,

Marathon Pesepakbola: Milner 3:09 dan Rekor Tercepat


James Milner membuktikan bahwa marathon pesepakbola bukan sekadar tren sesaat. Mantan pemain Brighton, Liverpool, dan Manchester City itu menuntaskan New York City Marathon dengan waktu 3 jam 9 menit 4 detik, atau rata-rata 7 menit 13 detik per mil. Catatan tersebut sangat baik untuk seorang berusia 40 tahun yang baru menjalani masa pensiun, tetapi belum cukup membuatnya menjadi pesepakbola tercepat dalam nomor 42,195 kilometer.

Posisi Milner justru menarik untuk dibandingkan dengan generasi pesepakbola lain yang serius menekuni lari jarak jauh. Dalam daftar yang dibahas The Knowledge, catatan Milner berada di delapan besar dan sudah melampaui Muzzy Izzet, mantan playmaker Leicester yang pada 2011 mencetak 3 jam 22 menit 36 detik di London Marathon. Perbandingan ini menunjukkan bahwa minat pesepakbola pada marathon semakin luas, baik di kalangan pemain aktif maupun pensiunan, serta tidak lagi hanya soal gaya hidup setelah gantung sepatu.

Catatan Milner dan Pesaing di Sekitarnya

Milner menyelesaikan New York City Marathon dengan rata-rata 7 menit 13 detik per mil. Ia mengaku beberapa tahun sebelumnya merasa bisa menembus tiga jam, tetapi cedera di akhir karier membuat persiapan dan performanya tidak ideal. Meski begitu, waktu 3:09:04 tetap menempatkannya sebagai salah satu pesepakbola dengan catatan marathon paling kuat, terutama karena ia baru pensiun dan usianya sudah 40 tahun.

Di sekitar posisi Milner terdapat nama-nama yang lazim dikenal penggemar Premier League. Danny Mills, ayah dari pelari Olimpiade Inggris George Mills, mencatat 3:12:18 di London Marathon 2023 pada usia 45 tahun. Ada pula Kevin Kilbane dengan 3:14:44 di London 2013 dan Álvaro Arbeloa dengan 3:15:21 di Valencia 2019. Ketiganya menunjukkan bahwa daya tahan mantan pemain sepak bola bisa bertahan jauh setelah karier profesional berakhir.

Sementara itu, André Schürrle mencatat 3:21:25 di Berlin dan disebut berada di depan Izzet dalam daftar yang dibahas. Schürrle kemudian mengambil tantangan lebih berat dengan menyelesaikan Marathon des Sables, lomba enam etape sejauh 167,7 mil, dalam 51 jam 41 menit 16 detik dan finis di posisi 675. Ia juga mendaki Mont Blanc, sehingga profilnya kini lebih mirip atlet ketahanan daripada mantan penyerang sayap.

Lima Pesepakbola yang Menembus Tiga Jam

Garis tiga jam menjadi pembatas bergengsi dalam marathon pesepakbola. Hanya segelintir nama yang berhasil melewatinya, dan Raúl González menjadi salah satunya. Legenda Real Madrid itu menuntaskan marathon di rumahnya pada 2019 dengan 2:59:22. Ia menyebut lomba tersebut sebagai marathon kedua dalam hidupnya dan merasa puas karena target menembus tiga jam tercapai.

Aaron Ramsey, manajer Oxford United, memanfaatkan usia 35 tahun untuk mencatat tepat 2:59:00 di Stockholm Marathon pada musim panas. Arjen Robben, yang dikenal cepat dalam jarak pendek, membuktikan bisa memadukan kecepatan dengan stamina lewat 2:58:33 di Rotterdam 2023. Sementara Luis Enrique, sebelum meniti karier kepelatihan, menyiapkan diri secara serius untuk Florence Marathon dan finis dengan 2:58:08.

Luis Enrique tidak berhenti di marathon. Ia melanjutkan regimen kebugaran dengan mengikuti Frankfurt Ironman dan Marathon des Sables. Kombinasi disiplin latihan, mental kompetitif, dan pengalaman sebagai atlet elite membuat kelompok sub-tiga jam ini layak disebut sebagai lapisan teratas dalam marathon pesepakbola. Mereka bukan sekadar selebritas yang ikut lomba, melainkan pesaing yang menyiapkan diri dengan serius.

Smertin dan Rekor Tercepat

Gelar pesepakbola tercepat dalam marathon untuk sementara dipegang Alexei Smertin. Mantan pemain Chelsea dan timnas Rusia itu mulai serius menjalani lari ketahanan setelah pensiun pada 2008. Puncaknya terjadi di Kazan Marathon 2020 saat ia berusia 45 tahun dengan waktu 2 jam 48 menit 17 detik, setara rata-rata 6 menit 25 detik per mil.

Catatan Smertin jauh di atas Milner dan bahkan para bintang sub-tiga jam lainnya. Ia mengaku mulai melirik ultra karena kecepatan memang menurun seiring usia, tetapi masih percaya diri bisa memperbaiki atau setidaknya mempertahankan kualitas catatan pribadinya. Dalam pandangannya, masih ada beberapa tahun lagi untuk menjaga kecepatan sebelum beralih sepenuhnya ke jarak yang lebih ekstrem.

Kisah Smertin memperlihatkan bahwa transisi dari sepak bola ke lari jarak jauh bisa berlangsung sangat serius. Ia tidak hanya menyelesaikan lomba, tetapi mengejar waktu dan terus menguji batas kemampuan. Bagi pembaca yang mengenalnya sebagai pemain utility di lapangan, transformasi menjadi pelari ketahanan ini menjadi bukti bahwa disiplin latihan bisa bertahan lintas karier.

Marathon Pesepakbola: Kiper, Bek, dan Pelari Perempuan

Marathon pesepakbola tidak hanya diisi mantan gelandang atau penyerang. Lee Grant, mantan kiper Derby County dan Sheffield Wednesday, mencatat 3:00:33 di London Marathon terbaru. Christian Dailly, bek yang memperkuat Dundee United dan West Ham, mencatat 3:06:26 di London 2013 dan kemudian menekuni pelatihan atletik setelah pensiun. Keduanya menunjukkan bahwa posisi di lapangan tidak menentukan potensi ketahanan.

Dailly pernah menjelaskan bagaimana fondasi larinya terbentuk sejak muda. Ia mengenang masa peralihan dari sepak bola remaja pada Mei ke debut bersama Dundee United pada Agustus, termasuk latihan di pantai, berlari menembus air di St Andrews, dan menanjak-turuni gumuk pasir. Menurutnya, modal itu membuatnya merasa sangat bugar saat pramusim dan mampu berlari meninggalkan rekan-rekannya.

Di sektor perempuan, catatan tercepat yang ditemukan adalah Lauren Holiday dengan 3:40:30. Mantan gelandang timnas Amerika Serikat itu diikuti sahabat-sahabatnya di USWNT, Leslie Osborne dengan 3:41:33 dan Abby Wambach dengan 3:44:25. Angka-angka ini memperluas gambaran bahwa marathon pesepakbola mencakup mantan pemain dari berbagai posisi, negara, dan latar belakang karier.

Mengapa Tren Ini Terus Menarik

Marathon menawarkan tantangan yang berbeda dari sepak bola. Jika di lapangan seorang pemain bergantung pada sprint, perubahan arah, dan duel, di marathon ia harus mengatur pace, menjaga asupan energi, dan bertahan secara mental selama berjam-jam. Bagi pesepakbola yang sudah pensiun, lomba ini menjadi cara menjaga kebugaran sekaligus membangun identitas baru di luar lapangan.

Catatan Milner, Schürrle, Smertin, dan lainnya juga memberi konteks tentang bagaimana atlet elite beradaptasi setelah karier utama selesai. Ada yang memilih lomba jarak jauh sebagai proyek pribadi, ada yang beralih ke ultra, dan ada yang memakai pengalaman itu untuk mendukung karier kepelatihan. Publik pun mendapat sudut pandang baru: mantan pemain tidak hanya dikenang dari trofi, tetapi juga dari disiplin mereka menjalani latihan yang sunyi dan panjang.

Ke depan, wajar bila daftar ini terus berubah. Semakin banyak pesepakbola pensiun dini atau aktif yang mencoba marathon, semakin besar peluang catatan Milner tergeser atau muncul nama baru di bawah tiga jam. Yang jelas, pertanyaan apakah ada pesepakbola yang berlari lebih cepat dari Milner sudah terjawab: ada, dan salah satunya memegang rekor 2:48:17.

Kesimpulan

Milner mencatat 3:09:04 di New York City Marathon, sebuah hasil kuat untuk mantan pemain berusia 40 tahun yang baru pensiun. Namun, marathon pesepakbola memiliki hierarki yang lebih tajam: Dailly, Grant, Raúl, Ramsey, Robben, Luis Enrique, dan Smertin menunjukkan standar yang lebih tinggi. Di antara mereka, Smertin menjadi patokan tercepat dengan 2:48:17.

Daftar ini bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang bagaimana mantan pemain membangun disiplin baru setelah sepak bola. Dari pantai St Andrews yang dikenang Dailly hingga gurun Marathon des Sables yang dijalani Schürrle, daya tahan menjadi benang merah yang menghubungkan lapangan hijau dengan lintasan marathon. Milner adalah bagian dari cerita itu, meski bukan yang tercepat.