,

Messi Pensiun, Argentina Mulai Era Tanpa Superhero


Era tanpa Lionel Messi di timnas Argentina resmi dimulai. Sang kapten memang masih akan kembali untuk satu laga perpisahan bersifat formal melawan Benin, tetapi sebelum itu Argentina harus lebih dulu melakoni dua pertandingan yang menjadi pengalaman pertama mereka hidup tanpa sosok paling menentukan di dunia sepak bola. Dua laga tersebut bukan sekadar uji coba biasa, melainkan pembuka sebuah siklus baru yang selama bertahun-tahun dihindari dan bahkan ditakuti publik Argentina.

Selama lebih dari satu dekade, Messi berperan seperti kartu bebas dari hukuman: ketika pertandingan berjalan kacau, Argentina tinggal menyerahkan bola kepadanya lalu menunggu masalah selesai. Kebiasaan itu kini harus dipatahkan, sebab pensiunnya Messi dari timnas Argentina kali ini tidak akan dibatalkan. Artinya, Argentina mesti belajar mencari solusi dari dalam tim sendiri, bukan dari seorang superstar yang mampu menyelamatkan keadaan dalam sekejap.

Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Perpisahan Digelar Melawan Benin

Kepastian itu datang lewat agenda yang sudah disusun: Messi akan kembali pada Rabu pekan depan untuk menyampaikan perpisahan resmi pada laga persahabatan melawan Benin. Setelah laga tersebut, tidak ada lagi jadwal yang menempatkan namanya di daftar pemain Argentina. Dua pertandingan yang berlangsung sebelum itu menjadi momen penting bagi skuad untuk mulai membiasakan diri tanpa kehadirannya.

Berbeda dengan pengunduran diri pada 2016, keputusan kali ini tidak akan berbalik. Messi kini berusia 39 tahun, dan mereka yang dulu membujuknya mencabut keputusan pensiun mungkin membayangkan enam tahun tambahan bersamanya — kenyataannya mereka mendapat sepuluh tahun. Tidak akan ada keraguan kedua; perpisahan ini nyata dan permanen.

Dampaknya langsung terasa pada cara Argentina bermain. Ketika performa tim sedang tidak bagus, tidak ada lagi superhero di tengah lapangan yang bisa dimintai tolong membenahi keadaan. Tim harus mengandalkan struktur, kolektivitas, dan pemain-pemain yang tersisa.

Dua Babak Karier Messi Bersama Timnas Argentina

Karier Messi di timnas Argentina terbagi menjadi dua fase yang sangat berbeda. Pada dekade pertama, muncul anggapan bahwa ia tidak benar-benar cocok, tidak cukup “Argentina”, dan tidak peduli pada negaranya. Pandangan itu sebenarnya tidak masuk akal, dan kini bisa dibaca sebagai bentuk kekecewaan publik terhadap puasa trofi, meski lini depan mereka diperkuat salah satu dari tiga pemain terbaik dalam sejarah sepak bola.

Fase kedua dimulai dengan cara yang dramatis. Messi memutuskan mundur setelah gagal mengeksekusi penalti dalam adu tos melawan Chile pada final Copa América 2016. Keputusan itu membuat Argentina tidak lagi sekadar melampiaskan kemarahan kepada bintangnya, tetapi dipaksa berhadapan dengan pertanyaan besar: bagaimana hidup tanpa Messi? Prospek itu begitu menakutkan hingga memicu kampanye massal yang mendesaknya berbalik arah.

Sejak saat itu, ia dicintai. Meski Piala Dunia 2018 berjalan berantakan, Messi membalasnya dengan dua gelar Copa América, satu gelar Piala Dunia, dan satu penampilan di final Piala Dunia lagi. Tuduhan bahwa ia tidak pernah menyamai pencapaian Diego Maradona bersama timnas pun sirna, sebab pada akhirnya ia justru mengumpulkan trofi lebih banyak.

Argentina Pernah Tampil Hebat Tanpa Messi, tapi Itu Belum Cukup

Ada alasan bagi pihak optimistis untuk tetap tenang. Penampilan terbaik Argentina di era Lionel Scaloni kemungkinan besar terjadi pada kemenangan 4-1 atas Brasil di kualifikasi Piala Dunia Maret 2025, sebuah laga yang Messi lewatkan. Meski lawan saat itu dilatih Dorival Júnior dengan sejumlah pilihan taktik yang terbilang aneh, Argentina tampil istimewa sepanjang pertandingan.

Leandro Paredes menjadi jangkar di lini tengah, sementara Alexis Mac Allister dan Enzo Fernández menjalin koneksi yang menyenangkan dengan Rodrigo De Paul serta Thiago Almada di sektor sayap, dan Julián Álvarez mengisi posisi ujung tombak. Kombinasi itu memperlihatkan bahwa Argentina bisa tetap mengalir tanpa bergantung pada satu pemain. Namun, sepak bola tidak hanya soal masa-masa indah.

Pada tahun-tahun kelam di bawah Edgardo Bauza dan Jorge Sampaoli, ketika pertandingan lepas dari kendali, selalu ada kemungkinan Messi tampil sebagai penolong. Kemungkinan itulah yang kini hilang. Argentina harus menghadapi masa depan tanpa potensi penyelamatan instan tersebut.

Contoh paling jelas datang menjelang akhir kariernya. Argentina tertinggal 2-0 dari Mesir saat tersisa 11 menit di laga 16 besar Piala Dunia di Atlanta. Pelatih tim muda Barcelona dulu berbicara tentang Messi remaja yang “memasang muka”, dan pada titik itu ia nyaris tidak terbendung. Hal serupa terjadi di Atlanta: seolah ia memutuskan bahwa laga itu tidak akan menjadi pertandingan Piala Dunia terakhirnya, dan Argentina menang tanpa perlu perpanjangan waktu.

Skuad 35 Pemain Scaloni dan Peta Regenerasi Argentina

Masa depan pasca-Messi dimulai pekan depan lewat dua laga melawan Bolivia dan Burkina Faso. Scaloni telah memberi sinyal akan menandatangani perpanjangan kontrak hingga Copa América 2028, dengan opsi hingga Piala Dunia 2030. Langkah itu setidaknya memberi stabilitas, meski tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa siklus baru sedang dimulai, sebagaimana Scaloni juga membuka era baru setelah Piala Dunia 2018.

Selain Messi dan Nicolás Otamendi yang ikut pensiun setelah laga perpisahan melawan Benin, Scaloni memanggil 35 pemain. Dua puluh di antaranya pernah tampil di Piala Dunia, dan dengan Paredes serta Nahuel Molina sedang menjalani larangan bertanding, angka itu menunjukkan kesinambungan yang luar biasa. Namun Nicolás Tagliafico yang berusia 34 tahun dikabarkan juga sedang mempertimbangkan masa depannya.

Sebanyak 12 pemain dalam skuad itu baru mengoleksi tiga caps internasional atau kurang, sementara De Paul dan Giovani Lo Celso yang sudah memasuki usia tiga puluhan hanya akan bermain melawan Benin. Kondisi ini memberi ruang bagi generasi baru untuk unjuk kemampuan pada dua laga persahabatan pertama.

Peluang terbesar dalam jangka pendek tampak berada di lini belakang. Cristian Romero dan Lisandro Martínez, keduanya berusia 28 tahun, diprediksi menjadi pasangan bek tengah pilihan utama, sementara Valentín Gómez dari Real Betis dan Tomás Palacios yang dipinjamkan ke Estudiantes dari Inter bersaing untuk posisi pelapis.

Perhatian justru tertuju pada posisi bek sayap karena Molina sedang diskors, Tagliafico menua, dan Gonzalo Montiel cedera. Dua pemain berusia 22 tahun, Agustín Giay dari Palmeiras dan Román Vega dari Zenit, berpeluang mengklaim masa depan di sektor itu. Tanpa Messi, formasi pun masih menjadi pertanyaan; meski laga melawan Brasil menunjukkan banyak hal bisa dicapai lewat pergerakan antar-pemain, Scaloni mungkin memilih winger tradisional, dengan Leonel Flores dari Boca Juniors dan Matías Soulé dari Roma kemungkinan menjalani debut dalam beberapa hari ke depan.

Mengapa Menggantikan Messi Hampir Mustahil

Menggantikan Messi bukan perkara yang mungkin dilakukan, baik secara taktik maupun, yang lebih penting, dalam hal makna bagi semangat tim. Argentina tidak selalu membutuhkan Messi untuk bermain bagus; seorang puritan bahkan bisa berargumen bahwa Argentina tampil lebih baik pada laga melawan Brasil ketimbang yang mungkin mereka capai bersama Messi, karena kurangnya pergerakan dan cara permainan yang harus dibangun di sekitarnya.

Itulah risiko yang selalu menyertai pemain individualis. Namun Messi begitu konsisten sehingga opsi paling rasional adalah mengandalkan kejeniusannya, dan hal yang membuatnya luar biasa justru seberapa andal kemampuan itu. Serapi apa pun pertahanan lawan, selalu ada — bahkan kemungkinan besar ada — celah yang bisa ia temukan, dan seburuk apa pun situasinya, selalu ada peluang ia “memasang muka” lalu menyelesaikan semuanya sendiri.

Banyak tim justru menemukan fluida baru dan dinamika yang lebih kolektif setelah ditinggalkan bintang besarnya. Plafon Argentina bisa saja naik, tetapi Messi selalu menawarkan rasa aman dan kemungkinan penyelamatan yang akan sangat dirindukan.

Pensiunnya Messi dari timnas Argentina menandai berakhirnya sebuah era yang mustahil diulang. Perpisahan melawan Benin akan menjadi penutup resmi, sementara dua laga sebelum itu sudah menjadi langkah pertama Argentina memasuki siklus baru tanpa kartu penyelamat yang biasa mereka andalkan.

Scaloni kini memikul tugas besar: menyusun tim yang tidak hanya kuat saat keadaan baik, tetapi juga mampu bertahan ketika tekanan datang. Argentina memang punya alasan untuk optimistis dengan generasi mudanya, tetapi menggantikan rasa aman yang diberikan Messi adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada sekadar mencari pemain baru di lini depan.