Kontroversi Mbappé soal Mao Zedong dan Murka Pasar China
admin
Kontroversi Mbappé soal Mao Zedong membuat penyerang Real Madrid itu berada di pusat badai dalam waktu kurang dari 24 jam. Setelah gagal masuk jajaran elite peraih Ballon d’Or, pemain asal Prancis tersebut justru masuk ke daftar lain yang jauh dari mentereng: deretan brand dan tokoh asing yang dituduh “melukai perasaan rakyat China”. Kasus ini meletus bukan karena pernyataan politik yang disengaja, melainkan gara-gara sebuah video singkat yang membahas meme lama tentang dirinya dan mendiang pemimpin China tersebut.
Peristiwa ini penting bukan hanya karena melibatkan salah satu pesepak bola paling populer di dunia. Insiden tersebut memperlihatkan bagaimana warisan Mao Zedong, hampir 50 tahun setelah kematiannya, masih menjadi garis merah yang sangat sensitif di China. Bagi Mbappé, konsekuensinya bersifat finansial dan komersial: wajahnya terpampang di bus kota, kereta bawah tanah, dan iklan digital di seluruh China. Bagi La Liga, dampaknya bahkan lebih langsung, karena seluruh jadwal liga sempat hilang dari layar televisi negara.
Kronologi Kontroversi Mbappé soal Mao Zedong
Semua bermula ketika sebuah klip video yang memperlihatkan Mbappé menanggapi sebuah meme beredar luas. Dalam video itu, ia menyebut lawan bicaranya sebagai “seorang pria… sepertinya dia diktator dari China”, sebelum muncul gambar gabungan wajah Mbappé yang ditempelkan ke tubuh Mao Zedong. Julukan “sang diktator” sendiri sudah lama melekat pada dirinya sejak berseragam Paris Saint-Germain, sebuah lelucon yang merujuk pada pengaruh besarnya di klub tersebut.
Reaksi datang nyaris seketika. Dalam hitungan jam, nama Mbappé dibanjiri kecaman di dunia maya. Sejumlah brand yang bekerja sama dengannya bergerak cepat menarik diri, dan stasiun televisi negara memutuskan menangguhkan penayangan seluruh pertandingan liga top Spanyol dari jadwal mereka. Keputusan televisi negara itu menjadi sinyal paling jelas bahwa persoalan ini telah naik dari sekadar perbincangan warganet menjadi urusan institusional.
Pada Selasa, Mbappé akhirnya menyampaikan permintaan maaf. “Komentar saya tidak bijaksana, dan sekarang saya memahami bahwa itu melukai banyak orang di China,” ujarnya. La Liga mengikuti langkah serupa lewat pernyataan resmi yang menyatakan pihaknya “sangat menyesalkan ketersinggungan yang ditimbulkan komentar terbaru Kylian Mbappé di kalangan penggemar China”. Sehari berselang, Real Madrid juga menyampaikan permintaan maaf “kepada rakyat China atas segala ketersinggungan yang terjadi”.
Mengapa Media China Enggan Menyebut Isi Ucapan Mbappé
Yang menarik dari kasus ini adalah cara media China memberitakannya. Sebagian besar liputan di sana melaporkan reaksi yang muncul, mulai dari ditinggalkan brand hingga protes keras Asosiasi Sepak Bola China kepada Real Madrid, tetapi hampir tidak pernah menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya diucapkan Mbappé. Aplikasi sepak bola Dongqiudi termasuk yang pertama mengecam “pernyataan tidak pantas” tersebut, namun memberi alasan tersendiri: “Karena komentarnya menyinggung China dan rakyat China, kami tidak bisa menerjemahkannya.”
Topik ini masih menjadi tren di media sosial China pada Rabu pagi. Salah satu tagar yang terkait dengan permintaan maaf Mbappé mencatat lebih dari 600 juta penayangan. Di kolom komentar, banyak pengguna justru melontarkan pertanyaan yang sama dengan berbagai versi: “Sebenarnya dia bilang apa?” Pertanyaan itu menunjukkan adanya celah informasi yang cukup lebar di antara warganet yang mengikuti perdebatan.
Manya Koetse, editor buletin Eye on Digital China, menyoroti hal serupa melalui unggahan di X. Menurutnya, “banyak warganet tanpa VPN masih tidak tahu mengapa pembicaraan soal boikot Mbappé benar-benar terjadi”. Meski begitu, tidak sedikit pula yang mengekspresikan kemarahan atas apa yang dianggap sebagai bentuk ketidakhormatan sekaligus kesalahpahaman terhadap sejarah China.
Warisan Mao yang Masih Sangat Sensitif
Mobo Gao, profesor kajian China di Universitas Adelaide, menjelaskan bahwa persepsi publik di China terhadap Mao tidak sepenuhnya sejalan dengan cara Barat memandangnya. “Bagi mayoritas rakyat China, Mao tidak pernah dan masih tidak dipandang senegatif seperti yang diyakini di Barat,” katanya. Pandangan inilah yang membuat lelucon yang dianggap lumrah di luar China bisa berubah menjadi krisis reputasi di dalam negeri.
Mao adalah pemimpin pendiri China modern, tetapi warisannya juga mencakup kebijakan-kebijakan radikal. Salah satunya adalah Great Leap Forward, program industrialisasi yang oleh sejumlah perkiraan disalahkan atas kelaparan yang menewaskan hingga 30 juta orang. Partai Komunis yang berkuasa tetap mempertahankan posisi Mao sebagai pahlawan revolusi, meski setelah kematiannya partai mengakui bahwa kebijakan ekstrem lainnya, Revolusi Kebudayaan yang penuh kekerasan, merupakan “kesalahan besar”.
Gao menambahkan bahwa di dalam masyarakat China sendiri terdapat ketegangan yang tajam antara mereka yang membenci Mao dan yang mendukungnya. “Ketegangan ini bahkan lebih terasa sejak ekonomi melambat,” ujarnya. Sejumlah akademisi juga mencatat tumbuhnya kembali minat terhadap Mao di kalangan anak muda China, yang merindukan masa yang mereka bayangkan lebih idealis dan setara, sebuah fenomena yang justru ingin dijaga agar tetap terkendali oleh partai.
Jennifer Pan, profesor komunikasi di Universitas Stanford, mengingatkan bahwa memahami opini publik China tidak semudah membaca linimasa media sosial. Kesulitan melakukan survei ilmu sosial independen dalam satu dekade terakhir, katanya, membuat “pemahaman kita tentang apa yang sebenarnya dipikirkan rakyat China menjadi lemah”. Menurutnya, “media sosial tidak menutup celah itu. Isinya berisik, tidak representatif, dan disensor”. Ia juga menyoroti bahwa perusahaan, platform, penyiar, dan kementerian luar negeri bergerak bersamaan dengan sangat cepat. “Apakah ini mengikuti kemarahan publik, atau justru memproduksi kemarahan publik? Keduanya mungkin, dan kita tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu,” tuturnya.
Dampak Finansial bagi Mbappé dan La Liga
Apa pun urutan kejadiannya, biaya finansial yang ditanggung Mbappé tetap sama. Wajahnya adalah pemandangan umum di bus-bus kota, stasiun kereta bawah tanah, dan iklan daring di China. Mark Dreyer, penulis buku Sporting Superpower tentang ambisi China di sektor olahraga, memperkirakan nilai kesepakatan komersial sang pemain bisa mencapai “30 juta dolar AS (sekitar 22,6 juta poundsterling) per tahun”.
Namun menurut Dreyer, begitu ada pihak yang memutuskan bahwa seseorang telah melewati batas, dinamika pasar berubah menjadi perlombaan. “Begitu seseorang memutuskan kamu melewati garis, itu menjadi perlombaan tentang siapa yang bisa memutus hubungan paling cepat, siapa yang paling patriotik,” jelasnya. “Setelah itu kamu harus mencium cincin. Tidak ada jalan lain jika ingin tetap bertahan di pasar.”
Langkah cepat Mbappé dan La Liga menyampaikan permintaan maaf tampaknya ditujukan untuk menghindari nasib yang menimpa NBA. Liga basket Amerika itu sempat kehilangan pertandingan pramusim yang menguntungkan dari pasar China selama enam tahun, setelah manajer umum Houston Rockets saat itu, Daryl Morey, menyatakan dukungannya terhadap aksi prodemokrasi di Hong Kong pada 2019. Bagi La Liga, harapan masih ada karena televisi negara CCTV menyatakan akan mendengarkan penjelasan Mbappé dan, yang “lebih penting”, mengamati tindakannya ke depan.
Preseden bagi Brand Asing dan Arah Setelahnya
Kasus Mbappé bukan yang pertama, dan hampir pasti bukan yang terakhir. Sebelumnya, brand otomotif Mercedes hingga rumah mode Versace, serta selebritas seperti John Cena sampai Katy Perry, pernah menerima sanksi serupa karena dianggap menabrak garis politik China soal Tibet, Hong Kong, dan Taiwan. Pola yang berulang ini menunjukkan bahwa risikonya tidak terbatas pada satu industri atau satu jenis pelanggaran tertentu.
Pada Rabu, juru bicara kementerian luar negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa pihaknya “menanggapi dengan serius permintaan maaf yang disampaikan individu bersangkutan”. Pernyataan itu dibaca sebagai sinyal bahwa pintu masih terbuka, meski tidak berarti persoalan langsung selesai. Dreyer menilai respons tersebut tidak serta-merta berarti “semua langsung dimaafkan”, tetapi setidaknya menunjukkan sikap yang sedikit lebih masuk akal.
Kesimpulan
Kontroversi Mbappé soal Mao Zedong menunjukkan bahwa kepekaan terhadap sejarah politik China masih menjadi faktor yang sangat menentukan dalam karier komersial seorang bintang global. Dalam hitungan jam, sebuah potongan video yang di negara lain mungkin dianggap lelucon ringan berubah menjadi krisis yang melibatkan brand, klub, liga, hingga kementerian luar negeri. Bagi Mbappé, kerugiannya bukan hanya citra, tetapi juga potensi pendapatan yang besar dari salah satu pasar terpenting di dunia.
Di sisi lain, kasus ini memperlihatkan rumitnya membaca opini publik China: antara kemarahan yang tulus, sensor yang membatasi informasi, dan kepentingan institusi yang bergerak serempak. Yang jelas, permintaan maaf saja tidak selalu cukup. Seperti disiratkan pernyataan CCTV, yang akan dinilai selanjutnya adalah tindakan nyata setelah kata-kata.
Kontroversi Mbappé soal Mao Zedong membuat penyerang Real Madrid itu berada di pusat badai dalam waktu kurang dari 24 jam. Setelah gagal masuk jajaran elite peraih Ballon d’Or, pemain asal Prancis tersebut justru masuk ke daftar lain yang jauh dari mentereng: deretan brand dan tokoh asing yang dituduh “melukai perasaan rakyat China”. Kasus ini meletus bukan karena pernyataan politik yang disengaja, melainkan gara-gara sebuah video singkat yang membahas meme lama tentang dirinya dan mendiang pemimpin China tersebut.
Peristiwa ini penting bukan hanya karena melibatkan salah satu pesepak bola paling populer di dunia. Insiden tersebut memperlihatkan bagaimana warisan Mao Zedong, hampir 50 tahun setelah kematiannya, masih menjadi garis merah yang sangat sensitif di China. Bagi Mbappé, konsekuensinya bersifat finansial dan komersial: wajahnya terpampang di bus kota, kereta bawah tanah, dan iklan digital di seluruh China. Bagi La Liga, dampaknya bahkan lebih langsung, karena seluruh jadwal liga sempat hilang dari layar televisi negara.
Kronologi Kontroversi Mbappé soal Mao Zedong
Semua bermula ketika sebuah klip video yang memperlihatkan Mbappé menanggapi sebuah meme beredar luas. Dalam video itu, ia menyebut lawan bicaranya sebagai “seorang pria… sepertinya dia diktator dari China”, sebelum muncul gambar gabungan wajah Mbappé yang ditempelkan ke tubuh Mao Zedong. Julukan “sang diktator” sendiri sudah lama melekat pada dirinya sejak berseragam Paris Saint-Germain, sebuah lelucon yang merujuk pada pengaruh besarnya di klub tersebut.
Reaksi datang nyaris seketika. Dalam hitungan jam, nama Mbappé dibanjiri kecaman di dunia maya. Sejumlah brand yang bekerja sama dengannya bergerak cepat menarik diri, dan stasiun televisi negara memutuskan menangguhkan penayangan seluruh pertandingan liga top Spanyol dari jadwal mereka. Keputusan televisi negara itu menjadi sinyal paling jelas bahwa persoalan ini telah naik dari sekadar perbincangan warganet menjadi urusan institusional.
Pada Selasa, Mbappé akhirnya menyampaikan permintaan maaf. “Komentar saya tidak bijaksana, dan sekarang saya memahami bahwa itu melukai banyak orang di China,” ujarnya. La Liga mengikuti langkah serupa lewat pernyataan resmi yang menyatakan pihaknya “sangat menyesalkan ketersinggungan yang ditimbulkan komentar terbaru Kylian Mbappé di kalangan penggemar China”. Sehari berselang, Real Madrid juga menyampaikan permintaan maaf “kepada rakyat China atas segala ketersinggungan yang terjadi”.
Mengapa Media China Enggan Menyebut Isi Ucapan Mbappé
Yang menarik dari kasus ini adalah cara media China memberitakannya. Sebagian besar liputan di sana melaporkan reaksi yang muncul, mulai dari ditinggalkan brand hingga protes keras Asosiasi Sepak Bola China kepada Real Madrid, tetapi hampir tidak pernah menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya diucapkan Mbappé. Aplikasi sepak bola Dongqiudi termasuk yang pertama mengecam “pernyataan tidak pantas” tersebut, namun memberi alasan tersendiri: “Karena komentarnya menyinggung China dan rakyat China, kami tidak bisa menerjemahkannya.”
Topik ini masih menjadi tren di media sosial China pada Rabu pagi. Salah satu tagar yang terkait dengan permintaan maaf Mbappé mencatat lebih dari 600 juta penayangan. Di kolom komentar, banyak pengguna justru melontarkan pertanyaan yang sama dengan berbagai versi: “Sebenarnya dia bilang apa?” Pertanyaan itu menunjukkan adanya celah informasi yang cukup lebar di antara warganet yang mengikuti perdebatan.
Manya Koetse, editor buletin Eye on Digital China, menyoroti hal serupa melalui unggahan di X. Menurutnya, “banyak warganet tanpa VPN masih tidak tahu mengapa pembicaraan soal boikot Mbappé benar-benar terjadi”. Meski begitu, tidak sedikit pula yang mengekspresikan kemarahan atas apa yang dianggap sebagai bentuk ketidakhormatan sekaligus kesalahpahaman terhadap sejarah China.
Warisan Mao yang Masih Sangat Sensitif
Mobo Gao, profesor kajian China di Universitas Adelaide, menjelaskan bahwa persepsi publik di China terhadap Mao tidak sepenuhnya sejalan dengan cara Barat memandangnya. “Bagi mayoritas rakyat China, Mao tidak pernah dan masih tidak dipandang senegatif seperti yang diyakini di Barat,” katanya. Pandangan inilah yang membuat lelucon yang dianggap lumrah di luar China bisa berubah menjadi krisis reputasi di dalam negeri.
Mao adalah pemimpin pendiri China modern, tetapi warisannya juga mencakup kebijakan-kebijakan radikal. Salah satunya adalah Great Leap Forward, program industrialisasi yang oleh sejumlah perkiraan disalahkan atas kelaparan yang menewaskan hingga 30 juta orang. Partai Komunis yang berkuasa tetap mempertahankan posisi Mao sebagai pahlawan revolusi, meski setelah kematiannya partai mengakui bahwa kebijakan ekstrem lainnya, Revolusi Kebudayaan yang penuh kekerasan, merupakan “kesalahan besar”.
Gao menambahkan bahwa di dalam masyarakat China sendiri terdapat ketegangan yang tajam antara mereka yang membenci Mao dan yang mendukungnya. “Ketegangan ini bahkan lebih terasa sejak ekonomi melambat,” ujarnya. Sejumlah akademisi juga mencatat tumbuhnya kembali minat terhadap Mao di kalangan anak muda China, yang merindukan masa yang mereka bayangkan lebih idealis dan setara, sebuah fenomena yang justru ingin dijaga agar tetap terkendali oleh partai.
Jennifer Pan, profesor komunikasi di Universitas Stanford, mengingatkan bahwa memahami opini publik China tidak semudah membaca linimasa media sosial. Kesulitan melakukan survei ilmu sosial independen dalam satu dekade terakhir, katanya, membuat “pemahaman kita tentang apa yang sebenarnya dipikirkan rakyat China menjadi lemah”. Menurutnya, “media sosial tidak menutup celah itu. Isinya berisik, tidak representatif, dan disensor”. Ia juga menyoroti bahwa perusahaan, platform, penyiar, dan kementerian luar negeri bergerak bersamaan dengan sangat cepat. “Apakah ini mengikuti kemarahan publik, atau justru memproduksi kemarahan publik? Keduanya mungkin, dan kita tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu,” tuturnya.
Dampak Finansial bagi Mbappé dan La Liga
Apa pun urutan kejadiannya, biaya finansial yang ditanggung Mbappé tetap sama. Wajahnya adalah pemandangan umum di bus-bus kota, stasiun kereta bawah tanah, dan iklan daring di China. Mark Dreyer, penulis buku Sporting Superpower tentang ambisi China di sektor olahraga, memperkirakan nilai kesepakatan komersial sang pemain bisa mencapai “30 juta dolar AS (sekitar 22,6 juta poundsterling) per tahun”.
Namun menurut Dreyer, begitu ada pihak yang memutuskan bahwa seseorang telah melewati batas, dinamika pasar berubah menjadi perlombaan. “Begitu seseorang memutuskan kamu melewati garis, itu menjadi perlombaan tentang siapa yang bisa memutus hubungan paling cepat, siapa yang paling patriotik,” jelasnya. “Setelah itu kamu harus mencium cincin. Tidak ada jalan lain jika ingin tetap bertahan di pasar.”
Langkah cepat Mbappé dan La Liga menyampaikan permintaan maaf tampaknya ditujukan untuk menghindari nasib yang menimpa NBA. Liga basket Amerika itu sempat kehilangan pertandingan pramusim yang menguntungkan dari pasar China selama enam tahun, setelah manajer umum Houston Rockets saat itu, Daryl Morey, menyatakan dukungannya terhadap aksi prodemokrasi di Hong Kong pada 2019. Bagi La Liga, harapan masih ada karena televisi negara CCTV menyatakan akan mendengarkan penjelasan Mbappé dan, yang “lebih penting”, mengamati tindakannya ke depan.
Preseden bagi Brand Asing dan Arah Setelahnya
Kasus Mbappé bukan yang pertama, dan hampir pasti bukan yang terakhir. Sebelumnya, brand otomotif Mercedes hingga rumah mode Versace, serta selebritas seperti John Cena sampai Katy Perry, pernah menerima sanksi serupa karena dianggap menabrak garis politik China soal Tibet, Hong Kong, dan Taiwan. Pola yang berulang ini menunjukkan bahwa risikonya tidak terbatas pada satu industri atau satu jenis pelanggaran tertentu.
Pada Rabu, juru bicara kementerian luar negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa pihaknya “menanggapi dengan serius permintaan maaf yang disampaikan individu bersangkutan”. Pernyataan itu dibaca sebagai sinyal bahwa pintu masih terbuka, meski tidak berarti persoalan langsung selesai. Dreyer menilai respons tersebut tidak serta-merta berarti “semua langsung dimaafkan”, tetapi setidaknya menunjukkan sikap yang sedikit lebih masuk akal.
Kesimpulan
Kontroversi Mbappé soal Mao Zedong menunjukkan bahwa kepekaan terhadap sejarah politik China masih menjadi faktor yang sangat menentukan dalam karier komersial seorang bintang global. Dalam hitungan jam, sebuah potongan video yang di negara lain mungkin dianggap lelucon ringan berubah menjadi krisis yang melibatkan brand, klub, liga, hingga kementerian luar negeri. Bagi Mbappé, kerugiannya bukan hanya citra, tetapi juga potensi pendapatan yang besar dari salah satu pasar terpenting di dunia.
Di sisi lain, kasus ini memperlihatkan rumitnya membaca opini publik China: antara kemarahan yang tulus, sensor yang membatasi informasi, dan kepentingan institusi yang bergerak serempak. Yang jelas, permintaan maaf saja tidak selalu cukup. Seperti disiratkan pernyataan CCTV, yang akan dinilai selanjutnya adalah tindakan nyata setelah kata-kata.
AUTHOR
admin