ketajaman jajaran eksekutif dalam memilih pengganti. Keraguan itu muncul karena rekam jejak penunjukan manajer sebelum era Alexander dinilai kurang meyakinkan.

Kandidat Pengganti dan Taruhan di Sisa Musim

Di bangku lawan saat laga di Select Car Leasing Stadium berdiri salah satu kandidat terkuat. Leam Richardson, yang saat itu menangani Reading, sempat ditanya soal ketertarikannya mengambil alih Bradford. Ia menjawab bahwa dirinya akan berada di bangku Reading untuk pertandingan tersebut — jawaban yang dengan rapi menghindari spekulasi soal masa depannya, meski ia menegaskan belum dihubungi pihak mana pun.

Dari kursi direktur, Sparks dan kepala sepak bola David Sharpe disebut mengamati dengan saksama apakah Reading memperlihatkan gaya permainan yang cocok dengan fondasi yang dibangun Alexander. Ada sejumlah alasan yang membuat Richardson masuk akal sebagai kandidat: ia pernah bekerja dengan Sharpe, yang menjadi ketua di Wigan ketika Richardson menangani klub itu. Ia juga pernah melatih Callum Connolly, salah satu starter Bradford, serta Nick Powell yang masuk dari bangku cadangan.

Nama lain yang masuk bursa adalah Tom Cleverley, manajer Plymouth. Mantan gelandang Manchester United itu merupakan juara Premier League 2013 dan pada usia 37 tahun telah membangun reputasi kepelatihannya dalam dua tahun terakhir. Gol penyama kedudukan Udoka Godwin-Malife di babak kedua membuat Plymouth menyalip Bradford berdasarkan selisih gol, menambah tekanan pada persaingan di papan atas.

Penunjukan berikutnya akan sangat menentukan arah musim Bradford. Klub ini tidak hanya butuh sosok yang mampu menjaga posisi di puncak klasemen, tetapi juga figur yang bisa merawat budaya kerja dan identitas permainan yang sudah tertanam. Kesalahan memilih pelatih bisa membuyarkan peluang promosi yang sudah lama dinanti pendukung.

Di sisi lain, keberhasilan Bradford menemukan Alexander menunjukkan bahwa keputusan tepat di kursi manajer bisa mengubah nasib klub secara drastis. Justru karena itu, salah langkah kali ini akan terasa jauh lebih mahal. Puncak klasemen League One memberi modal besar, tetapi juga menuntut ketenangan dalam mengambil keputusan di tengah gejolak yang belum sepenuhnya reda.

Hingga pelatih permanen ditunjuk, Trueman dan Doyle memegang kendali sementara dengan tugas yang tidak sederhana: memastikan kepergian Alexander tidak mengubah arah tim. Selama skuad tetap tampil seperti yang ditunjukkan Trueman, peluang Bradford City melanjutkan perjuangan promosi masih terbuka lebar.