,

Falkirk Kejutkan Celtic, Hibernian Melaju ke Final


Falkirk kejutkan Celtic dengan kemenangan 2-0 di liga Skotlandia pada Minggu, memperbesar tekanan pada pelatih Martin O’Neill. Kemenangan ini mengangkat Falkirk ke posisi keempat klasemen, sementara Celtic gagal memanfaatkan peluang memperlebar keunggulan di puncak. Kekalahan itu memperpanjang rentetan buruk Celtic yang hanya meraih tiga kemenangan dalam 10 pertandingan terakhir.

Celtic sebenarnya punya kesempatan memperlebar jarak menjadi tujuh poin di puncak, tetapi mereka tidak pernah bangkit setelah kebobolan pada menit ketiga. Di sisi lain, Rangers bisa memangkas jarak menjadi satu poin dari rival Old Firm mereka jika memenangi laga tunda. Sementara itu, Hibernian dan Rangers sudah memastikan tempat di final Piala Premier Sports setelah mengalahkan Hearts dan Aberdeen.

Falkirk Kejutkan Celtic dengan Kemenangan 2-0

Falkirk membuka keunggulan pada menit ketiga ketika Ethan Ross memanfaatkan kesalahan Cameron Carter-Vickers. O’Neill sebenarnya mengembalikan Carter-Vickers ke jantung pertahanan, tetapi keputusan itu berbalik merugikan karena bek internasional Amerika Serikat tersebut menyerahkan bola kepada Ross. Scott Tanser kemudian menggandakan keunggulan Falkirk pada menit ke-38 dengan tembakan rendah dari sisi kiri pertahanan. Falkirk bahkan sempat mencetak gol ketiga, tetapi dianulir setelah tinjauan VAR karena handball Jacob Murrell.

Meskipun tertinggal, Celtic berusaha menekan untuk menyamakan kedudukan. Scott Bain, mantan kiper Celtic yang kini membela Falkirk, tampil gemilang dengan menahan upaya Haissem Hassan dan Camilo Durán. Durán juga membentur tiang gawang, tetapi pertahanan Celtic yang rapuh kembali terbongkar lewat gol Tanser. Falkirk pun mampu mempertahankan keunggulan dua gol hingga pertandingan usai.

Kemenangan ini menjadi yang keempat berturut-turut bagi Falkirk dan mengangkat mereka ke posisi keempat klasemen. Falkirk belum pernah mengalahkan Celtic sejak Maret 2007, sehingga hasil ini terasa istimewa bagi tim tuan rumah. Bagi Celtic, kekalahan ini menambah tekanan setelah mereka tersingkir dari kualifikasi Liga Champions dan kalah dalam tiga laga grup Liga Europa.

Tekanan Meningkat pada Martin O’Neill

Martin O’Neill, 74 tahun, dua kali datang menyelamatkan Celtic musim lalu dengan mengambil alih sebagai pelatih interim. Ia kembali 20 tahun setelah periode pertamanya di klub berakhir dan menandatangani kontrak satu tahun pada Juni. Namun, rentetan hasil buruk membuat posisinya semakin dipertanyakan. Tekanan bertambah karena Celtic juga gagal di Eropa, baik di kualifikasi Liga Champions maupun Liga Europa.

Ketidakpuasan di kalangan penggemar Celtic meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dan banyak yang menyerukan perubahan di kursi pelatih. O’Neill tetap bersikukuh bahwa timnya masih berada di posisi yang layak. “Kami masih berada di posisi yang layak saat ini,” kata O’Neill dengan nada menantang. Ia menegaskan mengabaikan kebisingan di luar dan menilai Celtic seharusnya bisa mencetak enam atau tujuh gol dalam laga itu.

Dampak bagi Persaingan Gelar Celtic dan Rangers

Kekalahan dari Falkirk membuat Celtic tetap di puncak klasemen, tetapi posisi mereka mulai rentan. Rangers sekarang bisa mendekat hingga jarak satu poin jika memenangi laga tunda mereka. Persaingan Old Firm pun kembali memanas karena selisih poin bisa menyusut drastis dalam waktu singkat. Bagi Celtic, hasil ini menjadi peringatan bahwa dominasi domestik mereka tidak lagi aman.

Masalah utama Celtic musim ini sebenarnya banyak terjadi di Eropa, tetapi kesalahan defensif dan tidak adanya rencana taktis yang jelas mulai merugikan mereka di liga. Falkirk memanfaatkan celah itu dengan pressing dan serangan cepat yang efektif. Jika Celtic tidak segera memperbaiki pertahanan dan konsistensi, gelar juara yang mereka pertahankan bisa berada dalam bahaya. Di sisi lain, Falkirk membuktikan bahwa tim-tim nonunggulan mampu bersaing di papan atas.

Hibernian ke Final usai Kalahkan Hearts di Hampden

Di Hampden Park, Hibernian meraih kemenangan 2-1 atas Hearts dalam semifinal Piala Premier Sports. Marink Reedijk mencatat kemenangan pertamanya sebagai pelatih Hibernian dalam laga yang berlangsung menegangkan. Hearts sempat unggul lebih dulu pada menit keempat melalui sundulan Claudio Braga dari corner. Namun, Martin Boyle menyamakan kedudukan pada menit ke-19 dengan gol khas penyerang predator.

Jamie McGrath kemudian membawa Hibernian berbalik unggul tiga menit sebelum jeda. Hearts tetap mengancam di babak kedua, tetapi pertahanan solid Hibernian mampu menahan gempuran mereka. Hasil ini membawa Hibernian ke final di stadion nasional Skotlandia pada Minggu, 13 Desember, untuk menghadapi Rangers. Hearts sebelumnya memenangi empat pertemuan terakhir di Hampden pada 2006, 2012, 2020, dan 2022, tetapi kali ini giliran Hibs yang merayakan.

Rangers Melaju ke Final lewat Gol Telat Ryan Naderi

Sehari sebelumnya, Rangers memastikan tempat di final berkat gol telat Ryan Naderi ke gawang Aberdeen. Aberdeen tampil disiplin dan membatasi Rangers hanya pada satu tembakan tepat sasaran di babak pertama yang berjalan minim kualitas. Namun, tim asuhan Derek McInnes meningkatkan tempo setelah jeda dan terus menekan. Pada menit ke-83, Naderi mengarahkan tembakan James Penrice ke dalam gawang untuk mencetak gol kedelapannya musim ini.

Gol tersebut memastikan kemenangan 1-0 Rangers di Hampden Park dan mengakhiri perlawanan keras Aberdeen. Naderi yang berusia 23 tahun kemudian mencoba berbagi pujian dengan menegaskan bahwa keberhasilan itu adalah hasil kerja tim. “Rasanya luar biasa. Saya senang, tentu saja, senang menjadi orang yang mencetak gol, tetapi juga senang untuk tim,” ujarnya. Ia juga bercanda tentang upayanya menembak dari luar kotak penalti yang tidak berjalan baik, sehingga ia memilih menyelesaikan peluang dari jarak dekat.

Dari rangkaian hasil akhir pekan ini, Falkirk menjadi sorotan utama setelah mengejutkan Celtic dan memperbesar tekanan pada O’Neill. Di sisi lain, Hibernian dan Rangers melaju ke final Piala Premier Sports untuk memperebutkan trofi pada 13 Desember. Celtic masih memimpin liga, tetapi konsistensi dan pertahanan mereka harus segera diperbaiki jika ingin mempertahankan gelar. Final nanti akan menjadi ujian tersendiri bagi Hibernian dan Rangers, sementara Celtic dituntut bangkit dalam waktu dekat.