,

Pro dan Kontra Alkohol di Pertandingan Sepak Bola Inggris


Andy Burnham, tokoh politik yang mengaku sebagai penggemar Everton seumur hidup, kembali menyuarakan dukungannya agar penonton diizinkan menikmati minuman beralkohol di pertandingan sepak bola. Menurutnya, aturan yang melarang konsumsi alkohol di area yang memandang langsung ke lapangan sudah tidak lagi relevan dan membuat suporter sepak bola diperlakukan berbeda dibanding penonton cabang olahraga lain. Gagasan ini pun menghidupkan kembali perdebatan lama soal alkohol di pertandingan sepak bola, lengkap dengan argumen pendukung dan penolaknya.

Perdebatan ini bukan sekadar soal selera minum atau kenyamanan menonton. Larangan tersebut sudah bertahan puluhan tahun di lima divisi teratas Liga Inggris dan menyangkut banyak hal sekaligus: pengalaman hari pertandingan, pengamanan di stadion, hingga peluang klub menambah pemasukan dari penjualan minuman. Karena itu, wacana yang dilempar Burnham langsung memicu reaksi beragam, mulai dari asosiasi suporter sampai unit kepolisian yang bertugas di laga sepak bola.

Apa Sebenarnya Isi Usulan Burnham?

Burnham menilai larangan minum di tribun menempatkan penggemar sepak bola pada posisi yang tidak adil. Ia membandingkannya dengan penonton kriket, rugbi, dan pacuan kuda yang bebas menikmati minuman sambil menyaksikan pertandingan. Menurutnya, penggemar sepak bola seharusnya mendapat hak yang sama, bukan diperlakukan sebagai kelompok yang perlu dibatasi terus-menerus.

Pandangan ini disampaikannya kepada sejumlah wartawan dalam penerbangan menuju New York. Burnham menegaskan bahwa regulasi larangan tersebut lahir dari era ketika sepak bola jauh berbeda dari sekarang, sehingga sudah saatnya dibuka ruang untuk meninjau ulang aturan itu, termasuk melalui skema uji coba di sejumlah laga. Ia juga menegaskan tidak akan mundur dari sikap yang sudah lama ia pegang tersebut.

“Saya tidak menganggap adil bila penggemar sepak bola dibedakan seperti itu, dan saya sudah menyampaikan hal itu,” ujarnya. “Regulasi itu berasal dari era ketika sepak bola sangat berbeda, dan saya yakin ada dasar untuk menghapus diskriminasi tersebut. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan, misalnya lewat uji coba. Tapi saya tidak akan mundur dari pandangan yang sudah lama saya pegang. Saya tidak melihat bagaimana hal ini bisa disebut adil kalau sebagian suporter di satu cabang olahraga diperlakukan secara berbeda.”

Larangan Lama yang Berakar dari Era 1980-an

Aturan yang dibahas Burnham bukan kebijakan baru. Konsumsi alkohol di area yang memandang langsung ke lapangan sudah dilarang di lima divisi teratas sepak bola Inggris sejak era 1980-an, periode yang dikenal bermasalah karena berbagai persoalan kerusuhan dan ketertiban di stadion. Aturan itu bertahan sampai sekarang sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan pertandingan.

Konsekuensinya jelas terasa bagi penonton. Suporter yang haus harus menahan diri selama 45 menit pertama, lalu bergegas ke bar bersamaan dengan ribuan orang lain begitu turun minum. Antrean panjang untuk membeli minuman membuat waktu istirahat yang singkat terasa sangat mepet, karena mereka masih harus kembali ke kursi sebelum babak kedua dimulai.

Itulah salah satu alasan Burnham menilai situasi saat ini tidak nyaman dan tidak praktis bagi penonton. Alih-alih menikmati pertandingan secara santai, penggemar justru terjebak dalam perburuan minuman yang penuh tekanan waktu. Bagi pendukung gagasan ini, melonggarkan aturan justru bisa membuat pengalaman menonton lebih manusiawi dan tidak serba terburu-buru.

Argumen yang Mendukung Pelonggaran

Alasan paling sering dikemukakan adalah soal kesetaraan perlakuan antar cabang olahraga. Penggemar sepak bola menilai mereka satu-satunya kelompok penonton olahraga besar yang benar-benar dilarang menikmati minuman di tempat duduknya. Ketimpangan inilah yang dianggap sulit dijelaskan, terutama karena pertandingan kriket dan rugbi justru kerap dikaitkan dengan budaya menikmati minuman sambil menonton.

Asosiasi Suporter Sepak Bola mendukung usulan Burnham. Mereka menilai kebolehan membawa minuman ke tempat duduk, meski harganya mahal dan wadahnya tipis, akan sangat meningkatkan pengalaman hari pertandingan. Bagi mereka, hal sederhana seperti menikmati minuman sambil menyaksikan laga adalah bagian wajar dari pengalaman menonton olahraga secara langsung.

Dari sisi klub, dorongan ini juga sejalan dengan kepentingan komersial. Liga Premier dikabarkan terbuka terhadap gagasan apa pun yang bisa membantu klub anggotanya mengeruk tambahan pemasukan dari penonton. Dengan kata lain, wacana pelonggaran ini punya daya tarik ganda: di satu sisi soal kenyamanan suporter, di sisi lain soal potensi pendapatan baru bagi klub dan penyelenggara pertandingan.

Argumen yang Menolak: Keamanan dan Masalah Praktis

Penolakan paling keras datang dari pihak yang berkepentingan menjaga ketertiban. Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris menilai sepak bola punya persoalan kerusuhan dan perilaku kriminal dari sebagian kecil pendukung yang jarang ditemukan di cabang olahraga lain. Alkohol sering disebut berperan besar dalam insiden kekerasan dan gangguan ketertiban, sehingga memperbanyak akses minuman selama pertandingan dianggap langkah yang tidak bertanggung jawab.

“Cabang olahraga lain tidak melihat kekerasan dan perilaku kriminal dari pendukungnya seperti yang terjadi di sepak bola, meski hanya sebagian kecil, dan alkohol sering berperan besar dalam perilaku kekerasan serta gangguan ketertiban,” demikian pernyataan mereka. “Akan tidak bertanggung jawab bila hal itu dipicu lebih jauh dengan membolehkan konsumsi alkohol lebih besar selama pertandingan.”

Selain kekhawatiran keamanan, ada pula persoalan praktis yang mungkin muncul. Jika minuman boleh dibawa ke tempat duduk, penonton akan lebih sering berdiri dan duduk kembali untuk memberi jalan bagi orang lain yang bolak-balik ke bar atau toilet. Gangguan kecil seperti ini, yang sudah umum terlihat di pertandingan rugbi, bisa membuat pengalaman menonton justru terasa lebih melelahkan bagi penonton di sekitarnya.

Fenomena yang lebih baru juga menjadi pertimbangan, yakni kebiasaan melempar bir sebagai bentuk perayaan di stadion. Kebiasaan ini sama-sama berpotensi memicu kekacauan, dan hampir tidak ada orang yang ingin pulang dari pertandingan dalam kondisi basah kuyup karena minuman orang lain. Artinya, risiko yang dibahas bukan hanya soal kekerasan, tapi juga soal kenyamanan bersama di tribun.

Dampak dan Kemungkinan Langkah Berikutnya

Jika wacana ini bergerak maju, kemungkinan besar langkah pertama yang diambil adalah uji coba terbatas di sejumlah pertandingan, seperti yang disinggung Burnham. Skema semacam itu memungkinkan pihak berwenang memantau langsung dampaknya terhadap ketertiban, aliran penonton di tribun, serta perilaku suporter sebelum memutuskan apakah aturan bisa diubah secara permanen.

Bagi klub dan operator stadion, perubahan aturan berarti peluang bisnis baru yang nyata. Penjualan minuman di dalam area tribun bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang signifikan, terutama di laga-laga besar dengan jumlah penonton penuh. Namun, peluang itu harus dibayar dengan tanggung jawab pengamanan yang lebih besar, termasuk penambahan petugas dan pengaturan alur penonton yang lebih rapi.

Bagi pembaca dan penonton biasa, inti persoalannya sebenarnya sederhana: seberapa jauh kenyamanan pribadi bisa dibuka tanpa mengorbankan rasa aman bersama. Perdebatan soal alkohol di pertandingan sepak bola selalu berbenturan dengan dua hal itu. Selama keduanya belum bisa dipertemukan, wacana seperti yang diusulkan Burnham kemungkinan besar akan tetap menjadi perdebatan panjang, bukan kebijakan yang langsung berlaku.

Usulan Burnham membuka kembali diskusi lama tentang seberapa adil perlakuan terhadap suporter sepak bola dibanding penonton olahraga lain. Di satu sisi, larangan sejak era 1980-an dianggap sudah usang, sementara dukungan dari asosiasi suporter dan keterbukaan klub menunjukkan ada ruang untuk perubahan. Di sisi lain, kekhawatiran kepolisian soal kekerasan dan berbagai masalah praktis di tribun membuat pelonggaran tidak bisa dilakukan sembarangan.

Yang paling mungkin terjadi dalam waktu dekat bukanlah perubahan menyeluruh, melainkan pengujian bertahap dengan pengawasan ketat. Dengan begitu, siapa pun yang berkepentingan bisa melihat bukti nyata sebelum mengambil keputusan besar. Bagaimanapun, pertandingan sepak bola tetap seharusnya jadi pengalaman yang dinikmati semua orang, bukan ajang penuh ketegangan, baik di dalam maupun di luar lapangan.