,

Senat Meksiko Upayakan Promosi dan Degradasi Liga MX


Wacana soal absennya promosi dan degradasi Liga MX akhirnya masuk ke ruang Sidang Senat Meksiko. Para senator mengumumkan bahwa reformasi legislatif untuk memulihkan sistem tersebut akan diajukan pada Selasa, sebuah langkah yang menandai pertama kalinya persoalan ini dibawa ke level undang-undang. Usulan itu disampaikan Senator Clemente Castañeda dari Partai Movimiento Ciudadano dan mendapat dukungan dari perwakilan pimpinan partai lain, termasuk Ignacio Mier dari Partai Morena yang saat ini berkuasa.

Langkah ini penting karena sepak bola Meksiko sudah berjalan tanpa mekanisme naik dan turun kasta sejak klub-klub divisi teratas menghapusnya pada April 2020. Selama itu, protes dari klub divisi dua, pemain, hingga kelompok suporter terus bermunculan, sementara janji pengembalian sistem tak kunjung ditepati. Kini tekanan tidak hanya datang dari lapangan, tetapi juga dari senat dan otoritas antimonopoli negara.

Isi Proposal: Aturan Promosi dan Degradasi Liga MX Masuk Undang-Undang

Castañeda menyatakan bahwa inisiatif ini krusial untuk “secara tegas memasukkan prestasi olahraga di antara kewajiban yang harus dipatuhi asosiasi olahraga nasional”. Dengan begitu, promosi dan degradasi tidak lagi sekadar kesepakatan internal liga, melainkan dijamin oleh hukum Meksiko. Ia menilai aturan soal meritokrasi kompetisi perlu punya payung hukum yang kuat agar tidak bisa diubah sepihak oleh pemilik klub.

Menurut Castañeda, penutupan akses promosi bukan hanya mengubah satu aturan pertandingan. Ia menilai kebijakan itu turut memutus jalur bagi pemain, staf, dan proyek olahraga untuk berkembang di negara yang justru membutuhkan lebih banyak pembukaan kesempatan. “Ketika mereka menutup kemungkinan promosi, mereka tidak hanya mengubah aturan olahraga; mereka juga membatasi jalan bagi pemain, staf, dan proyek olahraga untuk tumbuh di negara yang perlu membuka peluang,” ujarnya.

Dalam prosesnya, Castañeda mengaku telah mengundang presiden Liga MX, Francisco Iturbide, serta komisioner sepak bola Meksiko, Mikel Arriola, untuk hadir. Namun, keduanya menolak undangan tersebut. Sementara itu, Associated Press telah menghubungi Federasi Sepak Bola Meksiko untuk meminta tanggapan, tetapi hingga berita ini disusun belum ada jawaban yang diterima.

Kronologi Janji Lima Tahun yang Tak Ditepati

Penghapusan promosi dan degradasi diumumkan pada April 2020 oleh para pemilik klub divisi teratas. Alasan yang dikemukakan saat itu adalah kesulitan keuangan klub-klub divisi dua yang diperparah pandemi Covid-19. Dalam rencana awal, penangguhan hanya berlaku lima tahun dan sistem dijadwalkan kembali pada tahun lalu, sehingga satu tim bisa meraih promosi dan satu tim lainnya terdegradasi pada akhir musim terakhir di bulan Mei tahun ini.

Namun, pengembalian itu tidak pernah terwujud. Sejak tahun lalu, sejumlah klub divisi dua mulai melakukan protes dan menuntut agar otoritas memenuhi kesepakatan yang sudah dibuat. Federasi Sepak Bola Meksiko saat itu menyatakan bahwa sistem belum bisa dikembalikan karena kondisi ekonomi yang dibutuhkan dinilai belum tercipta.

Pernyataan federasi itu mendapat bantahan keras dari kalangan klub. Presiden U de G Leones Negros, Alberto Castellanos, salah satu tim yang memprotes, menilai alasan pandemi hanyalah dalih. “Soal pandemi itu hanya alasan palsu; mereka selalu tahu bahwa mereka akan menutup promosi dan degradasi secara permanen,” katanya.

Syarat Berat dan Investor yang Kehilangan Harapan

Liga MX menerapkan persyaratan ketat bagi tim divisi dua yang ingin naik kasta, termasuk proses sertifikasi sebelum mereka boleh bercita-cita bermain di kasta tertinggi. Salah satu syaratnya adalah kapasitas stadion minimal 30.000 kursi, sebuah standar yang bahkan tidak dipenuhi semua klub divisi satu yang aktif. Ketentuan semacam ini dinilai memperlebar jurang antara dua kasta dan membuat promosi nyaris mustahil dijangkau.

Penghapusan promosi juga berdampak langsung pada investor baru yang masuk ke sepak bola Meksiko. Cancún FC diakuisisi pada 2022 oleh kelompok investasi yang dipimpin figur seperti mantan manajer umum Houston Astros, Jeff Luhnow, dengan premis bahwa promosi akan kembali diberlakukan. Harapan itu kini menggantung karena sistem yang mereka percayai justru dihapus dari regulasi.

Presiden klub, Giovani Solazzi, mengungkapkan kekecewaannya atas situasi tersebut. Menurutnya, timnya dibeli karena potensi besar yang dimiliki, potensi yang menurut dia sering tidak dilihat bahkan oleh orang Meksiko sendiri. “Sistem yang ada sekarang justru memelihara kemapanan dan mediokritas; itu sangat menyedihkan,” ujarnya.

Menghadapi penolakan dari sebagian pemilik klub divisi dua, otoritas sepak bola Meksiko pada tahun ini malah menghapus sistem promosi dan degradasi sepenuhnya dari regulasi. Baik Federasi maupun Liga MX tidak memberikan penjelasan apa pun atas keputusan tersebut.

Gelombang Protes di Lapangan dan Dukungan dari Klub Besar

Setelah promosi resmi dihapus, protes meluas di berbagai pertandingan divisi dua. Para pemain merespons di lapangan dengan berdiri tanpa bergerak setelah peluit pembuka dibunyikan, atau mengoper bola secara pasif tanpa berusaha menyerang. Aksi seperti ini membuat pertandingan kehilangan makna kompetitifnya, dan beberapa klub kemudian dikenai sanksi akibat protes tersebut.

Kiper asal Spanyol, Roberto Galán, mengungkapkan alasan di balik aksi itu. Ia mengaku tiba di Meksiko pada 8 Juni dengan premis akan ada promosi, bergabung dengan Morelia, tim yang sedang bersaing untuk naik kasta. “Lalu kami diberi tahu bahwa hal itu tidak akan terjadi,” katanya. Menurut Galán, protes akan terus berlanjut karena para pemain punya hak untuk menyuarakan pendapat, kendati klub-klub sudah dijatuhi sanksi.

Kelompok suporter juga ikut turun ke stadion dengan mengenakan kaus protes untuk menyampaikan ketidakpuasan mereka. Tekanan publik ini menambah beban bagi penyelenggara liga yang sejauh ini belum menunjukkan itikad mengembalikan sistem.

Di sisi lain, dukungan datang dari salah satu klub paling berpengaruh di Meksiko. Pemilik Club América pada bulan lalu menyatakan mendukung pengembalian sistem promosi dan degradasi, asalkan syarat yang tepat terpenuhi. Ia mengakui banyak pihak membandingkan Meksiko dengan Spanyol, Inggris, atau Portugal, tetapi menilai negara-negara itu memiliki divisi dua yang jauh lebih solid, sesuatu yang menurutnya belum berhasil dibangun di Meksiko.

Investigasi Antimonopoli dan Implikasinya bagi Liga

Pekan lalu, Komisi Antimonopoli Nasional Meksiko (CNA) membuka investigasi atas dugaan praktik monopoli di liga sepak bola Meksiko, dengan fokus pada absennya sistem promosi dan degradasi. Langkah ini menjadikan persoalan tersebut bukan lagi sekadar urusan internal federasi, melainkan juga perkara hukum persaingan usaha. Bila investigasi menemukan pelanggaran, otoritas berpotensi memaksa perubahan tata kelola liga.

Bagi klub divisi dua, hilangnya promosi berarti tertutupnya jalur pertumbuhan yang paling nyata, baik dari sisi sportif maupun komersial. Tanpa kemungkinan naik kasta, nilai investasi klub menurun, sponsor kehilangan insentif, dan pemain kehilangan panggung untuk menunjukkan kualitas di level tertinggi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memperlebar ketimpangan antara klub besar dan klub kecil.

Bagi Liga MX sendiri, menghapus promosi dan degradasi memang memberi rasa aman bagi klub-klub anggotanya, tetapi sekaligus menghilangkan salah satu sumber ketegangan kompetitif yang membuat liga menarik. Tanpa ancaman degradasi, tim papan bawah tidak punya dorongan kuat untuk berbenah, sementara tim divisi dua tidak punya tujuan akhir yang jelas untuk diperjuangkan.

Yang lebih luas, kasus ini menyoroti bagaimana keputusan sekelompok pemilik klub bisa menentukan nasib banyak pemain, staf klub, dan komunitas suporter. Undang-undang dan investigasi antimonopoli menjadi dua jalur berbeda yang kini sama-sama mendesak agar meritokrasi olahraga dipulihkan. Hasil dari keduanya akan menentukan arah sepak bola Meksiko dalam beberapa tahun mendatang.

Secara garis besar, upaya Senat Meksiko mengembalikan promosi dan degradasi Liga MX menandai babak baru dalam perdebatan yang sudah berjalan sejak 2020. Reformasi legislatif, desakan klub divisi dua, protes pemain, dan investigasi antimonopoli menunjukkan bahwa persoalan ini sudah melampaui urusan teknis kompetisi. Yang dipertaruhkan bukan hanya format liga, tetapi juga keadilan bagi mereka yang berusaha naik kasta lewat prestasi.

Keputusan akhir masih bergantung pada pembahasan di senat dan hasil investigasi CNA, serta sejauh mana Liga MX dan federasi bersedia melunak. Jika reformasi disahkan, Meksiko bisa kembali memiliki jalur naik dan turun kasta yang dijamin hukum, bukan sekadar janji yang bisa dibatalkan kapan saja. Sebaliknya, bila semua tekanan ini gagal, akan semakin sulit meyakinkan bahwa sepak bola Meksiko benar-benar terbuka bagi semua pihak.